Indonesia Sudah Mampu Bangun Satelit Sendiri, Tantangan Terbesar Ternyata Bukan Teknologi

AKURAT BANTEN - Indonesia dinilai sudah memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan satelit penginderaan jauh secara mandiri.
Bekal tersebut meliputi penguasaan teknologi, sumber daya manusia yang kompeten, serta pengalaman panjang dalam pengembangan satelit.
Kini, tantangan utama tidak lagi terletak pada aspek teknis, melainkan pada kesinambungan kebijakan pemerintah, kepastian pendanaan, dan penguatan ekosistem industri satelit nasional agar terus berkembang.
Pandangan tersebut disampaikan Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di bidang Desain Satelit, Kendaraan Luar Angkasa, dan Misil, Robertus Heru Triharjanto, saat menyampaikan orasi ilmiah bertajuk "Inovasi dan Desain Satelit Mikro untuk Membangun Kemandirian Antariksa Indonesia" di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (30/7).
Baca Juga: Gamaba Digadang Jadi Varietas Bawang Merah Super Produktif untuk Dataran Rendah
"Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Hal ini membuat Indonesia menjadi sangat bergantung pada teknologi satelit untuk aplikasi telekomunikasi, pemantauan wilayah, dan navigasi," ujar Prof. Heru.
Prof. Heru menerangkan bahwa pemanfaatan teknologi satelit di Indonesia telah dimulai sejak beroperasinya satelit telekomunikasi Palapa A1 pada 1976.
Kehadiran satelit tersebut membuka akses komunikasi telepon dari Aceh hingga Jayapura sekaligus menjadi simbol pemersatu bangsa.
Memasuki era 1980-an, penggunaan satelit berkembang untuk mendukung pemantauan sumber daya alam, sektor pertanian, hingga kondisi cuaca.
Baca Juga: Terongkar Penyebab Hujan Ekstrem di Semarang, Jawab Misteri Mengapa Hanya Pantura yang Diguyur Deras
Saat ini, teknologi satelit dimanfaatkan lebih luas, mulai dari mendukung ketahanan pangan, perencanaan pembangunan infrastruktur, pemantauan kebakaran hutan, mitigasi bencana, sampai pengawasan kawasan maritim Indonesia.
Meski demikian, Prof. Heru menilai Indonesia masih menghadapi tantangan besar karena mayoritas satelit yang digunakan berasal dari luar negeri. Akibatnya, pemenuhan kebutuhan data strategis nasional masih sangat bergantung pada negara lain.
"Permasalahannya hingga saat ini adalah satelit yang digunakan Indonesia sebagian besar merupakan buatan negara lain. Bahkan satelit penginderaan jauh yang dimanfaatkan juga masih dimiliki negara lain," katanya.
Menurut Prof. Heru, kondisi tersebut mendorong Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) membentuk tim pada 2001 untuk menguasai teknologi pembuatan satelit secara mandiri melalui pengembangan satelit mikro. Upaya itu kemudian melahirkan sejumlah satelit nasional, seperti LAPAN-A1, LAPAN-A2, dan LAPAN-A3 yang berhasil beroperasi di orbit. Pengembangannya terus berlanjut melalui proyek LAPAN-A4 dan LAPAN-A5 yang dilengkapi muatan Synthetic Aperture Radar (SAR), sebuah teknologi yang mampu melakukan pengamatan meski cuaca berawan maupun pada malam hari.
Ia menjelaskan bahwa penguasaan teknologi satelit mikro tidak hanya sebatas membangun wahana satelit. Pengembangannya juga mencakup berbagai teknologi penting, seperti payload, sistem bus satelit, antena lipat, baterai, panel surya berteknologi tinggi, hingga komponen lokal seperti star sensor dan reaction wheel. Berbagai inovasi juga terus dilakukan pada komponen, struktur, serta desain satelit agar mampu memenuhi kebutuhan misi yang semakin kompleks.
Selain mengembangkan perangkat keras, para peneliti juga menciptakan algoritma optimasi desain satelit, simulator dinamika sikap satelit (attitude simulator), serta sistem pemodelan termal berbasis machine learning. Teknologi tersebut dimanfaatkan untuk mengevaluasi konfigurasi satelit, efisiensi konsumsi daya, kestabilan sistem kendali, hingga distribusi panas ketika satelit beroperasi di orbit.
Lebih jauh, Prof. Robertus mengungkapkan bahwa BRIN telah merancang konsep sistem satelit nasional guna memenuhi kebutuhan pemantauan wilayah Indonesia sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017. Konsep tersebut menggabungkan satelit optik dengan resolusi sekitar dua meter dan konstelasi satelit radar berbasis SAR berukuran kecil sehingga mampu menyediakan layanan pemantauan wilayah secara berkesinambungan.
Ia menilai bahwa dengan dukungan teknologi yang tersedia saat ini, konsep tersebut dapat direalisasikan melalui kombinasi satelit optik berbobot sekitar 900 kilogram dan satelit Synthetic Aperture Radar (SAR) berbobot sekitar 50 kilogram. Kedua jenis satelit itu dirancang untuk ditempatkan di orbit rendah Bumi agar mampu mendukung pemantauan wilayah Indonesia secara berkelanjutan.
"Konstelasi satelit nasional sangat mungkin diwujudkan. Dengan sumber daya manusia dan fasilitas pengembangan satelit yang telah dimiliki BRIN, Indonesia memiliki kemampuan untuk membangunnya secara bertahap," ujarnya.
Prof. Heru memperkirakan anggaran yang dibutuhkan untuk mengembangkan tiga satelit pertama mencapai sekitar Rp550 miliar. Nilai tersebut dinilai lebih hemat dibandingkan apabila seluruh sistem satelit diperoleh melalui pengadaan dari luar negeri. Ia juga meyakini bahwa jika program ini berjalan secara berkesinambungan, produksi satelit pengganti pada masa mendatang dapat dilakukan oleh industri nasional dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia.
“Masa depan industri satelit Indonesia tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan teknologi, melainkan oleh keberlanjutan ekosistem riset dan industri yang didukung kebijakan pemerintah. Dengan dikuasainya teknologi satelit oleh bangsa Indonesia, sebagian besar kebutuhan satelit nasional dapat dipenuhi dengan biaya yang lebih terjangkau sehingga mampu mendorong tumbuhnya industri satelit dalam negeri," ia menjelaskan.
Karena itu, Prof. Heru menegaskan pentingnya kebijakan pemerintah yang mampu menjamin keberlanjutan pembangunan teknologi satelit nasional. Dukungan tersebut meliputi penguatan kapasitas sumber daya manusia, penyediaan pendanaan untuk infrastruktur, hingga pengelolaan fasilitas pengembangan satelit nasional secara berkesinambungan.
"Kepemimpinan Indonesia sebagai negara pertama di ASEAN yang mengoperasikan satelit telekomunikasi dan pelopor pemanfaatan satelit penginderaan jauh perlu dilanjutkan dengan membangun industri satelit nasional. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi bagian penting dalam perkembangan space economy di masa depan," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”









