3 Alasan Warga Jawa Timur Malah Cinta Sound Horeg Padahal Fatwa MUI Tegas Sound Horeg Haram

AKURAT BANTEN – Sound horeg, sistem audio berukuran besar dengan suara super keras dan menggelegar, kini resmi dinyatakan haram oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
Lewat Fatwa MUI Jatim Nomor 1 Tahun 2025 yang dirilis pada Minggu, 13 Juli 2025, suara dari sound horeg dinilai mengandung kemudaratan dan membahayakan kesehatan.
Baca Juga: Terungkap di Sidang, Harun Masiku Selfie Bareng Hasto di MA untuk Urus Fatwa PAW
Fatwa tersebut tidak dibuat sembarangan. Dalam proses perumusannya pada 9 Juli 2025, Komisi Fatwa MUI Jatim menggandeng pakar Telinga-Hidung-Tenggorokan (THT), aparat keamanan, pemerintah daerah, hingga perwakilan komunitas sound horeg.
Mereka menyimpulkan bahwa suara dari sound horeg yang mencapai 135 desibel setara dengan mesin pesawat berisiko merusak pendengaran.
Namun, yang menjadi pertanyaan: jika membahayakan, mengapa sound horeg tetap begitu digemari masyarakat Jawa Timur, terutama di kawasan selatan?
Menurut Antropolog Universitas Brawijaya, Nindyo Budi Kumoro, fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari akar budaya dan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat.
Dalam wawancaranya pada Senin (14/7/2025), Nindyo memaparkan tiga alasan utama mengapa sound horeg begitu populer:
1. Budaya Toleransi terhadap Suara Keras
Masyarakat Jawa Timur bagian selatan memiliki kebiasaan yang cukup unik: mereka terbiasa dengan kebisingan, bahkan menyukainya.
Dalam berbagai hajatan seperti pernikahan atau sunatan, suara musik dari sound system yang menggelegar dianggap sebagai bentuk “kemeriahan”.
Bahkan sejak pagi hari, musik dangdut dengan volume tinggi sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sebagai pemacu semangat.
2. Warisan Kesenian Rakyat yang Ekspresif
Nindyo menyoroti perbedaan antara kesenian rakyat dan kesenian priyayi dalam budaya Jawa.
Kesenian rakyat seperti jatilan dan bantengan dikenal ekspresif, keras, dan energik cocok dipadukan dengan suara sound horeg.
Baca Juga: Langkah Disdukcapil Kota Tangerang Cegah Penipuan Aktivasi IKD, Sosialisasikan HIngga Tingkat RT
Ini berbeda dari kesenian kalangan priyayi seperti tari-tarian keraton yang halus dan lembut.
Maka tak heran jika penolakan terhadap sound horeg umumnya datang dari kelompok masyarakat urban atau kalangan atas yang tidak terbiasa dengan ekspresi budaya rakyat tersebut.
3. Faktor Ekonomi: Murah dan Meriah
Alasan terakhir adalah soal aksesibilitas. Sound horeg menjadi solusi hiburan murah bagi masyarakat menengah ke bawah.
Dengan biaya sewa yang terjangkau dan pengalaman hiburan yang “wah”, sound horeg menawarkan bentuk rekreasi yang bisa dinikmati bersama-sama, tanpa harus mengeluarkan banyak uang.
Ini menjadi alternatif hiburan kolektif yang sangat sesuai dengan kondisi ekonomi sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut.
Meski digemari, Nindyo mengingatkan bahwa keberlanjutan budaya sound horeg bisa terancam apabila konflik sosial terus meningkat.
Ia menekankan bahwa setiap produk budaya hanya akan bertahan bila mendapatkan lebih banyak dukungan daripada penolakan.
“Jika pro dan kontra terus tajam dan tidak menemukan titik temu, maka pelestarian budaya ini akan sulit,” pungkasnya.
Dengan fatwa MUI dan meningkatnya keluhan warga terkait kebisingan, masa depan sound horeg kini berada di persimpangan jalan: antara tradisi budaya rakyat dan tuntutan kesehatan serta ketertiban publik.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










