Perang Darat AS ke Iran Diragukan, Pengamat Sebut Risikonya Bisa Lebih Parah dari Irak

AKURAT BANTEN - Kemungkinan Amerika Serikat melancarkan perang darat ke Iran dinilai sangat kecil oleh sejumlah pengamat.
Selain berisiko tinggi, langkah tersebut dianggap tidak sebanding dengan tantangan yang akan dihadapi di lapangan.
Dalam pembahasan terkait dinamika geopolitik terbaru, pengamat militer menyoroti besarnya wilayah Iran sebagai salah satu faktor utama.
Negara tersebut memiliki luas yang jauh melampaui Irak, bahkan disebut mencapai tiga kali lipat, sehingga membutuhkan kekuatan militer yang jauh lebih besar untuk dikuasai.
Baca Juga: Jawab Tudingan Donald Trump, Presiden Iran Kirim Surat Mengejutkan ke Publik Amerika
Tidak hanya luas wilayah, kondisi geografis Iran juga dinilai menyulitkan.
Topografi yang didominasi pegunungan serta akses masuk yang terbatas membuat operasi militer darat menjadi jauh lebih kompleks.
Situasi ini berbeda dengan Irak yang relatif lebih terbuka saat invasi terjadi pada awal 2000-an.
Dari sisi kebutuhan pasukan, invasi ke Iran diperkirakan memerlukan jumlah personel dalam skala sangat besar.
Hal ini tentu menjadi beban berat, baik secara logistik maupun dari sisi anggaran.
Belum lagi risiko korban jiwa yang berpotensi meningkat jika konflik berlangsung lama.
Melihat berbagai tantangan tersebut, pengamat menilai Amerika Serikat cenderung menghindari skenario perang darat.
Sebagai gantinya, pendekatan yang lebih mungkin dilakukan adalah melalui tekanan militer terbatas, termasuk penguasaan wilayah strategis yang memiliki nilai ekonomi dan geopolitik tinggi.
Salah satu titik yang sering disebut adalah kawasan Selat Hormuz.
Jalur ini merupakan salah satu rute penting dalam distribusi minyak dunia.
Dengan mengendalikan wilayah tersebut, tekanan terhadap Iran bisa dilakukan tanpa harus masuk lebih jauh ke daratan.
Selain faktor militer, pertimbangan politik juga memegang peranan penting.
Kebijakan luar negeri Amerika Serikat tidak lepas dari dinamika politik domestik, termasuk kepentingan pemerintahan yang sedang berkuasa.
Perang berskala besar dinilai dapat memicu tekanan publik di dalam negeri, terutama jika menimbulkan korban jiwa dan beban ekonomi yang besar.
Oleh karena itu, keputusan untuk melakukan invasi darat tidak bisa diambil secara sembarangan.
Di sisi lain, Iran diperkirakan tidak akan tinggal diam jika terjadi konflik terbuka.
Negara tersebut diyakini memiliki strategi untuk memperpanjang perang, sehingga dapat melemahkan lawan secara perlahan, baik dari sisi militer maupun ekonomi.
Kondisi ini semakin memperkuat alasan mengapa invasi darat bukan pilihan utama.
Risiko yang terlalu besar membuat opsi tersebut menjadi kurang relevan dalam konteks geopolitik saat ini.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, para pengamat sepakat bahwa konflik antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan besar tidak akan berkembang menjadi perang darat skala penuh.
Baca Juga: Bom Tandan Iran Hancurkan Pipa Air Utama Tel Aviv, Timbulkan Kepanikan dan Banjir Besar
Strategi yang lebih terbatas dan terukur dinilai jauh lebih realistis untuk dilakukan.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










