Banten

Perang Iran Israel Cuma Bakar Duit? APBN Israel Jebol Segini Gegara Tambah Iran Jadi Musuh Militer

Andi Syafriadi | 21 Juni 2025, 13:03 WIB
Perang Iran Israel Cuma Bakar Duit? APBN Israel Jebol Segini Gegara Tambah Iran Jadi Musuh Militer

AKURAT BANTEN - Perang bukan hanya ajang adu strategi militer atau kekuatan senjata. Di balik dentuman bom dan manuver pasukan, ada satu medan tak terlihat yang tak kalah menentukan: anggaran negara.

Israel, yang kini terlibat dalam dua front besar perang di Gaza dan ketegangan militer dengan Iran harus menanggung beban finansial yang luar biasa besar setiap harinya.

Baca Juga: HANTAMAN DIPLOMATIK KORUT, Pyongyang Kecam Serangan Israel ke Iran: Aksi 'Terorisme' yang Ancam Perdamaian Dunia!

Pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya ongkos yang harus dibayar Israel untuk membiayai konflik ini?

Menurut Brigadir Jenderal (purn.) Re'em Aminach, mantan penasihat keuangan Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), biaya yang harus dikeluarkan Israel untuk konflik bersenjata dengan Iran mencapai sekitar US$725 juta per hari, atau setara dengan Rp11,8 triliun.

Angka ini mencerminkan pengeluaran militer langsung, seperti amunisi, pengoperasian sistem pertahanan, logistik, hingga intelijen.

Perlu dicatat, biaya tersebut belum mencakup dampak sosial-ekonomi lain seperti kerusakan infrastruktur, gangguan layanan publik, atau kehilangan pendapatan akibat aktivitas ekonomi yang terhenti.

Konflik yang lebih lama dan tak kalah mahal adalah yang terjadi di Gaza.

Sejak pecahnya pertempuran pada akhir 2023, Israel telah menghabiskan lebih dari 250 miliar shekel (sekitar US$67,5 miliar) hingga akhir 2024.

Biaya ini mencakup operasi militer, bantuan kemanusiaan dan sipil, serta kompensasi atas kerusakan properti dan gangguan ekonomi.

Salah satu elemen paling membebani adalah pengerahan 300.000 pasukan cadangan, di mana 100.000 di antaranya menghabiskan US$27 juta per hari untuk kebutuhan dasar seperti gaji, makanan, dan logistik.

Besarnya ongkos perang memaksa pemerintah Israel untuk merevisi struktur anggaran negaranya.

Baca Juga: Darah dan Duka, Konflik Israel-Iran Tewaskan 642 Nyawa dalam Sepekan

Anggaran pertahanan dinaikkan secara signifikan, menyerap porsi yang lebih besar dari total belanja negara.

Imbasnya, Kementerian Keuangan Israel harus menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2025 dari 4,3% menjadi 3,6%, terutama karena dampak dari mobilisasi pasukan dalam jangka panjang dan melemahnya aktivitas bisnis di berbagai sektor.

Dengan batas defisit fiskal maksimum yang ditetapkan di 4,9% dari PDB, atau sekitar US$27,6 miliar, Israel kini berada di ambang krisis fiskal.

Baca Juga: Ketegangan Memuncak! Akankah AS Ikut Serang Iran di Tengah Gempuran Israel?

Cadangan dana yang seharusnya digunakan untuk keadaan darurat telah banyak terkuras sejak konflik Gaza berlangsung.

Bahkan, Otoritas Pajak Israel melaporkan telah mengeluarkan lebih dari 3 miliar shekel hanya untuk kompensasi kerusakan properti sipil dari Januari hingga Mei 2025.

Saat ini, pengeluaran pertahanan Israel mendekati 7% dari PDB, tertinggi kedua di dunia setelah Ukraina.

Angka tersebut menunjukkan tekanan berat pada sistem keuangan nasional.

Jika konflik terus berlanjut, bukan tidak mungkin biaya harian akan meningkat melebihi US$725 juta.

Meski kemenangan militer mungkin dapat dicapai, pertanyaan besarnya adalah: mampukah ekonomi Israel bertahan menghadapi perang dua front yang berkepanjangan?

Dalam jangka panjang, Israel tidak hanya harus memikirkan strategi militer, tetapi juga strategi finansial untuk memastikan negaranya tidak kalah di medan yang lebih sunyi neraca anggaran.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.