Banten

BRIN Kembangkan Purwoceng, Tanaman Obat Asli Indonesia yang Terancam Punah, Ini Terobosan Terbarunya

Viona Sebastian Nolani | 20 Juli 2026, 16:11 WIB
BRIN Kembangkan Purwoceng, Tanaman Obat Asli Indonesia yang Terancam Punah, Ini Terobosan Terbarunya
Inovasi Pemuliaan Purwoceng, Tanaman Obat 'Ginseng Jawa' yang Terancam Punah. (brin.go.id)

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan inovasi pemuliaan purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.), tanaman obat khas Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi kini menghadapi ancaman kepunahan di habitat alaminya.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Otih Rostiana, menjelaskan bahwa purwoceng merupakan tanaman endemik Indonesia yang secara alami hanya tumbuh di wilayah dataran tinggi, khususnya kawasan Dieng, pada ketinggian sekitar 1.800-3.000 meter di atas permukaan laut.

Tanaman yang populer dengan sebutan ginseng of Java ini sejak lama dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional karena mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti sitosterol, stigmasterol, saponin, kumarin, psoralen, dan vitamin E yang berperan dalam meningkatkan vitalitas, menjaga kesehatan saluran kemih, serta melancarkan sirkulasi darah.

Baca Juga: BRIN Ungkap Fakta Baru Ibu Kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, AI Ikut Dilibatkan

Di sisi lain, keberadaan purwoceng semakin terancam akibat alih fungsi lahan, tingginya tingkat eksploitasi, serta persaingan dengan berbagai komoditas pertanian lainnya.

Kondisi tersebut membuat populasi alaminya terus menyusut hingga masuk kategori Endangered dalam Daftar Merah IUCN.

Ancaman tersebut semakin besar karena seluruh bagian tanaman, mulai dari akar hingga daun, dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional sehingga proses panennya dilakukan secara menyeluruh dan berdampak langsung pada kelestarian populasi di alam.

Otih mengungkapkan bahwa program pemuliaan purwoceng telah dilakukan melalui seleksi sumber daya genetik dan pemurnian galur hingga berhasil menghasilkan varietas unggul yang resmi dilepas pada 2013.

Baca Juga: Terungkap Potensi Logam Tanah Jarang di Lampung, Bisa Jadi Bahan Baku Industri Pertahanan Indonesia

Varietas tersebut memiliki ciri khas tulang daun berwarna merah keunguan, kualitas genetik yang lebih baik, kandungan sitosterol lebih tinggi, serta mampu beradaptasi di lokasi budi daya dengan ketinggian yang lebih rendah dibanding habitat asalnya.

“Kami telah menghasilkan varietas unggul yang memiliki karakter genetik lebih baik dan menunjukkan peningkatan kandungan sitosterol serta kemampuan adaptasi yang lebih luas dibandingkan populasi alaminya,” jelas Otih, dalam Webinar EstCrops_Corner #28, Selasa (14/7).

Meskipun demikian, keberhasilan menghasilkan varietas unggul belum sepenuhnya mampu mengatasi tantangan dalam pengembangan purwoceng.

Salah satu persoalan utama yang masih dihadapi adalah penyediaan benih dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan budi daya.

Otih menjelaskan bahwa metode perbanyakan menggunakan biji masih terkendala rendahnya tingkat viabilitas benih.

Sementara itu, teknik kultur jaringan juga belum mampu memberikan hasil optimal, baik pada tahap multiplikasi tunas, pembentukan akar, maupun proses aklimatisasi tanaman.

“Kondisi tersebut membuka ruang bagi penelitian lanjutan guna menghasilkan teknologi perbanyakan tanaman yang lebih efisien dan siap diterapkan secara luas,” tambahnya.

Selain melakukan seleksi varietas, BRIN juga mengembangkan inovasi melalui induksi keragaman genetik dengan teknik mutasi buatan untuk menghasilkan tanaman yang lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan.

Pendekatan ini dinilai penting karena sebagian plasma nutfah hasil penelitian sebelumnya sudah tidak dapat dilacak keberadaannya, mengingat purwoceng selama bertahun-tahun belum menjadi komoditas prioritas dalam program pengembangan.

“Oleh sebab itu, penguatan konservasi sumber daya genetik menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan riset maupun pemanfaatannya di masa depan,” tegas Otih.

Dari sisi industri, Otih menilai bahwa keberhasilan pengembangan purwoceng tidak hanya bergantung pada terciptanya varietas unggul.

Standardisasi mutu bahan baku juga menjadi faktor penting agar produk herbal yang dihasilkan memiliki kualitas yang seragam dan konsisten.

Menurutnya, kualitas purwoceng dipengaruhi oleh kejelasan identitas tanaman, teknik budi daya, waktu panen, hingga proses penanganan setelah panen.

“Penentuan umur panen sekitar enam bulan atau ketika tanaman memasuki fase generatif merupakan waktu yang paling tepat karena kandungan metabolit sekundernya berada pada kondisi optimal,” ujar Otih.

Ia menambahkan bahwa penerapan standardisasi tersebut diperlukan untuk menjamin keamanan, mutu, dan khasiat produk herbal secara berkelanjutan.

Otih juga mengingatkan adanya risiko pemalsuan bahan baku karena tingginya permintaan pasar terhadap purwoceng.

Beberapa tanaman lain, seperti Valeriana officinalis, kolesom, dan som jawa memiliki bentuk akar yang mirip dengan purwoceng.

Namun, kandungan senyawa aktif maupun manfaat farmakologinya tidak sama.

Karena itu, proses identifikasi varietas serta kepastian jenis tanaman harus menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian mutu bahan baku agar produk herbal yang dihasilkan tetap memenuhi standar keamanan, kualitas, dan efektivitas.

Sebagai upaya jangka panjang, BRIN mendorong penguatan konservasi secara in situ maupun ex situ, pengembangan teknologi kultur jaringan dan embriogenesis somatik untuk mempercepat penyediaan bibit, inovasi pemuliaan guna menghasilkan varietas yang adaptif terhadap agroekologi baru, serta memperkuat kemitraan antara petani dan industri agar rantai pasok bahan baku dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Langkah tersebut dinilai strategis untuk memastikan upaya konservasi berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi berbasis keanekaragaman hayati.

Otih menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan purwoceng hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari peneliti, petani, pelaku industri, hingga pemerintah daerah.

“Purwoceng masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Karena itu, budi daya, konservasi, dan standarisasi bahan baku harus terus diperkuat agar tanaman ini tetap lestari, memberikan manfaat ekonomi bagi petani, serta mampu memenuhi kebutuhan industri dengan mutu yang terjamin,” pungkas Otih.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.