59 Persen Gen Z Indonesia Curhat ke ChatGPT, Pakar Ingatkan Bahaya yang Mengintai

AKURAT BANTEN - Primadita, 26 tahun, mengaku kerap membuka ChatGPT saat suasana hati sedang buruk.
Bagi perempuan itu, platform kecerdasan buatan tersebut menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati sekaligus alternatif yang lebih terjangkau dibanding layanan konseling profesional.
Ia menyebut ChatGPT sebagai "terapis murah".
Dengan biaya langganan sekitar Rp300.000 (US$16,71) per bulan, ia bisa berbincang lebih lama dengan AI, sementara tarif tersebut hanya sekitar setengah dari biaya satu sesi konseling psikolog selama satu jam.
“Dengan Rp 300.000, saya bisa mengobrol kapan pun saya mau, tanpa khawatir dengan batasan waktu,” kata Primadita.
Fenomena yang dialami Primadita ternyata juga dirasakan banyak anak muda Indonesia.
Survei terbaru menunjukkan Generasi Z mulai menjadikan chatbot AI sebagai tempat mencari dukungan emosional.
Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa teknologi tersebut tidak mampu menggantikan hubungan antarmanusia yang autentik dan tetap menyimpan risiko terhadap keamanan data pribadi.
Hasil survei Yayasan Ketahanan Digital Indonesia (DiRi), lembaga yang bergerak di bidang literasi digital, mengungkapkan sebanyak 59,4 persen responden Gen Z pernah mempercayakan persoalan pribadi kepada chatbot AI.
Topik yang dibahas beragam, mulai dari kesehatan mental dan fisik, persoalan keluarga serta hubungan, hingga pendidikan dan rencana masa depan.
Survei tersebut dilakukan pada Agustus hingga Desember 2025 terhadap 402 responden yang lahir pada 1997–2012.
Mayoritas peserta berasal dari Pulau Jawa.
Berdasarkan Sensus Penduduk 2020 Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah Generasi Z di Indonesia mencapai 75,5 juta orang atau sekitar 28 persen dari total populasi yang mencapai 270 juta jiwa.
Peneliti DiRi, Haris Fatwa, mengakui hasil survei itu belum tentu sepenuhnya menggambarkan kondisi di lapangan.
Namun, menurutnya, temuan tersebut memperlihatkan semakin besarnya kebutuhan anak muda terhadap ruang aman untuk mengekspresikan diri tanpa rasa takut dihakimi.
Baca Juga: ASEAN Desak Jalur Aman di Selat Hormuz, Indonesia Soroti Konflik Timur Tengah dan Palestina
Di sisi lain, DiRi juga mendorong generasi muda agar tetap menggunakan "penilaian kritis" saat memanfaatkan chatbot AI.
Ketergantungan berlebihan terhadap AI sebagai tempat mencari dukungan emosional dinilai dapat memunculkan berbagai risiko.
“AI hanyalah alat teknologi,” kata Haris, “dan tidak dapat menggantikan hubungan antarmanusia atau dukungan sosial yang hanya dapat diberikan oleh manusia lain.”
Survei itu juga menemukan bahwa banyak responden menyadari potensi ancaman terhadap privasi ketika berbagi informasi dengan chatbot AI.
Sekitar 89 persen responden meyakini percakapan mereka disimpan oleh platform AI.
Baca Juga: Pria Tewas Dikeroyok Massa usai Diduga Curi Ayam di Tabanan, KemenHAM Kecam Main Hakim Sendiri
Selain itu, sembilan dari sepuluh responden menilai kebijakan privasi chatbot masih belum jelas.
Bahkan, sekitar tiga perempat peserta survei mengaku khawatir data pribadi mereka berpotensi disalahgunakan.
Kekhawatiran serupa dirasakan Primadita.
Ia mengaku mulai lebih berhati-hati setelah memahami bagaimana sistem AI bekerja dan memanfaatkan data pengguna.
“Hal itu membuat saya takut untuk menggunakannya, karena sekarang saya mengerti bahwa chatbot hanyalah mesin yang dilatih menggunakan data,” katanya.
