Banten

Harga BBM Non-Subsidi Naik, Pakar Nilai Langkah Pemerintah Sudah Tepat di Tengah Tekanan Global

Riski Endah Setyawati | 20 April 2026, 20:27 WIB
Harga BBM Non-Subsidi Naik, Pakar Nilai Langkah Pemerintah Sudah Tepat di Tengah Tekanan Global
Ilustrasi BBM (Istimewa)

AKURAT BANTEN - Kenaikan harga bahan bakar minyak non-subsidi yang mulai berlaku pada 18 April 2026 dinilai sebagai keputusan yang logis di tengah gejolak energi dunia.

Pakar ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk penyesuaian yang memang sudah seharusnya dilakukan pemerintah.

“Saya kira sudah tepat. Bahkan ini menjadi koreksi dari kebijakan sebelumnya yang tidak menaikkan harga BBM non-subsidi,” ujarnya.

Baca Juga: Polisi Bongkar Promosi Judi Slot Online via WhatsApp, Pria 24 Tahun Ditangkap di Jakarta

Ia menegaskan bahwa harga BBM non-subsidi, khususnya dengan oktan tinggi seperti RON 92 ke atas, sejak awal memang mengikuti mekanisme pasar.

Menurutnya, perubahan harga seharusnya selaras dengan dinamika minyak mentah global yang terus bergerak fluktuatif.

Saat harga minyak dunia naik, maka harga BBM non-subsidi juga sewajarnya ikut menyesuaikan, meskipun tidak selalu dalam persentase yang sama.

Baca Juga: Polemik Termul Memanas, PDIP Tegaskan Tak Ikut Campur Konflik JK dan Relawan Jokowi

Fahmy menilai kebijakan sebelumnya yang menahan harga justru kurang tepat dan kini telah diperbaiki melalui penyesuaian terbaru.

Dari sisi dampak, ia menilai masyarakat tidak akan terlalu terbebani karena pengguna BBM non-subsidi relatif lebih sedikit dibandingkan BBM subsidi.

“Pengaruhnya terhadap masyarakat menurut saya tidak signifikan,” katanya.

Baca Juga: Terungkap! Alasan Megawati Sempat Tak Mau Teken Pencalonan Jokowi Jika Bukan JK Wakilnya

Ia juga menambahkan bahwa BBM non-subsidi umumnya tidak digunakan untuk distribusi bahan kebutuhan pokok, sehingga efeknya terhadap harga barang tidak terlalu besar.

Di sisi lain, keputusan pemerintah untuk tetap menahan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar dinilai sebagai langkah strategis.

Langkah tersebut dianggap penting untuk menjaga kestabilan inflasi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat.

Baca Juga: Polemik Termul Memanas, PDIP Tegaskan Tak Ikut Campur Konflik JK dan Relawan Jokowi

“Kalau Pertalite dan solar dinaikkan, itu pasti memicu inflasi dan menurunkan daya beli,” ujar Fahmy.

Ia juga menyoroti potensi peralihan konsumsi dari BBM non-subsidi ke subsidi yang dinilai tidak terlalu besar.

Menurutnya, pengguna BBM non-subsidi umumnya mempertimbangkan performa kendaraan sehingga tidak mudah beralih ke bahan bakar dengan oktan lebih rendah.

Baca Juga: Polemik Termul Memanas, PDIP Tegaskan Tak Ikut Campur Konflik JK dan Relawan Jokowi

“Risiko itu pasti ada, tetapi kecil,” katanya.

Pendapat serupa disampaikan oleh ekonom Universitas Negeri Manado Robert Winerungan yang mendukung kebijakan tersebut.

Ia menilai kenaikan BBM non-subsidi tidak akan berdampak signifikan terhadap inflasi karena mayoritas dikonsumsi oleh kelompok masyarakat menengah ke atas.

Baca Juga: Polisi Bongkar Promosi Judi Slot Online via WhatsApp, Pria 24 Tahun Ditangkap di Jakarta

“BBM non-subsidi itu dikonsumsi masyarakat kelas atas yang tidak banyak berkontribusi terhadap inflasi,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya pengawasan agar tidak terjadi peralihan konsumsi ke BBM subsidi secara tidak tepat sasaran.

Ia mengusulkan adanya pembatasan yang lebih tegas, misalnya kendaraan dengan nilai tinggi tidak diperbolehkan menggunakan BBM subsidi.

Baca Juga: Cair Lebih Cepat! Bansos PKH dan BPNT Triwulan II 2026 Sudah Masuk Rekening, Cek NIK Anda Sekarang!

“Perlu ada aturan, misalnya kendaraan dengan harga di atas Rp500 juta tidak boleh mengonsumsi BBM bersubsidi,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga diminta memastikan ketersediaan BBM subsidi tetap aman di lapangan.

Langkah ini penting untuk menghindari antrean panjang serta potensi kelangkaan yang bisa merugikan masyarakat luas.

Baca Juga: Polisi Bongkar Promosi Judi Slot Online via WhatsApp, Pria 24 Tahun Ditangkap di Jakarta

Berdasarkan data terbaru, sejumlah BBM non-subsidi mengalami kenaikan cukup tajam.

Pertamax Turbo kini menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100 per liter.

Dexlite naik menjadi Rp23.600 dari Rp14.200 per liter.

Baca Juga: Ijazah Jokowi Asli, Firdaus Oiwobo Sentil JK, 'Jangan Terpancing Roy Suryo'

Sementara Pertamina Dex meningkat menjadi Rp23.900 dari Rp14.500 per liter.

Di sisi lain, harga Pertamax RON 92 tetap berada di angka Rp12.300 per liter.

Begitu pula Pertamax Green 95 yang masih dijual Rp12.900 per liter.

Kebijakan mempertahankan sebagian harga tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang belum mereda.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.