Banten

Menteri HAM Kecam Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus, Natalius Pigai: Negara Tak Boleh Diam!

Cristina Malonda | 13 Maret 2026, 21:22 WIB
Menteri HAM Kecam Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus, Natalius Pigai: Negara Tak Boleh Diam!
Menteri HAM Kecam Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Andrie Yunus

AKURAT BANTEN - Kasus penyiraman air keras terhadap aktivis hak asasi manusia kembali terjadi dan menggemparkan publik luas.

Menteri Hak Asasi Manusia, Natalius Pigai, mendesak aparat kepolisian untuk segera mengusut tuntas pelaku serangan terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.

Pigai mengecam keras aksi kekerasan tersebut dan menilai tindakan penyiraman air keras sebagai bentuk premanisme yang tidak boleh dibiarkan terjadi di Indonesia.

Baca Juga: Resmi! Transjabodetabek Rute Bus SH2 Blok M-Soetta Beroperasi, Tarif Rp3.500 Berlaku Mulai Hari Ini

Saat ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat (13/3/2026), Pigai menegaskan bahwa aparat penegak hukum harus bekerja secara serius untuk mengungkap pelaku serangan tersebut.

Menurutnya, pengusutan yang tuntas sangat penting agar korban dan keluarganya memperoleh rasa keadilan.

Pigai menekankan bahwa Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi perdamaian dan keamanan sehingga segala bentuk kekerasan, termasuk penyiraman air keras terhadap warga, tidak dapat ditoleransi.

Ia juga menegaskan bahwa perbedaan pendapat dalam negara demokrasi seharusnya diselesaikan melalui cara-cara yang damai dan bermartabat, bukan dengan kekerasan.

Baca Juga: Sering Tak Disadari, Kebiasaan Saat Sahur dan Berbuka Ini Bisa Mengganggu Kesehatan Lambung Selama Ramadan

Peran Civil Society dalam Demokrasi

Pigai menyebut bahwa keberadaan organisasi masyarakat sipil seperti KontraS memiliki peran penting dalam sistem demokrasi Indonesia.

Menurutnya, komunitas civil society berfungsi sebagai pengawas dan penyeimbang (check and balances) dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, tindakan kekerasan terhadap aktivis dinilai sebagai ancaman terhadap nilai-nilai demokrasi.

Baca Juga: Dunia Terkecoh! Netanyahu Muncul 'Dari Kematian', Langsung Incar Nyawa Penerus Khamenei

Ia pun menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang menimpa Andrie Yunus dan memastikan pemerintah akan memberikan pendampingan kepada korban.

Selain itu, Kementerian HAM juga berencana menjenguk korban serta melakukan pengawasan terhadap proses penanganan kasus ini.

Kronologi Penyiraman Air Keras

Serangan terhadap Andrie Yunus terjadi pada Kamis malam setelah ia mengikuti kegiatan rekaman siniar (podcast) di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) di Jakarta.

Podcast tersebut mengangkat tema “Remiliterisme dan Judicial Review di Indonesia”.

Kegiatan rekaman selesai sekitar pukul 20.00 WIB, namun Andrie masih berada di kantor hingga sekitar pukul 23.00 WIB sebelum akhirnya pulang menggunakan sepeda motor.

Baca Juga: Tips Mengelola Stres Selama Ramadan agar Pikiran Tetap Tenang dan Aktivitas Sehari-hari Berjalan Lebih Seimbang

Sebelum menuju rumah, ia sempat mengisi bahan bakar di SPBU kawasan Cikini.

Sekitar pukul 23.37 WIB, saat melintas di Jalan Salemba I menuju kawasan Talang, Andrie melihat sebuah sepeda motor yang ditumpangi dua orang melawan arah.

Motor tersebut diduga berjenis Honda Beat atau Honda Vario model lama berwarna hitam dengan panel putih di bagian belakang.

Saat kedua kendaraan berpapasan, salah satu pelaku tiba-tiba menyiramkan cairan yang diduga air keras ke arah korban.

Cairan tersebut mengenai bagian kanan tubuh Andrie, termasuk mata, wajah, dada, serta kedua tangan.

Baca Juga: Bea Cukai Soekarno-Hatta Bongkar Aksi Penyelundupan Narkoba Internasional di Bandara Terbesar Indonesia

Akibat serangan itu, Andrie langsung berteriak kesakitan dan kehilangan kendali hingga menghentikan motornya dan terjatuh.

Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, menyatakan bahwa korban mengalami luka serius akibat serangan tersebut.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Andrie mengalami luka bakar sekitar 24 persen pada tubuhnya.

Setelah kejadian, korban segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis intensif.

Baca Juga: Beras Melimpah Sepanjang 2026 Stok Nasional Diproyeksi Tembus 47 Juta Ton

KontraS juga mengungkap bahwa beberapa hari sebelum kejadian, Andrie sempat menerima panggilan dari nomor tidak dikenal.

Panggilan tersebut terjadi dalam rentang waktu 9 hingga 12 Maret 2026.

Pihak KontraS menduga adanya keterkaitan antara panggilan misterius tersebut dengan serangan yang dialami korban.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik, dan berbagai pihak mendesak agar aparat kepolisian segera mengungkap pelaku serta motif di balik aksi kekerasan tersebut. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.