Ratusan Siswa Keracunan Massal Usai Santap Makan Bergizi Gratis: KBB Siaga KLB, Program MBG Diminta Disetop Sementara

AKURAT BANTEN- Tragedi keracunan massal menggemparkan Bandung Barat. Ratusan siswa di Kecamatan Cipongkor jatuh sakit setelah menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Jumlah korban yang terus melonjak hingga menembus angka 300 lebih membuat pemerintah daerah berencana menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB).
Data terbaru hingga Senin (22/9) malam mencatat, sedikitnya 301 siswa dari berbagai tingkatan—mulai SD, MTs, SMP, hingga SMK—terpaksa dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat.
"Korban masih terus berdatangan. Sangat mungkin angkanya akan terus bertambah," ungkap Kapolsek Sindangkerta, Iptu Sholehuddin.
Para korban, yang mayoritas mengalami gejala mual, muntah, dan pusing, kini dirawat di Puskesmas Cipongkor (116 orang),
Posko Kecamatan (127 orang), RSUD Cililin (27 orang), Bidan Desa Sirnagalih (13 orang), dan RSIA Anugrah (18 orang). Kondisi ini membuat Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB bergerak cepat,
"menyulap" fasilitas kesehatan yang ada untuk menampung lonjakan pasien.
Plt Kepala Dinkes KBB, Lia N. Sukandar, menjelaskan bahwa kebutuhan darurat yang paling mendesak adalah pasokan oksigen.
"Saat ini yang paling dibutuhkan adalah oksigen. Kami meng-handle kebutuhan dari RSUD Cililin dan terus berkoordinasi dengan RSUD Cikalong Wetan untuk tambahan," ujarnya.
Anak-anak Menjadi Korban, KPAI Soroti Kualitas Makanan
Tragedi ini langsung memicu respons dari berbagai pihak, termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Mereka mendesak agar program MBG dihentikan sementara waktu. "KPAI usul hentikan sementara, sampai benar-benar instrumen panduan dan pengawasan yang sudah dibuat pemerintah dilaksanakan dengan baik," tegas Wakil Ketua KPAI, Jasra Putra.
Usulan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan survei yang dilakukan KPAI, CISDI, dan WVI terhadap 1.624 responden anak di 12 provinsi, ditemukan fakta mengejutkan: 583 anak mengaku menerima makanan MBG yang sudah dalam kondisi rusak, berbau, atau basi.
Baca Juga: Pendaftaran Calon Direktur Utama Perumda Pasar Resmi Dimulai
Ironisnya, 11 dari mereka tetap memakan makanan tersebut karena berbagai alasan.
Menanggapi hal ini, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, menyatakan akan melakukan perbaikan menyeluruh.
"BPOM sebagai pembantu Presiden tentu akan mendukung secara maksimal. Ada hal-hal yang terjadi (keracunan) yang belum sesuai harapan, ya kami akan perbaiki," janjinya (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