Baca Juga: Terungkap! Ini Alasan Kejagung Tak Kenakan Rompi Pink ke Febrie Adriansyah Saat Ditahan di Rutan KPK
“Itu membuat saya berpikir dua kali sebelum berbagi hal-hal pribadi.”
Pandangan yang sama disampaikan Icha, mahasiswi berusia 24 tahun asal Bali.
Awalnya, ia menganggap ChatGPT sebagai teman yang selalu siap mendengarkan karena tersedia setiap saat dan "tidak pernah menghakiminya".
“Namun seiring waktu, saya menjadi lebih menyadari risiko privasi,” kata Icha.
“Dan respons ChatGPT mulai terasa berulang. Bagaimanapun juga, itu hanyalah sebuah mesin.”
Baca Juga: Misteri Kematian Satpam Waduk Jatiluhur, Ditemukan Tewas Terborgol Usai Hilang Saat Bertugas
Pakar keamanan siber Alfons Tanujaya menilai ketergantungan masyarakat dari berbagai kelompok usia terhadap chatbot AI memang terus meningkat.
Menurutnya, kemudahan akses selama 24 jam serta respons yang terasa netral membuat banyak orang nyaman menjadikan AI sebagai tempat bercerita.
Namun, Alfons mengingatkan adanya risiko yang sering diabaikan pengguna, terutama terkait kemungkinan eksploitasi data pribadi karena penyedia layanan AI merupakan perusahaan yang berorientasi pada keuntungan.
“Pengguna harus menggunakan AI secara kritis sebagai alat dan ingat bahwa berbagi informasi pribadi dengan platform ini selalu membawa risiko privasi,” kata Alfons.
Ia juga mengingatkan bahwa chatbot AI berpotensi menyampaikan informasi keliru atau saran yang tidak tepat karena mengambil referensi dari berbagai sumber yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.
Berbeda dengan psikolog, AI tidak memiliki kompetensi profesional meski mampu memberikan berbagai tips mengenai kesehatan mental.
“AI dapat berhalusinasi dengan menghasilkan jawaban yang tampak meyakinkan, tetapi sebenarnya salah,” tambah Alfons.
Secara global, penggunaan chatbot AI juga pernah dikaitkan dengan sejumlah kasus bunuh diri dan pembunuhan.
Salah satu yang paling mendapat perhatian adalah kasus Adam Raine, remaja 16 tahun asal Amerika Serikat yang meninggal akibat bunuh diri setelah diduga berbulan-bulan mencurahkan perasaannya kepada ChatGPT.
Orang tua Adam kemudian menggugat OpenAI karena menilai chatbot tersebut memberikan informasi mengenai metode bunuh diri serta gagal menghentikan atau memberikan peringatan ketika putra mereka mulai membicarakan keinginan mengakhiri hidup.
Baca Juga: Michael Olise Jadi Raja Assist Dunia, Rekor Bersejarah Ini Bikin Real Madrid Kepincut
Sementara itu, OpenAI menyatakan chatbot telah lebih dari 100 kali menyarankan Adam untuk mencari bantuan profesional selama menggunakan layanan tersebut.
Psikolog Syurawasti Muhiddin menilai hasil survei DiRi menunjukkan semakin terbatasnya ruang aman bagi anak muda untuk memperoleh dukungan emosional.
Kondisi itu membuat chatbot AI menjadi pilihan yang semakin menarik, meski tetap memiliki berbagai keterbatasan dan risiko.
“AI dapat menjadi alat yang bermanfaat, tetapi tidak memiliki kapasitas untuk memberikan diagnosis medis atau psikologis yang akurat ketika dibutuhkan,” kata Syurawasti dalam laporan DiRi, menambahkan bahwa akan sangat membantu jika pengguna membangun kolaborasi antara konselor manusia dan AI.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8Viral! Antrean Makan Bergizi Gratis di SMK Kebumen Berujung Aksi Duel Mencekam, Korban Diseret ke Lahan Kosong, Ini Kronologinya
- 9Rodri Tiba di Barcelona, Sang Ballon d'Or Langsung Ungkap Mimpi Besarnya Bersama Blaugrana
- 10Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas






