Gempa M6,7 Guncang Palu dan Sigi, 90 Kali Gempa Susulan Terjadi, Badan Geologi Ungkap Penyebabnya

AKURAT BANTEN - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Palu dan Sigi, Sulawesi Tengah, pada Selasa (16/6/2026), menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan dan memicu sedikitnya 90 gempa susulan.
Meski berada di kawasan rawan gempa menengah hingga tinggi, peristiwa ini dipastikan tidak menimbulkan tsunami.
Gempa terjadi pada pukul 10.27.44 WIB atau 11.27.44 Wita.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter berada pada koordinat 1,04 LS dan 120,23 BT di wilayah tenggara Kota Palu, Sulawesi Tengah.
Baca Juga: Dosen UAJY Dipecat Usai Soroti Dugaan Publikasi di Jurnal Predator, Kini Tempuh Jalur Hukum
Gempa memiliki magnitudo 6,7 dengan kedalaman hiposenter 10 kilometer.
Sementara itu, data dari GFZ (GeoForschungsZentrum) mencatat episenter berada pada koordinat 1,156 LS dan 120,27 BT dengan magnitudo 6,3 serta kedalaman hiposenter yang sama, yakni 10 kilometer.
Menurut analisis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, gempa ini diduga berkaitan dengan aktivitas Sesar Palolo yang membentang dengan arah barat laut–tenggara dan memiliki mekanisme sesar normal.
PVMBG menjelaskan bahwa pusat gempa berada di daratan.
Baca Juga: Kesepakatan AS-Iran Makin Dekat, Mengapa Israel Justru Merasa Kalah?
Wilayah di sekitar episenter memiliki morfologi yang beragam, mulai dari dataran, perbukitan, pegunungan, hingga kawasan bergelombang dan berombak.
Secara geologi, daerah tersebut tersusun atas Batuan Terobosan dan Batuan Metamorf berumur Pra-Tersier, Batuan Terobosan dan Batuan Metamorf berumur Tersier, serta Batuan Sedimen berumur Kuarter.
Kondisi batuan yang telah mengalami pelapukan maupun keberadaan sedimen permukaan dinilai berpotensi memperkuat efek guncangan gempa yang dirasakan masyarakat.
Berdasarkan data tapak lokal Vs30, wilayah di sekitar pusat gempa termasuk dalam Kelas Tanah C atau tanah sangat padat dan batuan lunak, Kelas Tanah D atau tanah sedang, serta Kelas Tanah E yang merupakan tanah lunak.
Baca Juga: Diterima Gibran di Istana Wapres, Mahasiswa Beri Tenggat 5 Hari untuk Realisasi Tuntutan
Menurut Pusat Vulkanologi, keberadaan tanah yang lebih lunak dapat menyebabkan guncangan gempa terasa lebih kuat dibandingkan wilayah dengan kondisi tanah yang lebih padat.
Dampak gempa dilaporkan terjadi di sejumlah daerah.
Di Kabupaten Sigi, gempa menyebabkan kerusakan pada Kantor Bupati Sigi serta memicu longsor yang merusak beberapa rumah warga.
Di Kota Palu, kerusakan terjadi pada Auditorium Universitas Tadulako, Jembatan III Palu, dan beberapa bangunan hotel.
Sementara di Mamuju, Sulawesi Barat, salah satu dealer mobil juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat guncangan.
Hingga laporan ini disusun, gempa utama telah diikuti setidaknya 90 gempa susulan.
Wilayah yang merasakan dampak guncangan paling kuat adalah Kota Palu dengan intensitas VI-VII MMI (Modified Mercalli Intensity). Kabupaten Sigi mengalami intensitas V-VI MMI.
Guncangan dengan intensitas III MMI tercatat di Polewali Mandar, Mamasa, Mamuju, dan Pasangkayu.
Baca Juga: Konflik AS-Iran Menuju Akhir? Indonesia Sambut Kesepakatan Damai yang Bakal Ubah Timur Tengah
Sementara intensitas II-III MMI dirasakan di Pinrang, Parepare, Pohuwato, Boalemo, Gorontalo Utara, Majene, Kabupaten Gorontalo, Kota Gorontalo, Luwu Utara, serta sejumlah wilayah lainnya.
Adapun Kabupaten Wajo mengalami guncangan dengan intensitas II MMI.
Menyikapi kondisi tersebut, PVMBG mengeluarkan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat.
Warga diminta tetap tenang, mengikuti arahan petugas BPBD setempat, serta mewaspadai kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Baca Juga: Seskab Teddy Unggah Momen TNI-Polri Bersihkan Bekas Demo, Publik Soroti Sikap Aparat
Masyarakat juga diimbau tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait gempa maupun potensi tsunami.
Selain itu, warga diharapkan memeriksa kondisi bangunan secara mandiri setelah gempa, memperhatikan rambu-rambu evakuasi, serta menjauhi area tebing yang berpotensi mengalami pergerakan tanah, terutama saat hujan turun.
PVMBG juga mengingatkan bahwa gempa ini telah memicu sejumlah bahaya ikutan, seperti retakan tanah, penurunan muka lahan, dan gerakan tanah.
Oleh karena itu, bangunan yang berada di kawasan rawan gempa disarankan menerapkan standar konstruksi tahan gempa dan dilengkapi jalur evakuasi guna mengurangi risiko kerusakan maupun korban saat bencana terjadi.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”









