Dicegat Massa di Nias Selatan, Wapres Gibran Beri Jawaban Tak Terduga Soal PT Gruti!

AKURAT BANTEN – Kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Nias Selatan pada Minggu (21/12/2025) menjadi panggung bagi dua wajah realitas di "Tanah Para Pelompat Batu".
Di satu sisi, ada secercah harapan bagi ribuan warga desa yang terisolasi, namun di sisi lain, terdengar jeritan dari Kepulauan Batu tentang ancaman penggundulan hutan yang telah berlangsung puluhan tahun.
1. Jembatan Gomo: Memutus Rantai Isolasi dan Ketakutan
Bagi siswa SMKN 1 Boronadu, berangkat sekolah bukan sekadar menuntut ilmu, melainkan bertaruh nyawa.
Sebanyak 60 persen siswa sekolah tersebut harus menyeberangi Sungai Gomo setiap hari. Saat hujan turun dan air meluap, pendidikan pun berhenti—desa mereka terisolasi.
Melihat kondisi ini, Wapres Gibran yang didampingi Gubernur Sumut Bobby Nasution, menginstruksikan pembangunan jembatan gantung secara permanen dan terpadu.
"Pembangunan ini mendesak. Bukan hanya soal mobilitas, tapi soal keselamatan dan masa depan anak-anak kita. Saya minta segera ditindaklanjuti dengan aspek keamanan yang matang," tegas Gibran.
Jembatan ini diproyeksikan menjadi urat nadi baru bagi empat desa yang selama ini lumpuh setiap kali alam tidak bersahabat.
Kehadiran negara di wilayah pelosok ini diharapkan bukan sekadar seremoni, melainkan solusi nyata yang berkelanjutan.
Baca Juga: Skandal Perselingkuhan Oknum Disdik Bogor: Sanksi Pemecatan dan Pesan Menohok Bupati Rudy Susmanto
2. Aksi Berani di Persimpangan Lahusa: "Tutup PT Gruti dan PT Teluk Nauli!"
Namun, perjalanan Wapres tidak melulu soal pembangunan fisik. Di persimpangan Jalan Kecamatan Lahusa menuju Gomo, iring-iringan Wapres dihadang oleh aksi damai Aliansi Masyarakat Lintas Sektoral Nias Selatan.
Dengan spanduk yang membentang, masyarakat menyuarakan keresahan yang sudah terpendam selama 39 tahun. Mereka menuntut penghentian aktivitas penebangan hutan oleh PT Gruti dan PT Teluk Nauli di wilayah Kepulauan Batu.
Rendos Halawa, perwakilan aliansi, menyampaikan langsung kekhawatiran warga di depan Wapres.
Mereka tidak ingin Nias Selatan bernasib sama dengan Tapanuli Tengah dan Sibolga yang didera bencana akibat kerusakan lingkungan.
3. Respon Wapres dan Komitmen Bobby Nasution
Momen menarik terjadi ketika Gibran memutuskan untuk menghentikan agendanya sejenak demi berdialog langsung dengan massa aksi.
Wapres tampak serius menggali informasi, bahkan sempat menanyakan detail kepemilikan perusahaan yang dituding merusak ekosistem pesisir tersebut.
Gibran Rakabuming: Mengapresiasi keberanian warga dan berjanji menjadikan aspirasi ini bahan koordinasi pusat.
Bobby Nasution: Berjanji akan turun langsung ke lapangan untuk mengecek legalitas dan dampak lingkungan di Kepulauan Batu dalam waktu dekat.
4. Harapan untuk Kelestarian Kepulauan Batu
Ketua Cabang GMKI Telukdalam, Mikael Halawa, menegaskan bahwa masyarakat tidak akan berhenti sampai ada langkah konkret. "Kami butuh tindakan tegas dan transparan.
Hutan kami adalah jantung kehidupan kami," ujarnya.
Kunjungan kerja kali ini meninggalkan pesan kuat: Nias Selatan memang butuh jembatan untuk terhubung dengan dunia luar, namun mereka juga butuh perlindungan hutan agar tetap bisa berpijak di tanah mereka sendiri (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










