Banten

Harga Emas Dunia Turun Tajam ke US$4.002, Analis Ungkap Nasib Logam Mulia Berikutnya

Viona Sebastian Nolani | 25 Juni 2026, 10:47 WIB
Harga Emas Dunia Turun Tajam ke US$4.002, Analis Ungkap Nasib Logam Mulia Berikutnya
Ilustrasi emas. (Jingming Pan /Unsplash)

AKURAT BANTEN - Harga emas dunia mengalami tekanan besar dalam perdagangan 24 Juni waktu AS.

Harga emas spot tercatat anjlok hingga $124 menjadi $3.971 per ons, sekaligus menjadi pertama kalinya harga logam mulia tersebut kembali berada di bawah level psikologis $4.000 per ons sejak November 2025.

Meski sempat mengalami pemulihan ke level $4.044 per ons, harga emas kembali melemah akibat tekanan aksi ambil untung dari para investor.

Saat ini, harga emas spot tercatat turun tajam sebesar $106 ke kisaran $4.002 per ons.

Baca Juga: Trump Mulai Bela Zelensky? Pernyataan Terbarunya Soal Perang Ukraina Jadi Sorotan Dunia

Setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi sepanjang masa di angka $5.594,82 per ons pada akhir Januari, harga emas kini telah terkoreksi lebih dari $1.500 per ons.

Selain aksi jual oleh investor, penguatan dolar AS turut menjadi faktor utama yang menekan harga emas.

Mengingat emas diperdagangkan menggunakan mata uang dolar AS, kenaikan nilai dolar membuat logam mulia tersebut menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Dalam perkembangan terbaru, para pelaku pasar mulai memperbesar peluang bahwa Federal Reserve AS (Fed) akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya pada tahun ini.

Baca Juga: Julian Alvarez Buka Pintu Hengkang dari Atletico Madrid, Barcelona Siap Tebus 120 Juta Euro

Hal tersebut terjadi setelah bank sentral memberikan sinyal hawkish dalam pertemuan kebijakan terakhirnya.

Di sisi lain, kekhawatiran terkait dampak inflasi akibat konflik Iran juga masih menjadi perhatian pasar.

Tai Wong, seorang pedagang logam mulia independen, menyebut bahwa perkiraan pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Fed paling cepat pada September, ditambah dolar AS yang menguat hingga level tertinggi dalam 13 bulan serta ekspektasi inflasi yang melandai, telah memberikan tekanan besar terhadap harga logam mulia.

Ia menjelaskan bahwa untuk emas, area support berada sedikit di bawah level $3.900 /ounce, sementara pembelian emas oleh bank sentral masih terus berlangsung.

Kondisi tersebut membuat potensi penurunan harga secara ekstrem dinilai cukup terbatas. 

"Namun, pasar mungkin harus melalui fase konsolidasi yang berkepanjangan karena emas tidak lagi disukai investor seperti dulu," tegas pakar tersebut.

Melihat kondisi pasar saat ini, para analis ING melakukan revisi terhadap proyeksi harga emas.

Mereka memangkas perkiraan harga rata-rata emas pada kuartal ketiga 2026 menjadi $4.300 per ons, dari prediksi sebelumnya sebesar $4.850 per ons.

Sementara itu, harga rata-rata emas pada kuartal keempat 2026 diperkirakan berada di level $4.600 per ons, turun dari estimasi awal sebesar $5.000 per ons.

Penurunan proyeksi ING didasarkan pada pandangan bahwa dolar AS yang semakin kuat serta kemungkinan berlangsungnya periode suku bunga tinggi dalam waktu lama akan menjadi tantangan besar bagi pergerakan harga emas dalam beberapa bulan ke depan.

Sementara itu, harga logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan.

Harga perak spot turun 4,84% menjadi $58,48 per ons, platinum melemah 4,35% ke level $1.583 per ons, sedangkan paladium terkoreksi 5% menjadi $1.153 per ons.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.