Banten

Kepala Sekolah SMPN 19 Tangsel klaim Kasus Dugaan Bullying Sudah Dimediasi, Keluarga Korban Sebut Sekolah Lepas Tangan

Irsyad Mohammad | 10 November 2025, 19:31 WIB
Kepala Sekolah SMPN 19 Tangsel klaim Kasus Dugaan Bullying Sudah Dimediasi, Keluarga Korban Sebut Sekolah Lepas Tangan

AKURAT BANTEN - Kepala Sekolah SMP Negeri 19 Tangerang Selatan, Firda, akhirnya angkat bicara terkait kasus dugaan perundungan terhadap siswa kelas VII, MH (13), yang kini tengah dirawat intensif akibat luka di kepala. Ia menjelaskan, pihak sekolah sejak awal sudah memediasi kedua belah pihak dan menilai persoalan telah diselesaikan secara kekeluargaan.

"Waktu itu hari Senin, saya sedang supervisi di kelas, tidak ada tanda-tanda apa pun. Kejadiannya saat jam istirahat, menurut informasi, anak itu dijedotin ke bangku," ujar Firda, Senin (10/11/2025).

Ia menuturkan, setelah kejadian, korban masih terlihat baik-baik saja dan bahkan sempat kembali mengikuti kegiatan belajar seperti biasa.

Baca Juga: TERUNGKAP! Lisa Mariana 'Seteru' Ridwan Kamil Jadi Tersangka Video Syur: Polisi Ungkap Unsur Kesengajaan Perekaman, Kini Menjadi Viral

"Anaknya waktu itu happy. Setelah itu saya dapat kiriman foto, ada ananda H ditutup matanya dan dibawa ke sini (ruang guru)," ungkapnya.

Firda mengatakan, pihak sekolah kemudian memfasilitasi pertemuan antara keluarga korban dan keluarga terduga pelaku hingga tercapai kesepakatan bersama.

"Kami bantu menjembatani. Kedua belah pihak sepakat, dan tertuang dalam surat pernyataan orang tua pelaku yang menyanggupi biaya pengobatan untuk mata dan kepala korban. Jadi kami anggap sudah selesai, sekolah sudah membantu memediasi," ujarnya.

Baca Juga: Bupati Hasbi Lantik Sekda Lebak Halson Nainggolan Gantikan Budi Santoso

Beberapa hari setelah kesepakatan itu, wali kelas sempat mengunjungi rumah korban untuk menjenguk dan memastikan kondisi MH.

"Wali kelas ke sana hari Kamis, katanya kaki dan tangan anaknya lemas. Tapi waktu dijenguk, posisinya matanya sudah tidak ditutup, masih ngobrol. Kami pikir tidak ada masalah lagi," jelas Firda.

Namun, pihak sekolah kemudian mendapat kabar terbaru bahwa kondisi MH memburuk hingga harus dirawat di rumah sakit.

Baca Juga: Tanjung Lesung Bersinar di Panggung Wisata Nasional, Ribuan Wisatawan Padati Exciting Banten Festival 2025

"Akhirnya kami di-WA keluarga korban kalau kondisinya menurun. Katanya setelah makan, anaknya dijedotin di dalam kelas. Tapi mereka berdua duduknya sebelahan, jadi kami pikir ini bercanda yang kelewatan," kata Firda.

Menurutnya, sekolah telah melakukan langkah sesuai prosedur, termasuk melibatkan guru BK dan pihak terkait dalam pendampingan.

"Sudah banyak komunikasi dengan BK, sudah ngobrol kedua belah pihak, dan semuanya sudah tertuang di surat pernyataan. Jadi tidak ada miss komunikasi, sudah sesuai tahapan di sekolah," tegasnya.

Firda mengakui, peristiwa ini menjadi bahan evaluasi bagi pihak sekolah agar lebih berhati-hati ke depan.

"Tentu ini jadi pembelajaran. Wali kelas juga sudah polling ke siswa, apakah ada kejadian aneh sebelumnya. Ini memang kejadian baru. Kami pasti akan nengok lagi ke rumah korban," katanya.

Baca Juga: Meutya Hafid Dorong Perempuan UMKM Tembus Pasar Digital dan Jadi Pahlawan Ekonomi Baru

Ia menambahkan, pihak sekolah juga telah menyarankan agar korban sementara tidak mengikuti kegiatan belajar di sekolah hingga pulih.

"Makanya saya bilang, jangan sekolah dulu deh. Kalau pun ada tugas-tugas, kami kirimkan ke rumah. Itu tidak dipaksakan, semampunya saja," tuturnya.

Sementara itu, paman korban, Budiyanto (41), menyayangkan sikap pihak sekolah yang dinilai tidak menunjukkan empati dan perhatian terhadap kondisi keponakannya.

Baca Juga: Bandung Zoo Kabur dari PKBSI, Pengakuan Mengejutkan Soal Konflik Internal Terkuak

"Sekolah cuma datang dua hari setelah kejadian. Baru datang lagi sekarang (Senin 10 November 2025) Pihak sekolah kemana, padahal kami berharap," ujarnya dengan nada kecewa.

Ia menegaskan, keluarga hanya menginginkan keadilan dan tanggung jawab penuh dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Tangsel.

"Pihak sekolah lepas tangan, tidak mau tanggung jawab sama masalah ini. Kami cuma ingin ada perhatian buat anak kami yang sekarang masih dirawat," katanya.

Baca Juga: KGPH Hangabehi Anak Tertua Mendiang PB XIII Bocorkan Fakta Penting, Penetapan Raja Jawa yang Baru Ternyata Belum Final

Keluarga berharap Pemerintah Kota Tangerang Selatan turun tangan secara serius melalui Dinas Pendidikan, DP3AP2KB, dan instansi terkait untuk memastikan penanganan kasus berjalan transparan dan adil.

"Harus ada perhatian, karena biaya pengobatan ini besar. Dan tolong juga evaluasi sistem pengawasan di sekolah. Harusnya di setiap ruang kelas ada CCTV, supaya kejadian seperti ini gak terulang," tandasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.