Ledakan Terdengar di Iran, AS Mulai Serangan Baru Usai Helikopter Apache Jatuh

AKURAT BANTEN - Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer ke Iran setelah insiden jatuhnya helikopter AH-64 Apache Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz.
Namun, respons yang diberikan Presiden AS Donald Trump sejauh ini masih terbatas dan belum mengarah pada operasi besar-besaran seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.
Militer AS mengonfirmasi bahwa serangan lanjutan telah dimulai.
Dalam pernyataan resminya, disebutkan bahwa: “Pasukan Komando Pusat AS mulai melancarkan serangan pertahanan diri tambahan hari ini pukul 17.15 ET terhadap beberapa target di Iran atas arahan Panglima Tertinggi. Serangan tersebut sebagai tanggapan terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan.”
Baca Juga: Bahlil Pastikan Harga Pertalite dan LPG 3 Kg Tak Naik, Ini Perintah Langsung Prabowo
Langkah tersebut diambil setelah Amerika Serikat menuding Iran bertanggung jawab atas serangan drone yang menyebabkan helikopter Apache AS jatuh di kawasan strategis Selat Hormuz.
Meski demikian, Washington tidak memilih untuk menghidupkan kembali kampanye udara berskala penuh yang menyerupai Operasi Epic Fury pada awal tahun ini.
Sebagai gantinya, Trump hanya menyetujui serangan terbatas yang menyasar sejumlah infrastruktur militer Iran, termasuk fasilitas radar dan lokasi peluncuran rudal.
Kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintahannya ingin memperlihatkan kesiapan untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran tanpa harus menanggung biaya besar dan risiko tinggi dari perang terbuka yang lebih luas.
Baca Juga: Selat Hormuz Lumpuh 95 Persen, Mengapa Harga Minyak Dunia Tak Kunjung Meledak?
Pada Rabu, Trump juga menyampaikan melalui Truth Social bahwa Iran telah terlalu lama melakukan negosiasi tanpa menghasilkan kesepakatan damai.
Ia memperingatkan bahwa rezim tersebut akan " membayar harganya ".
Meski operasi militer kembali berjalan, muncul pertanyaan mengenai seberapa lama strategi ini dapat dipertahankan.
Kendati pemerintahan Trump ingin menunjukkan sikap tegas terhadap Iran, presiden sejauh ini dinilai masih enggan melancarkan kampanye pengeboman besar-besaran karena biaya yang sangat tinggi dan potensi kerentanan yang dapat ditimbulkan bagi Amerika Serikat.
Baca Juga: Persiapan Haji 2027 Resmi Dimulai, Kemenhaj Siapkan Transformasi Besar Pelayanan Jemaah
Komando Pusat AS sebelumnya mengungkapkan bahwa serangkaian "serangan pertahanan diri" telah dilakukan pada Selasa malam sebagai respons atas insiden jatuhnya helikopter Apache sehari sebelumnya.
Trump kemudian menjelaskan bahwa sebuah drone Iran sempat tersangkut pada badan pesawat, namun tidak meledak.
Kondisi itu memungkinkan dua awak di dalam helikopter menyelamatkan diri.
Keduanya akhirnya berhasil dievakuasi dan diselamatkan menggunakan drone angkatan laut tak berawak milik Amerika Serikat.
Baca Juga: Menhan Sjafrie Tinjau Proyek Mobil Nasional di Subang, Target Produksi 300 Ribu Unit per Tahun
Rangkaian serangan AS kali ini memang sengaja dibuat terbatas.
Sasaran utamanya berada di sekitar Selat Hormuz, termasuk landasan pacu dan fasilitas militer.
Intensitasnya jauh lebih kecil dibandingkan Operasi Epic Fury maupun ancaman Trump sebelumnya untuk membom Iran " hingga kembali ke Zaman Batu ".
Meski demikian, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa operasi militer belum berakhir.
Baca Juga: Indonesia Bersinar di WSIS Prizes 2026, 3 Inovasi Digital Ini Bikin Dunia Kagum
Berbicara dari markas CENTCOM pada Rabu sore, Hegseth mengatakan bahwa “CENTCOM akan sibuk malam ini karena presiden telah mengatakan bahwa kita akan menyerang Iran dengan keras.”
Pernyataan tersebut memperkuat dugaan bahwa Washington masih ingin mempertahankan opsi eskalasi.
Namun, tujuan utamanya tampaknya bukan untuk memulai perang regional yang berkepanjangan, melainkan menunjukkan kemampuan dan kesiapan Amerika Serikat untuk meningkatkan tekanan jika diperlukan.
Beberapa jam setelah pukul 17.00 waktu Timur AS, sejumlah laporan intelijen sumber terbuka menyebutkan adanya ledakan di wilayah Iran.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Perpres AI, Meutya Hafid Soroti Ancaman Data dan Adiksi Digital
Akun @Osint613 yang memiliki lebih dari satu juta pengikut di platform X melaporkan suara ledakan terdengar di Bandar Abbas.
Di saat yang sama, beredar pula laporan mengenai kemungkinan serangan balasan dari Iran.
Namun hingga kini, National Security Journal menyatakan belum dapat memverifikasi informasi tersebut secara independen.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 5Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 6Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 7Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 8Man City Dihantam Kasus Finansial, Steven Gerrard Angkat Suara: Bukan Degradasi, Hukuman Ini yang Harus Diterima!
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!









