Banten

BRIN Dorong Iradiasi Pangan Jadi Strategi Ekspor dan Ketahanan Gizi Nasional

Irsyad Mohammad | 29 Juli 2025, 18:35 WIB
BRIN Dorong Iradiasi Pangan Jadi Strategi Ekspor dan Ketahanan Gizi Nasional

 

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mendorong pemanfaatan teknologi iradiasi pangan sebagai solusi strategis untuk dua tantangan utama memperkuat program makan bergizi dan meningkatkan daya saing ekspor produk pertanian Indonesia di pasar global.

Teknologi iradiasi dinilai mampu memperpanjang masa simpan bahan makanan, menjaga kualitas fisik, serta membunuh patogen berbahaya tanpa mengurangi kandungan gizinya. 

Selain itu, iradiasi juga mampu membantu produk pertanian memenuhi standar karantina internasional yang selama ini menjadi penghambat utama dalam ekspor.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Dr. Syaufi Bahri, menjelaskan bahwa proses iradiasi dengan sinar gamma atau partikel elektron dapat meningkatkan daya tahan bahan pangan hingga sepuluh kali lipat. 

Baca Juga: Pameran GIIAS 2025 Dibanjiri Warga, Fasilitas Test Drive Jadi Daya Tarik Utama

Hal ini sangat penting dalam menjamin ketersediaan pangan sehat dan aman, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor.

"Iradiasi ini bukan hanya menjaga kualitas makanan, tetapi juga berkontribusi langsung pada ketahanan gizi nasional. Terlebih, Presiden terpilih Prabowo Subianto juga menaruh perhatian besar pada isu ini," ujar Syaufi usai Forum Group Discussion (FGD) bertema Food Irradiation Application di Gedung BRIN, Serpong, Selasa (29/7/25).

Selain untuk ketahanan pangan, BRIN juga menjadikan iradiasi sebagai bagian dari strategi ekspor nasional. Dalam kegiatan FGD bertajuk 'Aplikasi Iradiasi Pangan untuk Mendukung Ekspor Produk Pertanian Indonesia' di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, BRIN mengundang berbagai pihak dari regulator, peneliti hingga pelaku industri untuk merumuskan arah kebijakan bersama.

"Kita ingin teknologi iradiasi ini masuk dalam strategi ekspor nasional. Ini bisa jadi solusi konkret untuk meningkatkan daya saing produk pertanian kita," ungkap Dr. Syaufi Bahri.

Baca Juga: Menko Airlangga Beri Contoh Data Pribadi Ikut Diperjualbelikan dalam Kesepakatan RI-AS

Namun, hingga kini penerapan teknologi iradiasi di Indonesia dinilai masih terbatas. Minimnya fasilitas, belum kuatnya regulasi, dan rendahnya pemahaman stakeholder menjadi tantangan utama.

BRIN saat ini tengah mendorong produksi alat iradiasi secara massal agar dapat digunakan langsung di pusat-pusat distribusi pangan nasional.

"Kami berharap alat iradiasi ini bisa ditempatkan langsung di sentra pangan, seperti SPG. Dengan begitu, proses tidak harus terpusat dan bisa lebih efisien," kata Syaufi.

Dalam diskusi tersebut, hadir pula Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Ir. Dadan Hindayana, yang menilai teknologi iradiasi sangat relevan untuk menjawab permasalahan dalam program makan bergizi, khususnya dalam memperpanjang ketahanan produk segar yang mudah rusak.

Baca Juga: Petugas Pastikan Tak Ada Korban Jiwa dalam Kebakaran Pasar Taman Puring, Kerugian dan Penyebab Belum Diketahui

"Teknologi ini memberikan solusi agar makanan yang disiapkan jauh hari tetap layak dan bergizi hingga waktu konsumsi tiba, seperti saat Ramadan," ujar Dadan.

Meski mendukung, Dadan menegaskan perlunya pengawasan ketat dan kajian ilmiah berkelanjutan, termasuk edukasi publik, agar masyarakat dapat menerima teknologi ini dengan baik.

"BGN siap mendukung implementasi teknologi ini selama keamanannya terjamin," tambahnya.

Sejumlah narasumber dari BPOM, Badan Karantina Indonesia, BAPETEN, dan Badan Pangan Nasional juga turut memberikan paparan dalam FGD. 

Baca Juga: Tiket Citilink Murah 99 Ribuan Mulainya, Ini Cara Dapat Dijamin Anti Gagal

Mereka sepakat bahwa sinergi antara lembaga riset, regulator, dan industri sangat diperlukan untuk mempercepat adopsi teknologi iradiasi di Tanah Air.

Anggota Dewan Pengarah BRIN, Tri Mumpuni, menekankan bahwa keberhasilan teknologi ini tidak hanya bergantung pada kesiapan infrastruktur, tetapi juga pada komitmen politik dan regulasi yang mendukung.

"Ini bukan hanya soal teknologi, tapi komitmen bersama untuk menjadikan pertanian Indonesia lebih tangguh dan kompetitif di pasar dunia," tandasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.