Banten

Heboh Awan Mirip Pusaran Raksasa Muncul di Langit, BMKG Ungkap Fakta yang Bikin Warga Terkejut

Andi Syafriadi | 29 November 2025, 21:45 WIB
Heboh Awan Mirip Pusaran Raksasa Muncul di Langit, BMKG Ungkap Fakta yang Bikin Warga Terkejut

AKURAT BANTEN — Warga di sejumlah daerah sempat dihebohkan oleh kemunculan awan yang tampak seperti pusaran atau “topi UFO” di langit.

Fenomena ini ternyata bukan pertanda cuaca ekstrem ataupun bencana. Awan unik tersebut dikenal sebagai Awan Lenticularis sebuah fenomena meteorologi alamiah yang punya penjelasan ilmiah.

Awan Lenticularis adalah jenis awan yang berbentuk seperti lensa, piring terbang, atau topi.

Bentuknya sering membuat orang terkesima, dan tak jarang menimbulkan spekulasi fenomena luar biasa.

Baca Juga: Fenomena Siklon Senyar dan Koto Picu Bencana! 116 Korban Jiwa di Sumatera, BNPB Kirim Starlink ke Titik Terdampak

Pada dasarnya, awan ini terbentuk ketika udara lembap bergerak melewati pegunungan atau bukit arus udara yang berhembus horizontal kemudian terdorong ke atas oleh kontur bentukan alam.

Saat udara naik dan mencapai suhu titik embun, uap air mengembun membentuk awan mengikuti kontur bukit atau gunung.

Karena proses terbentuknya menyesuaikan kontur bukit/gunung dan bukan hasil dari pusaran angin atau badai maka awan ini sering tampak diam, seakan “menggantung” di langit. 

Meskipun bentuknya dramatis dan kadang menimbulkan kegaduhan di publik, para ahli mengatakan bahwa kemunculan awan Lenticularis tidak berarti cuaca akan buruk atau terjadi bencana. 

Baca Juga: BENCANA EKOLOGI BATANGTORU: Ketika Emas Dinikmati Korporasi, Bencana Ditanggung Rakyat

Menurut pengamatan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta para peneliti iklim, awan ini murni fenomena atmosferik normal bagian dari dinamika udara di pegunungan atau perbukitan, dan bukan pertanda gempa, badai, atau cuaca ekstrem lainnya. 

Meski begitu, satu hal yang perlu diperhatikan: kemunculan awan ini sebagai indikasi adanya aliran udara dan gelombang gunung bisa membawa turbulensi.

Oleh karena itu, bagi penerbangan di dekat area tersebut, awan Lenticularis bisa berbahaya. 

Bagi masyarakat umum, awan ini lebih bersifat estetis atau pemandangan unik— tidak memerlukan kepanikan.

Baca Juga: Bencana Longsor di Cilacap, Tim Gabungan Kebut Pencarian Puluhan Warga yang Masih Hilang

Namun, jika beraktivitas di pegunungan, ada baiknya tetap memperhatikan kondisi angin dan cuaca lokal. 

Awan Lenticularis biasanya muncul di wilayah pegunungan atau perbukitan tempat arus angin bertemu lereng dan memaksa aliran udara naik. 

Di Indonesia, banyak lokasi pegunungan dan perbukitan memungkinkan terbentuknya awan jenis ini, terutama saat kondisi kelembapan tinggi dan angin melintasi distrik pegunungan seperti yang terekam di Jawa, Papua, dan wilayah lain dengan topografi serupa. 

Umumnya awan ini terbentuk pada ketinggian troposfer menengah hingga atas (sekitar 6.500–16.500 meter), tergantung jenisnya. 

Baca Juga: Bali Berduka: BNPB Tetapkan Status Darurat Bencana, Usai Banjir Bandang Merenggut 9 Nyawa

Para ahli meteorologi menekankan bahwa kemunculan awan Lenticularis tidak perlu dikaitkan dengan mitos, ramalan bencana, atau pertanda buruk.

Ini hanyalah bagian dari dinamika alam. 

Namun, bagi penerbangan, terutama pesawat yang melintas di ketinggian rendah atau di daerah pegunungan, awan ini bisa menyebabkan turbulensi yang signifikan sehingga pilot dan penumpang harus berhati-hati. 

Bagi masyarakat umum: jika menemukannya, nikmatilah sebagai fenomena alam yang langka tanpa rasa takut.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Ekstrem di Tangerang Banten Hari Ini, Waspadai Potensi Bencana!

Dan jika kamu punya alat foto atau ponsel, jangan ragu untuk mengabadikan. Karena awan Lenticularis adalah salah satu keindahan alam yang mengingatkan kita betapa dinamis atmosfer bumi.

Fenomena awan yang terlihat seperti pusaran, lensa, atau topi walaupun menghebohkan ternyata adalah awan Lenticularis, sebuah fenomena alami dari bentuk arus udara yang melintasi pegunungan.

Munculnya awan ini tidak ada hubungannya dengan bencana.

Yang paling penting: tahu arti ilmiahnya, tetap tenang, dan kalau memungkinkan, langsung nikmati keindahannya sambil tetap waspada kalau kondisi angin dan cuaca berubah.

Baca Juga: Luput Bantuan Pemkot Tangerang, Pengrajin Difabel Cuma Dapat Bencana Banjir

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.