Banten

Tenyata Ini Isi Ceramah Dr. Zakir Naik yang Bikin Heboh Dunia Internasional, Pantas Warga Malang Tolak Kehadirannya?

Andi Syafriadi | 9 Juli 2025, 09:21 WIB
Tenyata Ini Isi Ceramah Dr. Zakir Naik yang Bikin Heboh Dunia Internasional, Pantas Warga Malang Tolak Kehadirannya?

AKURAT BANTEN - Nama Dr. Zakir Naik kembali menjadi sorotan publik, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Pendakwah asal India yang dikenal lewat ceramah-ceramahnya yang tajam, logis, namun juga kontroversial ini, kembali menuai polemik setelah rencana kunjungannya ke Malang ditolak oleh sebagian warga dan tokoh masyarakat setempat.

Baca Juga: Ustadz Dasad Latief Bersama Polres Lebak, Ajak Warga Jaga Pilkada Damai, Melalui Ceramah Istigosah dan Doa

Lalu, apa sebenarnya isi ceramah Dr. Zakir Naik yang kerap memicu kontroversi hingga membuat kehadirannya ditolak di berbagai negara, termasuk di Indonesia?

Dr. Zakir Naik dikenal luas karena gaya ceramahnya yang mengangkat tema perbandingan agama.

Ia sering mengutip kitab-kitab suci agama lain, seperti Alkitab, Weda, dan Tripitaka, untuk kemudian membandingkannya dengan Al-Qur'an.

Bagi sebagian kalangan Muslim, gaya penyampaian ini dianggap cerdas dan memperkuat keyakinan terhadap Islam.

Namun di sisi lain, pendekatan ini dinilai ofensif oleh sebagian pemeluk agama lain.

Tak jarang, pernyataan Dr. Zakir dianggap menyudutkan dan merendahkan ajaran di luar Islam, terutama ketika ia menyebut bahwa hanya Islam yang secara logis dan ilmiah sesuai dengan kebenaran mutlak.

Dalam salah satu ceramahnya yang viral, ia bahkan menantang hadirin dari agama lain untuk membuktikan keabsahan kitab suci mereka secara ilmiah, yang kemudian ia bandingkan dengan keunggulan Al-Qur'an.

Hal inilah yang menjadi salah satu sumber ketegangan dalam forum lintas agama, bahkan di negara-negara yang menjunjung tinggi toleransi seperti Malaysia dan India.

Baca Juga: Kontroversi Claude, Anthropic Dituding Hancurkan Buku Demi Kecerdasan Buatan

Kontroversi ceramah Dr. Zakir Naik tidak hanya berujung pada perdebatan intelektual, tapi juga berdampak politik.

Ia dilarang masuk ke sejumlah negara, seperti Kanada, Inggris, dan Bangladesh.

Bahkan pemerintah India pernah mengeluarkan surat penangkapan atas dirinya karena diduga menyebarkan ujaran kebencian dan menginspirasi ekstremisme, meski tuduhan ini dibantah keras oleh Zakir sendiri dan para pendukungnya.

Isu-isu tersebut membuat sejumlah warga Malang menyuarakan penolakan terhadap kehadirannya dalam agenda dakwah terbuka yang rencananya akan digelar di kota tersebut.

Baca Juga: Kontroversi Vasektomi sebagai Syarat Bansos: MUI Tegas Menolak Usulan Gubernur Jawa Barat

Menurut pernyataan beberapa tokoh lintas agama dan organisasi kemasyarakatan, kehadiran Zakir dikhawatirkan bisa memicu ketegangan sosial dan mengganggu harmoni antarumat beragama di kota yang selama ini dikenal damai dan toleran.

Meskipun banyak yang menolak, tak sedikit pula yang mendukung kehadiran Dr. Zakir Naik. Mereka menilai penolakan ini sebagai bentuk pembungkaman dakwah dan hak berbicara.

Para pendukungnya menganggap Zakir sebagai pembela Islam yang berani dan argumentatif, yang patut didengar oleh umat Muslim Indonesia.

Namun, dalam konteks keberagaman Indonesia, kebebasan berbicara juga harus mempertimbangkan sensitivitas sosial dan potensi konflik horizontal.

Oleh karena itu, wajar jika sejumlah pihak di Malang memilih untuk bersikap waspada dan menolak agenda ceramahnya.

Isi ceramah Dr. Zakir Naik yang bernuansa perbandingan agama memang menarik bagi sebagian kalangan, namun juga menyimpan potensi gesekan antarumat.

Tak heran jika kehadirannya memicu pro dan kontra di berbagai tempat, termasuk di Malang.

Di tengah masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, menjaga kerukunan seringkali dianggap lebih penting daripada sekadar membela satu tokoh atau pandangan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.