Messi Menggila Lawan Aljazair, Statistik Justru Bongkar Fakta Mengejutkan tentang Argentina

AKURAT BANTEN - Setelah Argentina tampil gemilang pada laga pembuka Piala Dunia 2026, nama Lionel Messi kembali menjadi sorotan utama.
Kapten tim berjuluk Albiceleste itu mencetak hat-trick ke gawang Aljazair dan membawa negaranya meraih kemenangan meyakinkan.
Penampilan luar biasa tersebut memicu gelombang pujian dari berbagai pihak.
Namun di balik apresiasi yang mengalir, muncul pula perdebatan mengenai dugaan ketergantungan berlebihan Argentina terhadap Messi.
Anggapan itu muncul karena seluruh gol tim dalam pertandingan tersebut dicetak oleh pemain berusia 38 tahun tersebut, sehingga menimbulkan kesan bahwa setiap masalah di lapangan bisa diselesaikan hanya dengan menyerahkan bola kepadanya.
Meski demikian, menilai Argentina hanya dari hasil satu pertandingan dan menyimpulkan bahwa mereka sepenuhnya bergantung pada Messi merupakan pandangan yang kurang tepat.
Tidak dapat dimungkiri bahwa Messi selalu memiliki kemampuan untuk menentukan hasil laga besar.
Bahkan, banyak yang menganggapnya sebagai sosok yang berbeda dari pemain sepak bola lain di dunia.
Baca Juga: BEM Bersatu Diterpa Kontroversi, Sejumlah Kampus Bantah Keterlibatan dan Sebut Ada Nama Fiktif
Namun, Argentina saat ini bukan lagi tim yang hanya hidup dari keajaiban sang megabintang.
Data statistik menunjukkan bahwa dalam 70 pertandingan di bawah arahan pelatih Lionel Scaloni, Argentina mencatat persentase kemenangan sebesar 76 persen ketika Messi bermain.
Menariknya, dalam 24 pertandingan saat pemain Inter Miami tersebut tidak tampil, Albiceleste tetap mampu meraih tingkat kemenangan 75 persen.
Perbedaan angka tersebut sangat tipis dan menunjukkan bahwa performa Argentina tetap stabil, baik ketika Messi berada di lapangan maupun saat ia absen.
Artinya, tim asal Amerika Selatan itu memang sangat kuat bersama Messi, tetapi tetap kompetitif tanpa dirinya.
Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Pada babak kualifikasi Piala Dunia 2018 misalnya, Argentina hanya mampu meraih satu kemenangan dari delapan pertandingan ketika Messi tidak bermain.
Bahkan mereka nyaris gagal lolos sebelum sang bintang mencetak hat-trick dalam kemenangan 4-1 atas Ekuador pada laga penentuan.
Situasi itulah yang bisa disebut sebagai ketergantungan nyata terhadap satu pemain.
Kini keadaan sudah berubah. Argentina tetap mampu tampil solid meskipun tanpa kapten mereka.
Sepanjang kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Amerika Selatan, Scaloni harus menjalani enam pertandingan tanpa mantan pemain Barcelona tersebut, atau sekitar sepertiga dari total laga yang dimainkan.
Meski begitu, Argentina tetap menunjukkan kualitas terbaiknya dan berhasil lolos ke Amerika Utara sebagai juara grup.
Fakta tersebut menjadi bukti bahwa skuad Argentina saat ini memiliki kedalaman dan kualitas yang jauh lebih merata.
Mereka tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada kemampuan Messi.
Nama-nama seperti Julian Alvarez, Lautaro Martinez, Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, Rodrigo De Paul, hingga pemain lainnya mampu mengambil peran penting ketika tim membutuhkannya.
Di era kepelatihan Scaloni, tim nasional Argentina bukan lagi sekadar kumpulan pemain yang mendukung Messi.
Mereka berkembang menjadi satu kesatuan tim yang kuat dengan Messi sebagai sumber inspirasi utama.
Di sisi lain, muncul pertanyaan menarik: mengapa Argentina tidak boleh memaksimalkan Messi selama ia masih mampu tampil luar biasa?
Dalam sepak bola modern, setiap pelatih tentu akan berusaha mengoptimalkan kualitas pemain terbaik yang dimilikinya.
Prancis mengandalkan Kylian Mbappe, Portugal bertumpu pada Cristiano Ronaldo, sementara Brasil berharap banyak pada kreativitas Vinicius Junior.
Karena itu, ketergantungan terhadap pemain bintang tidak selalu memiliki konotasi negatif.
Dalam banyak kasus, keberadaan pemain seperti itu justru menjadi keuntungan besar bagi sebuah tim.
Ketergantungan baru menjadi masalah ketika seluruh permainan hanya berisi harapan agar satu individu mampu menciptakan keajaiban tanpa dukungan sistem yang jelas.
Namun kondisi tersebut tidak terjadi pada Argentina saat ini.
Mereka memberikan bola kepada Messi bukan karena kehabisan pilihan, melainkan karena hal itu sering kali menjadi keputusan terbaik dalam situasi tertentu.
Oleh sebab itu, menyebut Argentina sebagai tim yang hanya bergantung pada satu pemain terasa kurang adil.
Mereka tetap mampu meraih kemenangan tanpa Messi, memiliki sistem permainan yang matang, serta diperkuat banyak pemain yang bisa menjadi pembeda di lapangan.
Yang membuat situasi ini semakin istimewa adalah para pemain Argentina tidak menganggap bermain demi Messi sebagai sebuah beban.
Sebaliknya, mereka merasa bangga melakukannya.
Bagi generasi saat ini, Messi bukan sekadar kapten tim, tetapi juga simbol dan sumber inspirasi yang telah membawa mereka melewati kegagalan, tekanan, kritik, hingga akhirnya meraih puncak kejayaan.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”









