Banten

Nasib Tragis Siswa SD di Lampung: Makan Siang Gratis Berujung Keracunan, Guru Mengamuk!

Saeful Anwar | 13 Januari 2026, 13:45 WIB
Nasib Tragis Siswa SD di Lampung: Makan Siang Gratis Berujung Keracunan, Guru Mengamuk!

AKURAT BANTEN-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi angin segar bagi kesehatan siswa, justru berubah menjadi petaka di sebuah Sekolah Dasar di Lampung.

Alih-alih mendapatkan nutrisi, belasan siswa justru harus dilarikan ke fasilitas kesehatan akibat dugaan keracunan makanan yang sudah tidak layak konsumsi alias basi.

Baca Juga: Kemenkes 'Sikat' Praktik Bullying: Pendidikan Dokter Spesialis Mata di RSMH Palembang Resmi Dihentikan!

Kronologi Kejadian: Bau Menyengat di Atas Meja Belajar

Peristiwa memilukan ini mencuat setelah video seorang guru yang meluapkan kemarahannya viral di media sosial.

Dalam rekaman tersebut, sang guru menunjukkan paket makanan yang dibagikan kepada siswa dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, gejala mulai muncul sesaat setelah para siswa menyantap jatah makan siang mereka.

Berikut adalah poin-poin penting dari insiden tersebut:

  • Total Korban: Sebanyak 11 siswa diduga mengalami gejala keracunan seperti mual, pusing, hingga muntah-muntah.
  • Kondisi Makanan: Guru di lokasi menyebutkan bahwa makanan tersebut mengeluarkan aroma tidak sedap (basi) saat dibuka.
  • Reaksi Pihak Sekolah: Kemarahan guru menjadi representasi rasa trauma dan ketakutan akan keselamatan nyawa anak didik mereka.

Baca Juga: Era Baru Garuda! John Herdman Resmi Jadi Arsitek Timnas Indonesia, Ini Target Besarnya!

Mengapa Ini Bisa Terjadi?

Insiden ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program makan siang gratis di daerah.

Ada beberapa lubang pengawasan yang perlu disoroti secara tajam:

Quality Control (QC) yang Lemah: Bagaimana mungkin makanan basi bisa lolos hingga ke tangan siswa?

Ini menunjukkan tidak adanya pengecekan berlapis dari pihak penyedia (catering).

  • Sistem Distribusi: Faktor cuaca atau durasi pengiriman yang terlalu lama tanpa penyimpanan yang tepat (suhu ruang) mempercepat pembusukan makanan.
  • Standar Kebersihan: Higienitas dapur penyedia jasa makanan kini dipertanyakan oleh wali murid dan pihak sekolah.

Baca Juga: BYE MACET! Skytrain Bakal Tembus Tangsel dan Bogor, Jadi Penyelamat Baru Warga Penyangga Jakarta

Dampak dan Langkah Selanjutnya

Kasus ini bukan sekadar masalah perut, melainkan masalah kepercayaan publik.

Orang tua kini merasa was-was melepaskan anak-anak mereka untuk mengonsumsi makanan dari program pemerintah jika standar keamanannya serendah ini.

"Kami menitipkan anak untuk belajar dan sehat, bukan untuk sakit karena kelalaian penyedia makanan," ujar salah satu perwakilan wali murid dengan nada kecewa.

Pihak berwenang setempat dilaporkan tengah melakukan investigasi mendalam terhadap vendor penyedia makanan tersebut.

Sanksi tegas hingga pemutusan kontrak menjadi tuntutan utama agar kejadian serupa tidak terulang di sekolah lain.

Baca Juga: Siap-Siap! Ini Jadwal Pencairan THR Lebaran 2026: Karyawan Swasta dan ASN Wajib Simak Aturan Terbaru

Nutrisi Harus Sejalan dengan Edukasi

Program besar seperti Makan Bergizi Gratis tidak boleh hanya mengejar target kuantitas (jumlah anak yang makan), tetapi harus mengutamakan kualitas dan keamanan pangan.

Nyawa siswa adalah taruhan yang terlalu besar untuk sebuah kelalaian administratif (**) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman