Banten

KLB Keracunan Massal 'Makan Bergizi Gratis' Hantam 1.300 Siswa! BGN Gercep Turun Tangan, Dapur Biang Kerok Ditutup Tanpa Batas Waktu!

Saeful Anwar | 26 September 2025, 06:21 WIB
KLB Keracunan Massal 'Makan Bergizi Gratis' Hantam 1.300 Siswa! BGN Gercep Turun Tangan, Dapur Biang Kerok Ditutup Tanpa Batas Waktu!

AKURAT BANTEN-Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat dan tegas menyikapi Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan yang menimpa peserta program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Setelah insiden memilukan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang dalam waktu tiga hari melumpuhkan lebih dari 1.300 siswa, BGN mengambil langkah drastis: menutup permanen dapur penyebab keracunan dan membentuk tim investigasi khusus.

Baca Juga: MBG Hiu Goreng untuk Anak Bahaya? Ini Fakta Sebenarnya Terjadi di Sekolah Soal Makan Bergizi Gratis Masak Hiu

Dampak Nyata: KLB dan Ribuan Korban Mengguncang Publik

Kasus keracunan program MBG kini bukan lagi insiden sporadis, melainkan bencana gizi yang telah dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Pemerintah Kabupaten Bandung Barat.

Jumlah korban yang menembus ribuan siswa dalam kurun waktu singkat menjadi alarm bahaya tertinggi bagi kualitas dan keamanan pangan yang disajikan dalam program nasional ini.

Merespons jumlah korban yang terus membludak, Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menyatakan bahwa badan tersebut tidak akan tinggal diam.

Baca Juga: Siswa Waswas Konsumsi MBG, SPPG Perketat Pengawasan di Dapur

Langkah Tegas: Dapur SPPG Penyebab Keracunan Langsung Disegel

Sebagai tindakan disipliner awal, BGN langsung mengeluarkan surat perintah penutupan bagi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terbukti bermasalah.

“Hari ini sudah kita keluarkan surat kepada semua dapur yang kemarin bermasalah, dimulai karena yang paling banyak di bulan September, kita tutup,” tegas Nanik kepada media di Bogor, Jawa Barat, Kamis (25/9/2025).

Yang lebih mengejutkan, penutupan ini bukan sekadar sanksi sementara. Nanik mengungkapkan bahwa dapur akan ditutup dalam batas waktu yang tidak ditentukan, menunggu hasil tuntas dari proses investigasi.

"Kita sudah kirimin surat per hari ini, yang tadinya cuma sekadar tutup sementara, (sekarang) kita tutup dalam batas waktu yang tidak ditentukan," imbuhnya, menggarisbawahi keseriusan BGN.

Baca Juga: Keracunan Maut MBG di Cipongkor Terulang, Puluhan Siswa SMK Dilarikan ke Rumah Sakit!

Pembentukan 'Tim Khusus' Ahli Kimia, Farmasi & Kesehatan

Selain penutupan dapur, BGN telah membentuk Tim Investigasi Khusus. Tim ini dibentuk untuk menelusuri akar penyebab keracunan dan mencari solusi jangka panjang agar insiden serupa tak terulang.

Tim investigasi ini dipimpin langsung oleh Nanik dan berisikan pakar-pakar mumpuni: ahli kimia, ahli farmasi, dan tenaga ahli di bidang kesehatan. Tugas mereka sangat krusial, mulai dari meneliti proses memasak di dapur hingga memastikan kualitas bahan baku yang digunakan.

Tim BGN ini akan bertindak sebagai 'second opinion' atau penilai kedua, bekerja paralel dengan investigasi dari BPOM. Tujuannya: mempercepat identifikasi penyebab keracunan.

"Sebelum hasil dari BPOM keluar, kami sudah bisa mengidentifikasi kira-kira apa penyebab anak-anak ini sakit," jelas Nanik di kantor BGN, Senin (22/9/2025).

Baca Juga: Ada Kasus Keracunan MBG di Tangerang? Hati-hati Berkaca dari MBG Bermasalah di Kota Besar Lainnya

Verifikasi Super Ketat dan Ancaman Bongkar 'Kongkalikong'

Kasus ini memaksa BGN memperketat regulasi. Nanik menjanjikan bahwa verifikasi dapur SPPG akan diperketat secara drastis.

Pihaknya akan mengirim tim inspeksi ke lapangan untuk mengecek langsung kondisi dapur, bukan lagi mengandalkan foto atau laporan sepihak.

Nanik bahkan mengisyaratkan adanya potensi kecurangan di lapangan. "Mereka (SPPG) biasanya kirim foto sebelum verifikasi, ada koordinator regional itu turun untuk ngecek, bisa jadi ada kongkalikong, misalnya ini dapur nggak menuhin syarat. Kita akan mulai inspeksi satu per satu dapur," paparnya.

Ancaman penutupan permanen disiapkan bagi siapapun yang melanggar. "Bila kita temukan, langsung kita tutup," tegasnya.

Sebagai langkah antisipasi proaktif, BGN juga mewajibkan setiap SPPG untuk menyimpan sampel makanan dalam freezer selama dua hari. Instruksi ini memastikan bahwa jika keracunan terjadi, sampel dapat segera diuji di laboratorium untuk menemukan sumber masalah dengan cepat (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman