Ramai Dugaan PHK Karyawan Tokopedia dan TikTok, Said Iqbal: Negara Harus Hadir Lindungi Pekerja

AKURAT BANTEN - Pemerintah diketahui akan turun langsung menyelidiki ramainya isu terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dikabarkan terjadi di Tokopedia dan TikTok.
Langkah ini diambil menyusul beredarnya informasi mengenai dugaan PHK terhadap sekitar 90 persen karyawan perusahaan e-commerce tersebut.
Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, mengatakan dirinya tengah mengatur jadwal untuk bertemu dengan perwakilan pekerja maupun pihak manajemen perusahaan guna memperoleh gambaran yang utuh terkait persoalan tersebut.
Baca Juga: Jokowi Ditantang Hadir di Sidang Kasus Ijazah, Kuasa Hukum Dokter Tifa 'Buktikan Kerugiannya'
"Kita tidak boleh hanya mendengar dari satu sisi. Pemerintah harus mendapatkan fakta yang lengkap mengenai apa yang sebenarnya terjadi," ujar Said Iqbal dalam keterangannya, Sabtu (4/7/2026).
Said menjelaskan, proses pengecekan akan dilakukan bersama Kementerian Ketenagakerjaan sebagai tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara perlindungan terhadap pekerja dan keberlangsungan dunia usaha.
Ia menegaskan setiap persoalan ketenagakerjaan harus diselesaikan berdasarkan fakta di lapangan, melalui dialog yang terbuka, serta tetap mengacu pada ketentuan hukum yang berlaku.
Baca Juga: Kuasa Hukum Dokter Tifa Bongkar Kendala di Sidang Perdana, Berkas Dakwaan Diklaim Belum Diterima
Lebih lanjut, Said menilai persoalan ketenagakerjaan di sektor ekonomi digital memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan industri manufaktur. Karena itu, pemerintah memilih melakukan verifikasi langsung sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
"Tokopedia dan TikTok merupakan bagian dari industri ekonomi digital berbasis platform. Karena itu, kami akan turun terlebih dahulu mencari fakta di lapangan," katanya.
Said menegaskan, apabila dalam proses pemeriksaan ditemukan adanya pelanggaran terhadap ketentuan ketenagakerjaan, pemerintah tidak akan ragu mengambil tindakan sesuai kewenangannya.
Baca Juga: Prediksi Skor Kanada vs Maroko: Tuan Rumah Ingin Cetak Sejarah, Singa Atlas Andalkan Mental Juara
Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan hak-hak pekerja tetap terlindungi serta seluruh peraturan perundang-undangan dipatuhi oleh perusahaan.
Di sisi lain, Said juga mengingatkan bahwa pemerintah perlu memahami kondisi bisnis yang sedang dihadapi perusahaan. Ia menilai setiap kasus PHK memiliki latar belakang yang berbeda sehingga tidak bisa disamaratakan.
Apabila penyebabnya berkaitan dengan tekanan ekonomi atau dinamika pasar, pemerintah akan mendorong dialog antara perusahaan, pekerja, dan pemerintah untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak.
Baca Juga: Sinar Mas Land Gandeng Monash dan UKM, Perkuat BSD City sebagai Pusat Pendidikan Global
"Kalau masalahnya berkaitan dengan situasi pasar atau kondisi bisnis perusahaan, tentu kita akan duduk bersama untuk mencari solusi terbaik yang tetap melindungi pekerja sekaligus menjaga keberlangsungan usaha," jelasnya.
Said menambahkan, pendekatan dialog yang dilakukan pemerintah telah terbukti efektif dalam menangani berbagai persoalan ketenagakerjaan. Ia mengungkapkan, melalui mekanisme tersebut, sekitar 4.000 pekerja sebelumnya berhasil terhindar dari ancaman PHK.
Karena itu, pendekatan serupa akan diterapkan dalam menangani isu PHK yang kini mencuat di sektor ekonomi digital, termasuk dugaan pengurangan karyawan di Tokopedia.
Baca Juga: KAHMI Foundation Perkuat Program Pendampingan Anak Yatim, Santunan Rutin Jadi Langkah Awal
Sebelumnya, TikTok Indonesia telah mengonfirmasi adanya penyesuaian organisasi di lingkungan perusahaan.
Namun, perusahaan belum mengungkap jumlah karyawan maupun divisi yang terdampak oleh kebijakan tersebut.
Hingga kini, kabar mengenai dugaan PHK terhadap 90 persen karyawan Tokopedia masih menunggu hasil verifikasi pemerintah. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 6Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026









