BRIN Telusuri Jejak Sampah Pariwisata di Bali hingga Labuan Bajo untuk Rumuskan Kebijakan Nasional

Akurat Banten - Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mulai membuka bab baru dalam riset pengelolaan lingkungan dengan meneliti secara khusus kontribusi sampah dari sektor pariwisata yang selama ini belum memiliki data komprehensif.
Penelitian ini digagas karena sektor pariwisata kerap disebut sebagai salah satu penyumbang sampah besar, namun belum pernah dihitung secara terukur dan berbasis data lapangan.
Peneliti BRIN Profesor Reza Cordova mengatakan selama ini kajian sampah lebih banyak menyoroti permukiman, industri, dan perkantoran, sementara pariwisata justru masih menjadi ruang kosong dalam peta data nasional.
“Ada banyak sektor yang menyumbang sampah, ada pemukiman, industri, perkantoran, nah pariwisata kami masih kosong datanya, kami mau melihat dari sektor pariwisata yang ada di Indonesia itu berapa banyak,” ujar Reza.
Untuk tahap awal, BRIN memilih Bali, Yogyakarta, Lombok, dan Labuan Bajo sebagai lokasi penelitian karena kawasan tersebut dikenal sebagai destinasi wisata unggulan dengan arus kunjungan yang tinggi.
Baca Juga: Pemkot Tangsel Tahan Pembayaran, 1.800 Honorer Terkendala Dasar Hukum
Reza menjelaskan Bali menjadi perhatian utama lantaran pariwisata di Pulau Dewata berkontribusi besar terhadap devisa negara, sehingga dampak lingkungannya perlu dicermati lebih serius.
Riset ini tidak sekadar menghitung volume sampah, tetapi juga memetakan beban pengelolaan, alur penanganan, serta praktik yang sudah berjalan di tingkat pelaku usaha.
Ketika penelitian rampung, BRIN menargetkan menghasilkan ringkasan kebijakan yang bisa menjadi acuan pemerintah dalam menyusun strategi pengelolaan sampah pariwisata secara nasional.
“Kami mau melihat bagaimana sebenarnya bebannya, pengelolaannya, kami akan melihat juga ada contoh baik atau tidak yang bisa dikelola secara umum di Indonesia,” kata Reza.
Ia menambahkan, jika pola pengelolaan yang efektif berhasil diidentifikasi, BRIN akan merekomendasikan kebijakan khusus, terutama terkait pengurangan sampah plastik dari sektor pariwisata.
Pada fase awal pengumpulan data, tim peneliti akan menyasar puluhan titik sampel yang mencakup akomodasi wisata dan objek wisata di empat daerah tersebut.
Secara pengamatan awal, Reza mengakui masih banyak pelaku usaha, terutama akomodasi non-bintang, yang belum memiliki sistem pengelolaan sampah yang memadai.
Kondisi ini diperparah dengan keberadaan akomodasi ilegal yang diduga tidak mengelola sampah sama sekali dan akhirnya membebani pemerintah daerah.
Data lapangan inilah yang nantinya akan menjadi dasar BRIN untuk merumuskan solusi penanganan sampah yang realistis dan bisa diterapkan oleh pelaku usaha.
Solusi tersebut mencakup penentuan jenis sampah yang wajib dikelola mandiri oleh pelaku usaha serta pendekatan yang paling efektif agar kebijakan bisa berjalan.
Baca Juga: Terungkap! Anak Jadi Tersangka Kasus Kematian Satu Keluarga di Warakas, Motifnya Bikin Geleng Kepala
“Berdasarkan data yang dihimpun di awal, wilayah wisata ini sudah ada pengelolaannya tetapi menyerahkan ke pemda atau ke pihak ketiga,” ujar Reza.
Menurutnya, pengelolaan yang ideal seharusnya dimulai dari sumber dengan pemilahan sampah sejak awal.
“Kalau dari sumber sudah terkelola, maka seharusnya yang masuk ke TPA lebih kecil,” katanya.
BRIN akan mengidentifikasi titik-titik krusial yang selama ini terabaikan untuk kemudian diberi rekomendasi perbaikan.
Kajian ini ditargetkan rampung pada September mendatang jika seluruh titik penelitian dapat diselesaikan sesuai rencana.
Di sisi lain, BRIN juga mendorong pelaku usaha pariwisata untuk tidak menunggu kebijakan, melainkan mulai sejak dini mengelola sampah, terutama sisa makanan dan plastik.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










