Gereja GMIM Silo Watuliney Dirusak! Dua Desa Nyaris Bentrok, Polisi Kerahkan Pasukan Besar

AKURAT BANTEN — Ketegangan sempat menyelimuti dua desa di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, setelah Gereja GMIM Silo Watuliney dirusak oleh oknum tak dikenal.
Insiden yang terjadi pada Minggu (30/11/2025) tersebut memicu reaksi keras warga hingga aparat kepolisian harus bersiaga penuh untuk mencegah bentrokan.
Perusakan itu pertama kali viral di media sosial melalui video yang memperlihatkan bagian gereja mengalami kerusakan, diduga akibat pelemparan.
Warga Desa Watuliney yang melihat kondisi rumah ibadah mereka rusak langsung tersulut emosi.
Baca Juga: Mengungkap Kisah di Balik Mongol Stres, dari Kehilangan Miliaran hingga Tobat dari 'Gereja Setan'
Dalam waktu singkat, kabar tersebut merembet ke desa tetangga, Molompar, yang kemudian memicu ketegangan kedua belah pihak.
Situasi di lapangan mulai memanas.
Warga dari dua desa disebut hampir terlibat saling serang, sebelum akhirnya aparat kepolisian dari Polres Minahasa Tenggara turun tangan dan mengamankan lokasi.
Kapolres AKBP Handoko Sanjaya memastikan pasukannya bergerak cepat untuk mencegah keributan yang lebih besar.
Baca Juga: Tragis! Bom Bunuh Diri Guncang Gereja Mar Elias di Suriah, 22 Orang Tewas
“Kami telah menempatkan personel di beberapa titik untuk memastikan situasi tetap kondusif. Kami imbau masyarakat tidak terprovokasi,” ujar Kapolres.
Sebelumnya, video dan foto kondisi gereja yang rusak menjadi bahan diskusi hangat di berbagai platform.
Banyak jemaat dan tokoh masyarakat menyuarakan keprihatinan.
Mereka menilai perusakan rumah ibadah adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi dan harus diusut tuntas.
Panji Yosua P/KB GMIM juga mengecam keras aksi tersebut. Mereka mendesak aparat kepolisian segera menangkap pelaku.
Bahkan, jika pelaku tak kunjung diamankan, mereka meminta Polda Sulut mengevaluasi kinerja jajaran kepolisian di Mitra.
Sejumlah tokoh politik setempat seperti Billy Lombok dan Raski Mokodompit ikut angkat bicara.
Keduanya menilai perusakan gereja berpotensi memicu konflik sosial yang jauh lebih besar jika tidak ditangani secara serius.
Baca Juga: Pj Gubernur, Kapolda dan Pj Bupati Pantau Pelaksanaan Natal di Gereja Santa Odelia
Mereka menekankan pentingnya penegakan hukum secara adil dan transparan untuk meredam keresahan masyarakat.
Gereja GMIM Silo Watuliney sendiri sedang bersiap menjalani rangkaian ibadah Advent saat insiden terjadi.
Bagi jemaat, peristiwa ini bukan hanya merusak bangunan, tetapi juga mengguncang rasa aman menjelang perayaan keagamaan.
Aparat keamanan memastikan penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap siapa pelaku dan motif di balik aksi tersebut.
Baca Juga: Kobaran Api Hanguskan 3 Lantai dan Gereja di Mal Ciputra Grogol, Telan Kerugian Sekira Rp5,6 M
Warga kedua desa diimbau menahan diri dan mempercayakan proses hukum kepada pihak berwajib.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa harmoni antarumat beragama harus terus dijaga dengan baik.
Konflik kecil bisa berkembang luas jika tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Pemerintah daerah, tokoh agama, dan komunitas lokal kini berupaya meredakan situasi melalui komunikasi dan pendekatan persuasif.
Baca Juga: Pembangunan Gereja di Perumahan Citra Maja Raya Ditolak Warga, Kemenag Setuju Lanjutkan
Dengan langkah cepat aparat dan seruan damai dari berbagai pihak, kondisi di Watuliney dan Molompar saat ini dikabarkan mulai stabil.
Namun, masyarakat berharap kasus ini segera terungkap dan tidak menimbulkan luka sosial jangka panjang.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









