Kenapa Nama Messi Tidak Boleh Dipakai di Argentina? Aturan Ini Bikin Banyak Orang Terkejut

AKURAT BANTEN - Banyak orang mungkin bertanya-tanya mengapa nama "Messi" tidak bisa digunakan sebagai nama depan di Argentina, padahal Lionel Messi merupakan salah satu sosok paling berpengaruh dalam sejarah sepak bola negara tersebut.
Kisah ini bermula sekitar 12 tahun lalu ketika sepasang suami istri asal Argentina yang merupakan penggemar berat sepak bola ingin memberikan nama putra pertama mereka sebagai bentuk penghormatan kepada Lionel Messi.
Namun, niat tersebut ternyata berbenturan dengan aturan hukum Argentina yang telah berlaku sejak 1969.
Regulasi itu melarang penggunaan nama keluarga sebagai nama depan, sehingga nama "Messi" tidak dapat langsung didaftarkan untuk seorang anak.
Baca Juga: FIFA Siapkan Aturan Baru Piala Dunia 2026, Cuaca Ekstrem Bikin Keselamatan Pemain Terancam
Meski demikian, bayi laki-laki bernama David Varela akhirnya tetap diperbolehkan memakai nama tersebut setelah kedua orang tuanya mengajukan permohonan pengecualian.
Permintaan itu kemudian disetujui oleh kantor catatan sipil Provinsi Río Negro.
Hector Varela dan istrinya, Lorena Sanchez, mengaku sengaja memilih nama "Messi" dibandingkan "Lionel" karena saat itu sudah terlalu banyak anak yang diberi nama Lionel atau Leo sebagai penghormatan kepada sang pemilik nomor 10 yang begitu dicintai masyarakat Argentina.
"Ini lebih seperti cara untuk menegaskan sesuatu," kata Hector Varela dalam sebuah wawancara di program radio populer Argentina pada September 2014.
Baca Juga: Skandal Piala Dunia 2026? FIFA Beri Perlakuan Khusus untuk Folarin Balogun
Kini, masyarakat Argentina memiliki banyak cara untuk menunjukkan kecintaan mereka kepada Lionel Messi, terutama setelah penampilan luar biasanya di Piala Dunia musim panas ini.
Meski telah berusia 39 tahun, sang megabintang masih tampil tajam dengan koleksi delapan gol dan memimpin persaingan Sepatu Emas bersama Kylian Mbappé.
Kontribusinya juga sangat menentukan perjalanan Argentina di turnamen tersebut. Saat menghadapi Mesir pada babak 16 besar, Messi menyelamatkan timnya dari ancaman tersingkir setelah mengirim umpan silang akurat yang berujung gol Christian Romero pada menit ke-79, lalu mencetak gol penyama kedudukan hanya empat menit berselang.
Di babak perempat final melawan Swiss, ia kembali berperan penting lewat assist untuk gol pembuka Alexis Mac Allister sebelum Argentina memastikan kemenangan 3-1 dan lolos ke semifinal.
Bentuk penghormatan kepada Messi di Argentina pun sangat beragam.
Para pendukung membuat mural berukuran raksasa, menciptakan lagu-lagu khusus untuknya, hingga mengabadikan wajah, nomor punggung, bahkan tanda tangannya dalam bentuk tato.
Namun, ada satu bentuk penghormatan yang hingga kini masih sulit dilakukan.
Aturan hukum Argentina tetap melarang penggunaan nama keluarga "Messi" sebagai nama depan bagi bayi yang baru lahir.
Data Registri Identitas Nasional Argentina menunjukkan bahwa hingga Juni 2025 hanya terdapat 11 orang, baik warga negara Argentina maupun warga asing yang tinggal secara sah di negara itu, yang memiliki nama Messi.
Seluruhnya diketahui masih berusia di bawah 19 tahun.
Jumlah tersebut jauh lebih sedikit dibandingkan beberapa negara lain.
Amerika Serikat memiliki sekitar 205 orang bernama Messi, Prancis sekitar 265 orang, Brasil sebanyak 363 orang, sementara Peru menjadi negara dengan jumlah terbanyak, yakni mencapai 3.402 orang.
Setelah kisah Hector Varela dan Lorena Sanchez mendapat sorotan media internasional pada 2014 karena berhasil memberikan nama Messi kepada anak mereka, sejumlah pasangan lain di Santa Fe, kota kelahiran Lionel Messi, mulai mengajukan permohonan serupa.
Akan tetapi, kepala kantor catatan sipil Santa Fe langsung menolak permohonan-permohonan tersebut.
Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa "menggunakan nama keluarga sebagai nama depan dilarang oleh hukum karena dapat menyebabkan kebingungan."
Pengacara Santiago Williams yang berbasis di Buenos Aires menjelaskan kepada Yahoo Sports: "Hukum itu sendiri adalah hukum nasional dan diterapkan secara seragam di seluruh Argentina, tidak berbeda antar provinsi.
Satu-satunya perbedaan terletak pada seberapa ketat setiap provinsi menegakkan peraturan ini.
Kasus Messi adalah contoh yang sangat khas dari inkonsistensi tersebut, di mana satu provinsi memberikan pengecualian, sementara provinsi lain, hampir pada waktu yang sama, menolak mentah-mentah permintaan yang hampir identik."
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 6Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026








