Banten

Meski Ratusan Kapal Sudah Melintas, Pertamina Masih Tahan 2 Tankernya di Selat Hormuz

Viona Sebastian Nolani | 26 Juni 2026, 03:30 WIB
Meski Ratusan Kapal Sudah Melintas, Pertamina Masih Tahan 2 Tankernya di Selat Hormuz
Ilustrasi kapal tanker melintasi Selat Hormuz. (iStock)

AKURAT BANTEN - Dua kapal tanker milik Pertamina masih tertahan di Teluk Arab dan belum mendapat izin untuk melintasi Selat Hormuz, meski aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan setelah adanya kemajuan dalam pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Kapal Pertamina Pride dan Gamsunoro yang dioperasikan PT Pertamina International Shipping (PIS) hingga kini tetap berada di posisi tunggu.

Perusahaan energi pelat merah itu memilih bersikap hati-hati sambil menunggu hasil evaluasi keamanan terbaru sebelum mengizinkan kedua kapal berlayar melalui salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia tersebut.

Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina Muhammad Baron membenarkan bahwa kedua kapal masih berada di kawasan Teluk Arab.

Baca Juga: Indonesia-China Percepat Tinggalkan Dolar AS, Transaksi Rupiah dan Renminbi Tembus US$13 Miliar

Ia juga menyambut positif perkembangan diplomatik yang diharapkan dapat menciptakan stabilitas di kawasan Timur Tengah.

“Pertamina menyambut baik setiap perkembangan yang mengarah pada stabilitas dan perdamaian di Timur Tengah, termasuk pembukaan jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz sebagai jalur distribusi energi global yang strategis,” kata Baron kepada The Jakarta Post pada hari Rabu.

Menurut Baron, kondisi kedua kapal saat ini aman.

Namun, Pertamina belum akan menginstruksikan kapal-kapal tersebut untuk melintasi Selat Hormuz sebelum menerima penilaian risiko menyeluruh serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait.

Baca Juga: AS dan Iran Catat Kemajuan Besar di Swiss, Qatar dan Pakistan Sepakat Jaga Momentum Perdamaian

“Mengenai rencana untuk melintasi Selat Hormuz, keputusan operasional akan dibuat berdasarkan hasil penilaian risiko terbaru dan rekomendasi dari otoritas terkait,” katanya.

Sikap waspada tersebut mencerminkan masih rapuhnya kondisi keamanan di Teluk Arab.

Kawasan ini merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia sehingga setiap gangguan berpotensi memengaruhi pasar energi global.

Pertamina juga terus memantau perkembangan situasi dengan berkoordinasi bersama Kementerian Luar Negeri, Kedutaan Besar Indonesia di Teheran, otoritas setempat, serta mitra internasional guna memastikan keselamatan pelayaran dan kesiapan operasional armada.

Baca Juga: Siapa Ginka Febriyanti? Sosok Komisaris Muda Pertamina Retail yang Jadi Perbincangan

Baron menegaskan bahwa keselamatan awak kapal dan keamanan aset perusahaan tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan yang diambil.

“Pertamina terus memprioritaskan keselamatan awak dan keamanan aset dalam semua keputusan operasional,” katanya.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia meningkatkan komunikasi diplomatik dengan Iran melalui Kedutaan Besar RI di Teheran.

Langkah ini dilakukan karena sekitar 20 persen impor minyak mentah Indonesia bergantung pada jalur Selat Hormuz.

Baca Juga: DPR Usul Gaji Guru Minimal Rp5 Juta, Prabowo Ungkap Penyebab Kesejahteraan Guru Belum Optimal

Namun hingga kini, upaya tersebut belum menunjukkan hasil signifikan, meski Iran telah memberikan izin pelayaran kepada sejumlah negara lain, termasuk Malaysia.

Sementara itu, lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai bergerak kembali pasca-kesepakatan penghentian perang antara AS dan Iran.

Berdasarkan laporan BBC, sedikitnya 172 kapal telah melintasi selat tersebut sejak kesepakatan tercapai.

Data perusahaan intelijen maritim Kpler menunjukkan sebanyak 42 kapal melintas hanya pada hari Sabtu.

Baca Juga: Indonesia Mulai Awasi Influencer Keuangan, Ini Aturan Baru OJK yang Bisa Ubah Dunia Investasi Digital

BBC juga mencatat sebagian besar kapal yang berhasil melewati jalur perairan itu dalam beberapa hari terakhir memiliki keterkaitan dengan Iran.

Kondisi tersebut terjadi setelah Washington mencabut blokade angkatan laut sebagai bagian dari kesepakatan damai yang dicapai kedua negara.

Meski demikian, volume pelayaran saat ini masih berada di bawah kondisi normal sebelum konflik berlangsung.

Sebelumnya, rata-rata terdapat sekitar 138 kapal yang melintasi Selat Hormuz setiap hari.

Baca Juga: Iran Tantang AS Usai Perjanjian Islamabad, Ghalibaf Sebut AS Mengalami Kegagalan Besar

Data yang dikutip AFP menunjukkan setidaknya 37 kapal melintas pada Senin, termasuk lima kapal tanker gas alam cair (LNG) yang sedang kosong.

Sementara itu, data terpisah dari penyedia intelijen pelayaran AXSMarine mencatat jumlah yang lebih tinggi, yakni 42 kapal komersial, termasuk kapal kontainer.

“Ini mungkin salah satu tanda paling jelas sejauh ini tentang normalisasi lalu lintas yang bersifat sementara,” kata analis AXSMarine, Mihail Todorov, kepada AFP.

Pergerakan kapal terus berlanjut hingga Selasa.

Baca Juga: Ketegangan AS-Iran Belum Reda, Oman Siapkan Jalur Aman Baru di Selat Hormuz

Reuters melaporkan dua kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (VLCC) milik Trafigura, masing-masing mengangkut 2 juta barel minyak mentah, berhasil keluar dari Selat Hormuz.

Meski aktivitas pelayaran mulai meningkat, analisis BBC Verify terhadap data pelacakan kapal menunjukkan lebih dari 200 kapal tanker masih menunggu untuk melintasi jalur perairan strategis tersebut.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.