Banten

4 Momen Dramatis Penyelamatan Korban Selamat dari Insiden Ambruknya Musala 3 Lantai Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

Saeful Anwar | 5 Oktober 2025, 10:27 WIB
4 Momen Dramatis Penyelamatan Korban Selamat dari Insiden Ambruknya Musala 3 Lantai Ponpes Al Khoziny Sidoarjo

AKURAT BANTEN- Insiden ambruknya bangunan musala tiga lantai milik Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin, 29 September 2025, telah menjadi duka mendalam bagi seluruh Tanah Air.

Per 4 Oktober 2025, tragedi ini mencatat total 118 korban, dengan 14 santri meninggal dunia dan 104 lainnya berhasil diselamatkan.

Namun, di balik data statistik yang membekukan itu, tersimpan kisah-kisah luar biasa tentang perjuangan hidup, keteguhan iman, dan pengorbanan heroik Tim SAR Gabungan.

Cerita para penyintas yang terperangkap selama berhari-hari di bawah reruntuhan beton ini telah merangkai mozaik haru dan pilu, yang menegaskan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati.

Baca Juga: Dahsyatnya Sedekah Subuh: Ini 5 Amalan Ringan Setelah Subuh yang Pahalanya Setara Haji dan Umrah!


Momen-momen evakuasi tak ubahnya seperti operasi militer di medan perang—penuh risiko, membutuhkan keputusan cepat, dan berhadapan langsung dengan maut.

Salah satu kisah paling menggigit datang dari Nur Ahmad, korban selamat yang berhasil dievakuasi pada 30 September 2025.

Nur Ahmad harus menghadapi kenyataan pahit: tangannya terpaksa diamputasi di lokasi kejadian.

Tindakan ekstrem ini dilakukan oleh Tim SAR Gabungan sebagai satu-satunya cara untuk melepaskannya dari himpitan bangunan yang mengancam nyawanya.

dr. Aaron Franklyn Suaduon Simatupang, salah satu tenaga kesehatan (nakes) yang terlibat langsung, menceritakan detik-detik mencekam itu.

"Pikiran saya, saya sudah siap mati sama pasien kalau bangunan itu runtuh. Karena itu sangat berbahaya, salah gerak sedikit ambruk," ujar Aaron.

Di bawah ancaman reruntuhan susulan, dr. Aaron dan timnya bertaruh nyawa. Misi tunggalnya adalah membawa Nur Ahmad keluar dalam keadaan hidup.

Beruntung, proses dramatis yang berakhir pada pukul 01.30 WIB dini hari itu berjalan sukses. Sebuah keputusan genting yang berbuah keselamatan jiwa, meskipun harus dibayar mahal dengan kehilangan anggota tubuh.

Tiga Hari di Bawah Kegelapan: Perjuangan Melawan Lapar dan Keputusasaan

Kisah heroik selanjutnya datang dari Syaiful Rosi Abdillah (13), korban terakhir yang berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup setelah terperangkap selama tiga hari di balik puing.

Sama seperti Ahmad, Rosi juga harus diamputasi. Telapak kaki kanannya remuk parah akibat tertimpa reruntuhan.

Di tengah rasa sakit yang tak terbayangkan, Rosi bersama enam temannya berjuang mendorong beton yang terlalu berat, berteriak minta tolong tanpa didengar, hingga akhirnya pasrah.

Yang paling mengharukan, selama terhimpit di bawah puing, Rosi dan teman-temannya terpaksa berpuasa karena sulitnya akses makanan dan minuman.

Namun, imannya tak pernah padam. Rosi mengaku terus membaca selawat dan istighfar sebagai penawar rasa sakit dan ketakutan.

Ketabahan luar biasa dari seorang santri remaja ini menjadi simbol kekuatan spiritual yang mengalahkan segala keputusasaan.

Tetap Salat dalam Posisi Berbaring: Keteguhan Hati Sang Santri

Keteguhan iman juga terpancar dari Syahlendra Haical alias Haikal (13), yang terjebak di reruntuhan selama dua hari.

Saat petugas rescue menemukannya, pinggang Haikal tertimpa beton hingga ia tak kuasa menahan sakit saat ditarik.

Setelah berhasil dievakuasi, Haikal menceritakan sebuah momen yang menghujam hati: ia sempat mengajak temannya untuk menunaikan salat bersama sebelum insiden.

Di bawah puing, dalam kondisi terbatas, Haikal tetap menunaikan salat.

"Tetap salat dalam posisi berbaring," tuturnya.

Ia bahkan sempat mengajak temannya untuk salat Subuh bersama, tetapi temannya itu tak lagi bersuara.

Haikal baru menyadari, sang teman telah meninggal dunia dalam posisi sujud, tepat di sebelahnya.

Kisah Haikal adalah pengingat tentang betapa pentingnya ketenangan hati dan ketaatan dalam menghadapi situasi terburuk.

Tiga Hari 'Tertidur Pulas' dalam Mimpi Minum dengan Selang

Tak kalah mencengangkan adalah kisah Al Fatih Cakra Buana (14). Fatih baru menyadari musalanya ambruk ketika ia berhasil dievakuasi.

Selama tiga hari terjebak, ia merasa seperti "tertidur pulas" dan meyakini semua kejadian di sekitarnya hanyalah mimpi.

"Seperti tertidur pulas, lalu mimpi minum pakai selang. Rasanya nyata banget. Seperti jalan-jalan di tempat gelap, naik mobil pikap, tapi tidak tahu ke mana," cerita Fatih polos.

Tubuhnya tertutup tumpukan pasir dan kepalanya terlindungi lembaran seng, yang tanpa disadari telah menyelamatkan nyawanya dari material yang lebih berbahaya.

Kisah Fatih menyiratkan mekanisme pertahanan psikologis yang luar biasa, mengubah tragedi menjadi sebuah lamunan panjang.

Peristiwa di Ponpes Al Khoziny ini bukan sekadar catatan kelam kegagalan konstruksi, tetapi juga monumen atas semangat juang dan keajaiban hidup.

Kisah Nur Ahmad, Rosi, Haikal, dan Fatih adalah pelajaran berharga tentang harapan yang tak pernah padam, bahkan saat kita terhimpit di bawah berton-ton beton.

Mereka adalah simbol bahwa doa dan perjuangan seringkali menjadi pembeda antara kegelapan abadi dan fajar kehidupan yang baru (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman