Heboh Punya Indonesia Sistem Navigasi Otonom untuk Awasi Perairan Tanpa Awak

AKURAT BANTEN - Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kawasan perairan yang sangat luas memerlukan teknologi pemantauan yang mampu bekerja efektif di berbagai wilayah.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Elektronika (PRE), Organisasi Riset Elektronika dan Informatika, mengembangkan sistem navigasi elektronik berbasis Field Programmable Gate Array (FPGA) untuk Platform Bergerak Mandiri Atas Permukaan Air (PBMAPA).
Teknologi ini dikembangkan guna mendukung pengoperasian platform pemantau perairan tanpa awak yang dapat bergerak otomatis dan melakukan navigasi secara real-time.
Inovasi tersebut menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat sistem pemantauan lingkungan perairan Indonesia, mulai dari danau, waduk, tambak, hingga kawasan pesisir.
Baca Juga: Heboh Temuan Paspor Jemaah Haji Berserakan di BSD, Imigrasi Tangerang Lakukan Penyelidikan
Peneliti Ahli Madya PRE sekaligus koordinator riset, Bernadus Herdi Sirenden, mengatakan penggunaan FPGA memiliki keunggulan dalam pengolahan data karena mampu menjalankan banyak proses secara paralel dengan kecepatan tinggi.
“Platform yang kami kembangkan merupakan sistem pemantau yang dapat bekerja secara mandiri dan memiliki kemampuan bernavigasi secara real-time. Penggunaan FPGA memberikan keunggulan berupa kemampuan komputasi paralel yang tinggi sehingga sangat sesuai untuk pengolahan data navigasi dan sensor secara bersamaan,” ujar Ben, sapaan akrab Bernadus.
Ia menjelaskan, pemantauan kualitas lingkungan perairan membutuhkan pengukuran di sejumlah titik agar kondisi ekosistem dapat dipetakan secara lebih menyeluruh.
Oleh sebab itu, berbagai sensor lingkungan perlu dipasang pada platform bergerak yang dapat berpindah otomatis dari satu lokasi pengamatan ke lokasi lainnya.
Baca Juga: Terbongkar Faktor Pemicu DBD di Perkotaan, Ternyata Bukan Cuma Nyamuk
“Pengukuran di beberapa titik perairan akan lebih efisien apabila sensor ditempatkan pada platform bergerak yang dikendalikan secara otomatis. Dengan demikian, proses pengumpulan data dapat dilakukan secara lebih luas, cepat, dan konsisten,” jelasnya.
Dalam penelitian tersebut, lanjut Ben, tim berhasil merancang sekaligus membangun sistem navigasi elektronik berbasis FPGA yang terintegrasi dengan berbagai perangkat pendukung pengujian.
Infrastruktur yang dikembangkan meliputi sistem pengukur gaya dorong thruster menggunakan load cell, platform uji bergerak di atas permukaan air, hingga sistem GPS berbasis Real Time Kinematic (RTK) dengan tingkat akurasi mencapai 2 sentimeter.
Menurut Ben, keberadaan sistem pengujian itu memungkinkan evaluasi performa navigasi dilakukan dengan tingkat presisi lebih tinggi.
Dua thruster dapat dioperasikan secara paralel untuk menghasilkan data gaya dorong yang akurat.
Sementara itu, platform pengujian di atas air dirancang menyerupai kondisi operasional sebenarnya sehingga mampu mensimulasikan pergerakan kendaraan secara realistis.
“Kami juga mengembangkan sistem GPS berbasis RTK yang diuji di area danau untuk mengukur serta memvalidasi akurasi pergerakan platform. Dengan akurasi hingga 2 cm, sistem ini dapat mendukung evaluasi performa navigasi secara lebih tepat,” ungkap Ben.
Selain menghasilkan rancangan perangkat keras sistem navigasi elektronik untuk PBMAPA, penelitian ini juga menargetkan keluaran berupa Intellectual Property (IP) dalam bentuk rangkaian kode Hardware Description Language (HDL).
Kode tersebut nantinya dapat diterapkan pada berbagai platform bergerak mandiri di atas permukaan air untuk mendukung pemantauan lingkungan hingga deteksi objek bawah air.
Bernadus menambahkan, sistem yang dikembangkan memiliki kemampuan menjalankan berbagai fungsi secara bersamaan, mulai dari navigasi, pengendalian aktuator, hingga akuisisi data sensor dengan dukungan manajemen daya yang efisien.
“Sistem ini mampu mengelola berbagai proses secara paralel, mulai dari navigasi, pengendalian aktuator, hingga akuisisi data sensor, dengan dukungan manajemen daya yang efisien dan responsif dalam berbagai kondisi lapangan,” jelasnya.
Ke depannya, teknologi ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan pemantauan serta pengelolaan sumber daya perairan.
Selain mendukung analisis kualitas air, sistem tersebut juga berpotensi digunakan untuk pemetaan sampah terendam, observasi biota perairan, pemantauan tambak, hingga inspeksi bendungan, waduk, dan berbagai instalasi industri yang sulit dijangkau manusia.
Melalui pengembangan sistem navigasi otonom berbasis FPGA ini, BRIN tidak hanya memperkuat kemampuan pemantauan lingkungan perairan nasional, tetapi juga mendorong kemandirian teknologi Indonesia dalam mendukung pengelolaan sumber daya perairan yang berkelanjutan.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Jerman Peringatkan Rusia Bisa Ancam NATO pada 2029, Eropa Mulai Siaga Perang
- 10Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan







