Ilmuwan Indonesia Temukan Cara Baru Melacak Hiu Berjalan di Raja Ampat Tanpa Menyelam

AKURAT BANTEN - Saat malam menyelimuti perairan, seekor hiu kecil dengan panjang kurang dari satu meter bergerak perlahan di antara hamparan padang lamun.
Mengandalkan siripnya sebagai alat bantu, predator unik ini menyusuri dasar laut untuk mencari mangsa.
Hewan tersebut dikenal sebagai hiu karpet berbintik Indonesia, salah satu dari enam spesies hiu berjalan yang hidup di Indonesia.
Spesies ini bersifat endemik dan hanya ditemukan di kawasan Kepulauan Raja Ampat.
Baca Juga: MSCI Kembali Soroti Pasar Indonesia, Ancaman Dana Rp 211 Triliun Keluar dan Status Turun Makin Nyata
Meski seluruh spesies hiu berjalan telah mendapat perlindungan di Indonesia, para peneliti masih menghadapi tantangan dalam memetakan penyebarannya.
Aktivitas hiu yang lebih banyak dilakukan pada malam hari serta kebiasaannya bersembunyi di celah-celah terumbu karang membuat keberadaan mereka sulit diamati secara langsung.
Untuk mengatasi kendala tersebut, para ilmuwan Indonesia mengembangkan metode baru yang memungkinkan deteksi hiu berjalan di perairan Raja Ampat hanya melalui sampel air laut.
Teknik ini bekerja dengan mengidentifikasi jejak materi genetik yang ditinggalkan hiu di dalam air.
Baca Juga: Kabar Gembira! Ancol, Ragunan, MRT dan TransJakarta Gratis Selama Perayaan HUT Jakarta
Dengan cara tersebut, peneliti dapat mengetahui keberadaan hiu tanpa harus melakukan penyelaman atau survei malam hari di terumbu karang.
Informasi yang diperoleh kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengelolaan dan perencanaan kawasan konservasi.
Riset ini melibatkan tim peneliti dari lembaga nirlaba Elasmobranch Institute Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Konservasi Indonesia, serta sejumlah mitra lainnya.
Dalam proses penelitian, para ilmuwan mengambil sekitar tiga hingga lima liter air laut dari lokasi pengamatan.
Sampel tersebut kemudian dianalisis di laboratorium untuk mendeteksi DNA lingkungan atau environmental DNA (eDNA).
eDNA merupakan fragmen kecil materi genetik yang ditinggalkan organisme hidup di dalam air, seperti sel kulit, lendir, maupun kotoran.
Karena setiap spesies memiliki jejak genetik yang berbeda, fragmen tersebut dapat berfungsi layaknya “sidik jari” biologis yang membantu ilmuwan mengidentifikasi makhluk yang hidup di suatu perairan.
Untuk mendeteksi hiu berjalan secara lebih akurat, peneliti BRIN mengembangkan primer genetik baru yang mampu mengenali gen khas kelompok hiu berjalan meskipun jumlahnya sangat sedikit.
Ilmuwan konservasi utama Elasmobranch Institute Indonesia, Edy Setyawan, menjelaskan bahwa metode ini dirancang sebagai pelengkap survei lapangan dan dapat membantu pemetaan sebaran hiu berjalan sekaligus memastikan keberadaan spesies tersebut sebelum survei dilakukan.
“Sekarang kita dapat mendeteksi hiu-hiu ini bahkan ketika mereka tidak terlihat secara langsung, termasuk pada siang hari,” kata Edy.
“Ini menghemat banyak waktu dalam hal menentukan distribusi hewan-hewan tersebut dalam skala besar di berbagai wilayah,” tambahnya.
Menurut Edy, metode tersebut juga membantu mengurangi risiko pertemuan dengan satwa laut lain yang berpotensi berbahaya, seperti buaya air asin dan ikan pari, yang kerap ditemui selama kegiatan survei.
Saat ini terdapat sembilan spesies hiu berjalan yang telah diketahui di dunia.
Penyebarannya terbatas di wilayah Indonesia timur, Papua Nugini, serta Australia bagian utara dan timur.
Habitat utama mereka meliputi kawasan mangrove pesisir, terumbu karang, dan padang lamun.
Keunikan hiu berjalan terletak pada kemampuan bergeraknya di dasar laut menggunakan sirip dada dan sirip perut yang berada di sisi serta bagian bawah tubuhnya, sehingga terlihat seperti sedang berjalan.
Manajer Senior Konservasi Spesies Fokus Konservasi Indonesia, Mochamad Iqbal Herwata Putra, mengatakan bahwa spesies hiu berjalan di Indonesia memiliki status konservasi yang beragam, mulai dari kategori aman hingga rentan.
Karena itu, pendekatan perlindungan yang diterapkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing spesies.
“Karena hiu karpet berbintik Indonesia merupakan spesies endemik, mereka unik dan fungsi ekologisnya mungkin tidak dapat digantikan oleh spesies lain,” ujar Iqbal.
Ia menambahkan bahwa hiu berjalan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan di ekosistem terumbu karang sebagai predator.
Selain itu, spesies ini memiliki kemampuan bertahan pada suhu perairan yang lebih tinggi, sehingga berpotensi menjadi indikator ketahanan ekosistem laut terhadap dampak perubahan iklim.
Sementara itu, peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Danang Prabowo, yang turut mengembangkan panduan penelitian tersebut bersama dua rekannya, mengungkapkan tantangan saat melakukan survei visual hiu berjalan.
“Ketika saya berpartisipasi dalam survei visual untuk hiu berjalan, itu benar-benar pekerjaan yang melelahkan karena kami harus bangun larut malam dan mencari hiu selama berjam-jam. Dengan pengembangan penanda ini, upaya pemantauan hiu berjalan menjadi sangat terbantu,” papar Danang.
“Ini adalah metode yang sangat sederhana, tetapi kita dapat mendeteksi semuanya tanpa melihatnya atau pergi ke lapangan untuk survei jangka panjang,” tuturnya.
Ke depan, metode ini akan diterapkan untuk mendeteksi dan memetakan persebaran hiu berjalan di wilayah lain, termasuk Halmahera dan Papua Nugini, pada akhir 2026.
“Keberhasilan pengembangan metode ini membuat saya sangat bahagia – dibutuhkan lebih dari 1,5 tahun kerja dan kolaborasi dengan berbagai orang. Ini juga merupakan hal yang baik bagi Indonesia, karena kita mengembangkan metode ini sendiri,” ungkap Edy.
“Kita sering lupa bahwa setiap hewan dalam ekosistem laut dan darat memiliki peran yang tidak kita pahami, jadi penting bagi kita untuk melihat lebih dekat pentingnya setiap hewan dan memahami bahwa mereka ada di sana untuk suatu tujuan,” pungkasnya.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 6Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026








