Banten

Kelas Menengah Resah, Diskon 50 Persen Listrik Perlu Dinaikkan Hingga 2.200 VA

Andi Syafrani | 26 Mei 2025, 14:27 WIB
Kelas Menengah Resah, Diskon 50 Persen Listrik Perlu Dinaikkan Hingga 2.200 VA

AKURAT BANTEN - Peluncuran insentif ekonomi yang direncanakan pemerintah pada 5 Juni 2025 mendapat sambutan positif dari berbagai pihak.

Namun di balik optimisme tersebut, muncul kekhawatiran bahwa program ini belum menyentuh kelompok masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung belanja rumah tangga nasional: kelas menengah.

Baca Juga: Proyek Ambisius PSEL Tangsel: Megah di Kertas, Realistis di Lapangan? WALHI Peringatkan Potensi Jebakan Finansial!

Salah satu kritik datang dari Bhima Yudhistira, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), yang menilai bahwa kebijakan insentif—khususnya program diskon tarif listrik—masih terlalu sempit sasarannya.

Bhima mengusulkan agar pemerintah memperluas penerima manfaat hingga pelanggan listrik dengan daya 2.200 VA, bukan hanya mereka yang berada di bawah 1.300 VA.

Baca Juga: AWAS KETIPU! Diskon Listrik 50 Persen Kembali, Hanya Golongan Ini yang Nikmati Potongan Harga!

“Diskon listrik itu langkah yang baik, tapi perlu diperluas cakupannya,” ujar Bhima saat dihubungi, Minggu (25/5).

“Pengguna listrik 2.200 VA itu umumnya bukan orang kaya. Mereka rata-rata pekerja kantoran, penghuni kos, penyewa rumah kontrakan—mereka ini kelas menengah yang rentan kalau harga-harga naik,” tambahnya.

Baca Juga: Kabar Duka Selimuti Kristina: Ayahanda Tercinta Berpulang di Usia 85 Tahun

Ia menjelaskan bahwa selama ini kelas menengah sering kali tidak masuk dalam skema bantuan karena dianggap tidak cukup miskin untuk menerima subsidi, tapi juga tidak cukup kuat secara finansial untuk bertahan di tengah tekanan ekonomi. Biaya hidup mereka naik, pendapatan stagnan, sementara insentif pemerintah belum tentu menjangkau.

Baca Juga: Investor Asing Masuk IKN, Konsorsium AS-Korsel Siap Bangun Puluhan Rusun Lewat Skema KPBU

Menurut Bhima, jika segmen ini tidak diberi ruang dalam program insentif, maka konsumsi domestik yang sangat bergantung pada belanja kelas menengah bisa terhambat. Padahal, konsumsi rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca Juga: TPUA Tolak Hasil Uji Ijazah Jokowi, Desak Gelar Perkara Ulang Secara Transparan

Ia menambahkan bahwa pemberian insentif yang adil dan proporsional harus mempertimbangkan realitas sosial ekonomi yang kini makin kompleks.

“Kelas menengah ini kadang terlupakan karena tidak terlihat menderita. Tapi sebenarnya mereka juga struggling. Dan kalau mereka berhenti belanja, ekonomi ikut lesu,” tegasnya.

Baca Juga: Danantara Dapat 4 Investor China, RI Kian Dilirik Jadi Markas Baru Industri EV

Selain itu, Bhima juga menyoroti pentingnya insentif yang bersifat langsung dan terasa di dompet masyarakat. Menurutnya, program diskon tarif listrik adalah contoh konkret yang bisa dirasakan dampaknya secara langsung dalam pengeluaran bulanan.

“Insentif semacam ini efeknya cepat. Tidak butuh birokrasi panjang, langsung terasa di tagihan listrik,” ujarnya.

Baca Juga: Puan Desak Pemerintah Tindak Tegas Ormas Preman: Jangan Ragu, Bubarin Aja!

Bhima mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah seharusnya tidak hanya fokus pada penanganan kemiskinan ekstrem, tapi juga pada pencegahan jatuhnya kelas menengah ke jurang kemiskinan baru.

Untuk itu, ia berharap kebijakan insentif ekonomi yang akan diluncurkan bukan hanya menjadi formalitas, tapi benar-benar disesuaikan dengan dinamika dan kebutuhan nyata masyarakat.

Baca Juga: Lautan Bobotoh Banjiri Bandung, Pawai Juara Persib Berlangsung Meriah dan Tertib

Di tengah ketidakpastian global dan pemulihan ekonomi yang belum merata, pemerintah diharapkan mampu membaca peta sosial-ekonomi secara lebih jeli.

Sebab jika kelompok produktif seperti kelas menengah terus dibiarkan terjepit tanpa dukungan, maka risiko perlambatan ekonomi akan semakin nyata di depan mata.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

A
Varin VC
Editor
Varin VC