Banten

Terungkap Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur, Ternyata Dipicu Fenomena Lake Mixing

Viona Sebastian Nolani | 5 Agustus 2026, 14:28 WIB
Terungkap Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur, Ternyata Dipicu Fenomena Lake Mixing
BRIN Ungkap Dugaan Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur. - brin.go.id

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap penjelasan ilmiah mengenai fenomena kematian massal ikan di Danau Batur, Bali, yang terjadi pada akhir Juli 2026.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan, kejadian tersebut diduga dipicu oleh fenomena pencampuran kolom air danau (lake mixing), yaitu proses alami ketika massa air dari dasar danau bergerak naik dan bercampur dengan lapisan air di permukaan.

Selama proses pemantauan, tim peneliti mendapati kadar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) di permukaan danau menurun drastis hingga mendekati 0 mg/L.

Pada saat yang sama, tercium aroma menyengat hidrogen sulfida (H₂S) yang menjadi indikasi bahwa air dari lapisan dasar danau telah naik ke permukaan.

Baca Juga: Mantan Hakim Agung Bongkar Kejanggalan Polemik Ijazah Jokowi, Kenapa UGM Tak Ikut Digugat?

Peneliti biogeokimia dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Sulung Nomosatryo, menjelaskan bahwa lapisan dasar danau secara alami memiliki kadar oksigen yang lebih rendah akibat proses dekomposisi bahan organik yang berlangsung dalam jangka waktu panjang.

Di lapisan tersebut juga dapat terjadi penumpukan senyawa sulfida.

Sulung menerangkan, ketika pencampuran massa air berlangsung, air dari lapisan bawah yang minim oksigen akan naik ke permukaan sambil membawa senyawa sulfida ke area tempat hidup ikan.

Dalam kondisi tertentu, sulfida tersebut dapat berubah menjadi hidrogen sulfida (H₂S), yang merupakan bentuk paling beracun bagi ikan.

Baca Juga: Mengejutkan, Kabinet Bayangan Resmi Diluncurkan Ini Daftar 15 Tokoh yang Jadi Menteri

"Keberadaan bau H₂S menunjukkan bahwa air dari lapisan bawah kemungkinan telah terangkat ke permukaan. Namun, kita tidak dapat langsung menyimpulkan bahwa sulfida merupakan penyebab tunggal kematian ikan. Diperlukan analisis laboratorium dan pengkajian terhadap seluruh parameter kualitas air agar penyebab kejadian ini dapat dipahami secara utuh," ujar Sulung, Minggu (2/8).

Sementara itu, peneliti hidrodinamika danau BRIN, Arianto Budi Santoso, mengatakan karakter Danau Batur sebagai danau vulkanik yang berada di sekitar Gunung Batur membuat kandungan senyawa sulfur di perairan tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan banyak danau lainnya.

Menurut Arianto, ketika kondisi dasar danau tidak mengandung oksigen atau bersifat anoksik, senyawa sulfat akan berubah menjadi sulfida.

Saat terjadi pencampuran air, sulfida tersebut naik ke lapisan yang kaya oksigen dan mengalami oksidasi kembali menjadi sulfat.

Proses tersebut sekaligus menghabiskan cadangan oksigen terlarut yang ada di dalam danau.

"Berdasarkan hasil penelitian, periode mixing di Danau Batur biasanya terjadi pada bulan Juni–Agustus, akhir Desember, dan Februari," jelas Arianto.

Penelitian yang telah dipublikasikan dalam jurnal Inland Waters mengungkapkan bahwa Danau Batur termasuk kategori danau polimiktik, yaitu danau yang mengalami pencampuran massa air beberapa kali dalam satu tahun.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa oksidasi sulfida, respirasi organisme, serta proses dekomposisi bahan organik dapat mempercepat penurunan kadar oksigen ketika fenomena pencampuran berlangsung.

Walaupun merupakan proses alami, dampak dari pencampuran kolom air tidak selalu memberikan efek yang sama pada setiap peristiwa.

Kondisi cuaca, karakteristik fisik danau, kualitas air, hingga kondisi ekosistem saat pencampuran terjadi menjadi faktor yang menentukan tingkat dampaknya terhadap kehidupan biota perairan.

Oleh karena itu, BRIN menilai pemantauan kualitas air secara rutin dan berkelanjutan menjadi langkah penting untuk memahami dinamika yang terjadi di Danau Batur.

Kegiatan tersebut mencakup pengukuran suhu air, kadar oksigen terlarut, parameter meteorologi, serta profil kualitas air pada berbagai tingkat kedalaman.

Data hasil pemantauan itu diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar pengembangan sistem peringatan dini sekaligus menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan danau yang lebih adaptif serta berbasis bukti ilmiah.

BRIN juga menegaskan akan terus melaksanakan penelitian dan pemantauan terhadap dinamika Danau Batur guna menyediakan informasi ilmiah yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pemerintah, masyarakat, maupun para pemangku kepentingan dalam mewujudkan pengelolaan danau yang berkelanjutan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.