BSMI Ungkap Israel Siapkan Serangan Besar 9 Oktober, Tim Medis Tak Bisa Lagi Masuk Gaza

AKURAT BANTEN - Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) mengungkap kondisi mencekam yang dihadapi masyarakat Gaza. Tim Emergency Medical Team (EMT) 4 BSMI yang baru saja kembali ke Tanah Air menyebut bahwa Israel tengah menyiapkan serangan besar-besaran pada 9 Oktober mendatang, sehingga akses bagi relawan medis dipastikan tertutup.
Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional (DPN) BSMI, M. Djazuli Ambari, menyatakan rasa syukur atas kembalinya tim medis keempat dengan selamat. Namun, ia menegaskan bahwa perjuangan kali ini adalah yang paling berat.
"Dari tim pertama, kedua, ketiga, dan keempat ini yang paling dramatis perjuangannya karena makin ke sini semakin sulit. Setelah tim ini ke Gaza, tidak bisa lagi masuk tim medis karena akan segera ada okupansi dari Zionis Israel," kata Djazuli.
Baca Juga: Tabungan Berjangka, Cara Menabung Pintar dengan Keuntungan Maksimal
Djazuli menambahkan, kemungkinan besar setelah tim keempat, relawan Indonesia tidak bisa lagi dikirim ke Gaza karena seluruh jalur ditutup. "Sepertinya mereka akan mengepung Kota Gaza," ujarnya.
Sementara itu, salah satu dokter bedah dari Tim EMT 4 BSMI, Dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, menggambarkan kondisi lapangan yang kian memburuk.
Selama 14 hari bertugas di Gaza, ia menyaksikan langsung serangan yang semakin intensif dan korban yang terus bertambah.
Baca Juga: Investasi Leher Ke Atas, Apakah Cocok untuk Pemula?
"Kondisinya dari hari ke hari selalu parah. Ada rencana Israel pada 9 Oktober akan melakukan serangan besar-besaran. Kota Gaza menjadi target. Masyarakat diarahkan ke Khan Younis, dan kami para medis tidak punya pilihan selain ikut kesana membantu warga," ungkapnya.
Iqbal juga menceritakan keterbatasan fasilitas kesehatan di rumah sakit tempat ia bertugas. Pasien di Unit Gawat Darurat (UGD) mencapai 800 orang per hari, sebagian besar korban ledakan bom dan tembakan.
Bahkan, ia terpaksa melakukan operasi tanpa obat bius dan peralatan standar karena persediaan habis.
Baca Juga: Aksi Pencurian di PIK Pakai Pistol Mainan, Dua Pemuda Dibekuk Polisi dalam Hitungan Jam
"Contohnya saat menjahit luka robek, kami tidak lagi punya obat bius. Peralatan operasi harus dipakai bergantian tanpa sempat disterilkan. Sampai ada operasi di ruang yang dipenuhi lalat," tuturnya.
Kondisi kian diperparah dengan serangan terhadap jurnalis. Iqbal menuturkan, ia berada di ruang operasi hanya 30 meter dari lokasi ketika rudal drone Israel menghantam tenda awak media, menewaskan sejumlah jurnalis.
Kata M. Iqbal menegaskan, saat ini seluruh relawan medis internasional termasuk dari Indonesia sudah tidak bisa masuk ke Gaza. Hal ini menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan warga setempat.
"Kalau medis sudah ditutup, masyarakat Gaza tahu itu biasanya kode akan ada serangan darat dari tentara Israel," kata Iqbal.
Baca Juga: Komplotan Curanmor Beraksi di Kembangan, Dua Motor Raib dalam Hitungan Menit
BSMI berharap pemerintah Indonesia terus melanjutkan dukungan kemanusiaan bagi Palestina, salah satunya melalui air drop bantuan logistik yang telah mulai dijalankan Satgas Merah Putih Garuda.
"Saya sangat mendukung sekali air drop yang diusung pemerintah karena kemarin juga sudah terpenuhi kan sama temen-temen dari tim satgas Merah Putih garuda bahwasanya ini lanjutan setelah kita distop tim medis," tandasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










