Banten

China Makin Ganas, AS di Ambang Kekalahan Mutlak dalam Perlombaan Energi Fusi Nuklir

Moehamad Dheny Permana | 19 Maret 2025, 09:23 WIB
China Makin Ganas, AS di Ambang Kekalahan Mutlak dalam Perlombaan Energi Fusi Nuklir

Akurat Banten - Persaingan antara China dan Amerika Serikat (AS) dalam inovasi teknologi semakin memanas, kali ini di bidang energi fusi nuklir.

Dalam beberapa tahun terakhir, China menunjukkan kemajuan pesat dan mulai menyaingi bahkan melampaui dominasi AS di sektor ini, yang sebelumnya memimpin selama beberapa dekade.

Baca Juga: Hoax Sri Mulyani Mundur Jadi Kemenkeu, Tetap Lakukan Tugasnya dari Prabowo Usai Lebaran Nanti

Fusi nuklir, yang dijuluki sebagai "cawan suci" energi bersih, berpotensi menghasilkan energi yang jauh lebih besar dan lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan sumber energi tradisional.

Dibandingkan dengan fisi nuklir konvensional, fusi nuklir dapat menghasilkan energi empat kali lebih banyak per kilogram bahan bakar, dan empat juta kali lebih banyak daripada membakar batu bara.

Keunggulan utamanya adalah tidak menghasilkan gas rumah kaca atau limbah radioaktif jangka panjang, menjadikannya sangat potensial sebagai solusi energi masa depan yang bersih.

Baca Juga: Stroke: Bom Waktu yang Mengintai Semua Orang, Bukan Hanya Penderita Jantung!

Namun, perjalanan menuju fusi nuklir sebagai sumber energi komersial masih penuh tantangan.

Saat ini, satu-satunya tempat di alam semesta yang memanfaatkan energi fusi secara alami adalah bintang.

Sejak uji coba bom hidrogen pertama yang menggunakan fusi pada 1952, para ilmuwan di seluruh dunia berjuang untuk mengendalikan dan memanfaatkan reaksi fusi untuk pembangkit listrik yang dapat diandalkan.

Baca Juga: Pelajaran Berharga dari Mat Solar: 9 Faktor Risiko Stroke yang Wajib Anda Waspadai!

 Di AS, meskipun ada kemajuan besar, seperti uji coba penyalaan fusi pertama yang menghasilkan energi positif bersih di Lawrence Livermore National Ignition Facility (NIF) pada 2022, usaha ini tetap terhambat oleh usia teknologi yang ada dan ketergantungan pada mesin yang sudah tua.

Banyak mesin yang digunakan AS kini berusia lebih dari 30 tahun, sementara China terus membangun proyek-proyek fusi baru dengan kecepatan luar biasa, menarik perhatian lebih banyak talenta dan riset baru.

Tantangan terbesar yang dihadapi oleh para ilmuwan adalah mengendalikan plasma, gas super panas yang terbentuk saat atom hidrogen menyatu dalam reaksi fusi.

Baca Juga: Kini Tak Perlu Kerja Berat! Ini 9 Penghasil Saldo Dana Gratis Dapat Ratusan Ribu Sehari, Begini Caranya

Salah satu metode yang paling banyak digunakan adalah dengan menggunakan magnet super kuat yang ditempatkan dalam perangkat berbentuk donat, yang dikenal sebagai tokamak.

Sementara itu, China mengembangkan pendekatan baru yang lebih efisien dan inovatif, menjadikannya sebagai pesaing kuat dalam perlombaan energi masa depan ini.

 Kehadiran China sebagai kekuatan besar dalam penelitian fusi tidak hanya terlihat dari proyek-proyek besar yang dicanangkan, tetapi juga dari pencapaian mereka dalam jumlah paten dan tenaga kerja terampil.

Baca Juga: Kepergian Sang Legenda: Mat Solar Tutup Usia, Rieke Diah Pitaloka Berduka Penuh Air Mata

China kini memegang lebih banyak paten fusi dibandingkan negara lainnya, dan memiliki sepuluh kali lipat jumlah doktor di bidang ilmu dan teknik fusi dibandingkan dengan AS.

 Dalam hal investasi, China juga tidak kalah agresif. Sementara AS mencatatkan lonjakan investasi swasta yang signifikan di sektor fusi, sejak 2021 mencapai US$8 miliar, China telah lama mencurahkan sumber daya besar untuk riset ini.

Dulu, banyak peneliti AS yang membantu China dalam pembangunan mesin-mesin fusi, namun kini mereka harus menghadapi kenyataan bahwa China telah jauh lebih maju dalam teknologi ini.

Baca Juga: Banjir di Tangerang, Seorang Wanita Hanyut di Dalam Mobil

Berdasarkan proyeksi, pasar energi fusi diperkirakan akan mencapai US$1 triliun pada 2050.

Jika China terus melaju dengan kecepatan yang sama, AS bisa tertinggal jauh dalam perlombaan untuk menguasai sumber energi masa depan ini.

Di tengah ketatnya persaingan global, keberhasilan China dalam menguasai energi fusi nuklir akan memberikan dampak besar bagi teknologi AI dan kebutuhan energi berskala besar lainnya, yang sangat vital di masa depan.

Baca Juga: Hoax Sri Mulyani Mundur Jadi Kemenkeu, Tetap Lakukan Tugasnya dari Prabowo Usai Lebaran Nanti

Jika AS tidak segera merespons dengan inovasi yang lebih besar, China berpotensi menguasai pasar energi global, meninggalkan AS di belakang dalam perlombaan energi masa depan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.