Banten

Meteor Terang Melintas di Langit Jawa, Terungkap Penyebab Cahaya Hijau dan Suara Dentuman Misterius

Viona Sebastian Nolani | 15 Juli 2026, 14:08 WIB
Meteor Terang Melintas di Langit Jawa, Terungkap Penyebab Cahaya Hijau dan Suara Dentuman Misterius
Ilustrasi benda bercahaya mirip meteor melintas di langit. (Unsplash/Tasos Mansour)

AKURAT BANTEN - Fenomena benda langit bercahaya yang melintas di sejumlah wilayah Pulau Jawa pada Sabtu malam (11/07/2026) ramai menjadi sorotan masyarakat.

Rekaman video yang memperlihatkan objek terang bergerak cepat di langit banyak dibagikan melalui media sosial.

Beberapa warga juga mengaku mendengar suara dentuman sesaat setelah benda tersebut melintas.

Hasil kajian ilmiah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebutkan bahwa fenomena itu merupakan meteor berukuran besar yang masuk ke atmosfer Bumi.

Baca Juga: Terungkap Rahasia Orbit Satelit Indonesia, Ternyata Posisi di Angkasa Menentukan Segalanya

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, mengatakan berdasarkan laporan dari berbagai wilayah, meteor tersebut diketahui pertama kali melintas di atas kawasan Laut Jawa sebelum kemudian terlihat dari wilayah Bekasi pada sekitar pukul 21.22.35 WIB.

Saat pertama kali diamati, posisi meteor masih cukup tinggi sehingga terlihat seperti objek bercahaya putih dengan ukuran yang tampak kecil.

"Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit Matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar sehingga tampak sebagai meteor," jelas Thomas.

Ia menjelaskan, cahaya terang meteor mulai muncul ketika batuan antariksa memasuki atmosfer pada ketinggian sekitar 120 kilometer dari permukaan Bumi.

Baca Juga: Indonesia Siap Panen 'Durian Runtuh' Rp120 Triliun, Kekayaan Bumi yang Akhirnya Jadi Milik Rakyat!

Pada tahap tersebut, permukaan batuan mengalami proses ablasi atau pengikisan akibat panas ekstrem yang ditimbulkan gesekan dengan atmosfer, sehingga menghasilkan pijaran cahaya yang dapat diamati dari daratan.

Dari hasil analisis jalur pergerakannya, meteor tersebut diketahui bergerak menuju arah tenggara dengan melintasi sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

Saat memasuki lapisan atmosfer yang semakin padat, intensitas cahaya meteor meningkat dan menampilkan perubahan warna yang berbeda sesuai dengan lokasi pengamatan warga.

Di wilayah timur Jawa Barat, khususnya Cirebon dan Kuningan, beberapa masyarakat melaporkan adanya suara dentuman setelah meteor terlihat melintas.

Thomas menyebut suara tersebut bukan berasal dari ledakan benda langit yang jatuh ke permukaan, melainkan efek gelombang kejut atau sonic boom akibat pergerakan meteor dengan kecepatan sangat tinggi di atmosfer bagian bawah.

"Suara dentuman terjadi karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara. Gelombang kejut itu baru terdengar beberapa saat setelah meteor melintas karena suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan," ujarnya.

Sementara itu, warga di Majalengka melaporkan melihat meteor tersebut dengan warna kebiruan.

Setelah itu, objek yang sama kembali diamati dari wilayah Nagreg sekitar pukul 21.23.37 WIB dan Tasikmalaya sebagai cahaya terang yang tampak sesekali menyinari awan.

Perbedaan warna yang muncul merupakan fenomena alami pada meteor karena dipengaruhi oleh kandungan mineral dalam batuan serta kondisi atmosfer yang dilewati.

Ketika mencapai wilayah Yogyakarta sekitar pukul 21.23.57 WIB, meteor terlihat menghasilkan cahaya hijau yang sangat terang.

Menurut Thomas, warna hijau tersebut berkaitan dengan kandungan magnesium dalam batuan antariksa yang memancarkan warna tertentu saat terbakar pada suhu tinggi akibat gesekan dengan atmosfer.

"Setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya yang berbeda ketika dipanaskan. Warna hijau pada meteor umumnya berkaitan dengan kandungan magnesium atau nikel yang terbakar selama proses masuk ke atmosfer," katanya.

Berdasarkan kumpulan data pengamatan dari berbagai daerah, BRIN memperkirakan meteor tersebut terus bergerak menuju arah tenggara hingga akhirnya kehilangan energi dan kecepatannya.

Objek tersebut diperkirakan berakhir di kawasan Samudera Hindia, tepatnya di sebelah selatan Jawa Timur atau Bali.

Thomas menuturkan bahwa fenomena meteor seperti ini bukanlah kejadian yang aneh dalam dunia astronomi.

Setiap hari, Bumi sebenarnya menerima jutaan batuan antariksa dalam berbagai ukuran, tetapi sebagian besar memiliki ukuran kecil sehingga terbakar habis di atmosfer dan hanya terlihat seperti "bintang jatuh".

Meteor berukuran besar seperti yang terlihat kali ini memang lebih jarang terjadi sehingga mampu disaksikan oleh banyak orang di wilayah yang luas.

Ia juga menjelaskan bahwa atmosfer Bumi menjadi perlindungan alami yang sangat penting dari ancaman benda-benda luar angkasa.

Sebagian besar meteoroid atau batuan antariksa akan hancur sebelum mencapai permukaan Bumi, sehingga masyarakat tidak perlu merasa khawatir ketika melihat fenomena serupa.

"Fenomena ini merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir. Yang terpenting adalah memahami fenomenanya secara ilmiah agar tidak mudah terpengaruh berbagai informasi yang tidak benar," pungkas Thomas.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.