Banten

Transportasi Tanpa Macet? ITS dan Teknologi Cerdas yang Ubah Wajah Jalan Raya

Viona Sebastian Nolani | 22 Juni 2026, 17:43 WIB
Transportasi Tanpa Macet? ITS dan Teknologi Cerdas yang Ubah Wajah Jalan Raya
Integrasikan Teknologi Informasi Sensor hingga AI, Peneliti BRIN Kembangkan Sistem Transportasi Cerdas. (brin.go.id)

AKURAT BANTEN - Pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat serta tingginya aktivitas mobilitas masyarakat membuat sistem transportasi konvensional menghadapi sejumlah persoalan besar.

Berbagai tantangan seperti kemacetan, tingginya risiko kecelakaan, peningkatan penggunaan energi, hingga bertambahnya emisi gas rumah kaca menjadi masalah yang perlu segera diatasi.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Intelligent Transportation System (ITS) atau sistem transportasi cerdas hadir sebagai inovasi berbasis teknologi yang menggabungkan infrastruktur transportasi dengan teknologi informasi, komunikasi, sensor, serta kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Galih Nugraha Nurkahfi, Peneliti Ahli Muda di Pusat Riset Telekomunikasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menjelaskan bahwa dirinya bersama tim sedang mengembangkan Intelligent Transportation System (ITS) yang berfokus pada integrasi teknologi informasi dan komunikasi dengan infrastruktur transportasi serta kendaraan.

Baca Juga: Kapal Patroli FPB 28 Diuji, Begini Peran Teknologi Hidrodinamika untuk Perkuat Pengawasan Maritim

Integrasi tersebut mencakup berbagai teknologi seperti sensor, sistem komputasi, tracking telekomunikasi, hingga kecerdasan buatan.

“Beberapa faktor yang melatarbelakangi pengembangan ITS antara lain adanya kemacetan dan mobilitas; keselamatan jalan; efisiensi energi dan lingkungan; keterbatasan infrastruktur; teknologi Push; market demand; dan perkembangan kendaraan otonom,” ujar Galih pada acara kunjungan mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika, Rabu (17/6).

Dalam penerapannya, ITS menggunakan berbagai perangkat sensor yang ditempatkan pada kendaraan maupun infrastruktur jalan.

“Sensor tersebut antara lain sensor deteksi kendaraan, kamera pengawas (CCTV), sensor kecepatan, sensor kepadatan lalu lintas, sensor kualitas udara, sensor cuaca, sensor parkir, hingga sensor kebisingan. Data yang dikumpulkan kemudian diolah untuk memberikan gambaran kondisi lalu lintas secara menyeluruh sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat,” jelas Galih.

Baca Juga: Bukan Sekadar Banyak Wisatawan, Ada Strategi Baru Agar Pariwisata Bali Lebih Berkelanjutan

Sementara itu, pada kendaraan masa kini, terutama kendaraan otonom, teknologi sensor menjadi komponen penting dalam mendukung sistem kerja otomatis.

Berbagai sensor seperti LiDAR, radar, kamera, sensor ultrasonik, GPS, serta Inertial Measurement Unit (IMU) bekerja secara terintegrasi untuk membaca kondisi sekitar, mengenali objek, menentukan lokasi kendaraan, hingga mengambil keputusan navigasi secara mandiri.

“Integrasi berbagai sensor tersebut menjadi pondasi utama dalam pengembangan kendaraan tanpa pengemudi yang aman dan andal,” lanjut Galih.

Pengembangan ITS juga semakin berkembang berkat kemajuan teknologi komputasi.

Mobile Edge Computing (MEC) memungkinkan proses pengolahan data dilakukan lebih dekat dengan sumber informasi, sehingga sistem dapat memberikan respons terhadap kondisi lalu lintas secara cepat dan real time.

“Sementara itu, Cloud Computing menyediakan kemampuan penyimpanan dan analisis data dalam skala besar untuk mendukung perencanaan transportasi jangka panjang serta pengembangan model kecerdasan buatan,” terangnya.

Melalui penerapan Intelligent Transportation System, sistem transportasi masa depan diharapkan menjadi lebih aman, hemat energi, ramah lingkungan, serta mampu mendukung kebutuhan mobilitas masyarakat secara berkelanjutan.

“Sinergi antara teknologi sensor, komputasi, kecerdasan buatan, dan data science menjadi kunci dalam mewujudkan ekosistem transportasi masa depan yang cerdas, terhubung, dan adaptif terhadap berbagai tantangan global,” pungkas Galih.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.