China Tawarkan Hadiah 10 Insentif Untuk Taiwan, Diplomasi atau Strategi Politik?

AKURAT BANTEN - China kembali menjadi sorotan setelah menawarkan hadiah 10 paket insentif untuk Taiwan, yang mencakup pelonggaran sektor pariwisata, media, hingga perdagangan produk pangan.
Kebijakan ini muncul di tengah dinamika hubungan lintas selat yang kembali menghangat setelah kunjungan tokoh oposisi Taiwan ke Beijing.
Langkah ini diumumkan setelah kunjungan ketua partai oposisi Taiwan, Cheng Li-wun, yang melakukan pertemuan dengan Presiden China, Xi Jinping.
Baca Juga: Dijuluki Bapak Program Rudal Iran, Siapa Hassan Tehrani Moghaddam?
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas pentingnya stabilitas, perdamaian, dan upaya rekonsiliasi antara China dan Taiwan.
Kuomintang (KMT), partai oposisi utama di Taiwan, turut menjadi bagian penting dalam dialog politik ini, yang oleh Beijing disebut sebagai upaya membuka kembali komunikasi lintas selat.
Isi 10 Langkah Insentif dari China
Menurut laporan media resmi Xinhua, kebijakan baru ini mencakup beberapa poin utama, di antaranya:
Pelonggaran pembatasan pariwisata lintas selat
Wacana pembukaan kembali penerbangan penuh antara China dan Taiwan
Izin kunjungan bagi warga dari Shanghai dan Fujian ke Taiwan
Fasilitasi penjualan produk makanan dan hasil perikanan Taiwan ke pasar China
Pelonggaran standar inspeksi produk pangan dengan syarat politik tertentu
Pembukaan izin tayang untuk drama, dokumenter, dan animasi Taiwan dengan kriteria tertentu
Baca Juga: Italia Geram! Soal Donald Trump Serang Paus Leo XIV, Hubungan Diplomatik Terancam?
China menegaskan bahwa berbagai kebijakan ini tetap berada dalam kerangka politik “menentang kemerdekaan Taiwan”.
Menanggapi kebijakan tersebut, Dewan Urusan Daratan Taiwan nampak masih skeptis terhadap langkah baik hati Beijing.
Pemerintah Taiwan menegaskan bahwa mereka mendukung pertukaran lintas selat yang sehat dan saling menguntungkan, namun menolak segala bentuk interaksi yang disertai prasyarat politik.
Presiden Taiwan saat ini, Lai Ching-te, juga menegaskan penolakannya terhadap klaim kedaulatan Beijing atas Taiwan, yang masih menjadi sumber ketegangan utama kedua pihak.
Adapun, diplomat Amerika Serikat di Taiwan menyerukan agar China menghentikan tekanan dan ancaman militer terhadap Taiwan.
Washington menilai dialog langsung antara kedua pihak penting untuk mengurangi risiko kesalahpahaman dan menjaga stabilitas kawasan Asia Timur. ***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026







