Nobar Piala Dunia 2026 Bisa Jadi Mesin Ekonomi Daerah, Bukan Sekadar Pesta Sepak Bola

AKURAT BANTEN - Piala Dunia 2026 belum dimulai, tetapi gaungnya sudah mulai terasa hingga ke daerah-daerah di Indonesia. Di tengah antusiasme pecinta sepak bola yang menanti turnamen terbesar di dunia tersebut, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengimbau pemerintah daerah untuk memanfaatkan momentum Piala Dunia dengan menggelar acara nonton bareng (nobar) bagi masyarakat. Menurut Mendagri, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan publik, tetapi juga berpotensi menggerakkan perekonomian lokal.
Gagasan itu muncul karena Piala Dunia selama ini terbukti menjadi salah satu tontonan olahraga dengan daya tarik terbesar di dunia.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, FIFA mencatat miliaran penonton mengikuti turnamen tersebut melalui televisi maupun platform digital. Antusiasme serupa diperkirakan akan kembali terjadi pada edisi 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Lebih dari Sekadar Menonton Pertandingan
Di Indonesia, budaya nobar sepak bola bukanlah hal baru. Mulai dari Piala Dunia, Euro, hingga pertandingan Timnas Indonesia, kegiatan menonton bersama kerap menjadi magnet yang mampu mengumpulkan ratusan hingga ribuan orang dalam satu lokasi.
Baca Juga: Lebih Besar, Lebih Panjang, dan Penuh Kejutan, Inilah Wajah Baru Piala Dunia 2026
Fenomena ini menciptakan perputaran ekonomi yang tidak kecil. Pedagang makanan dan minuman, pelaku UMKM, jasa parkir, hingga sektor hiburan lokal biasanya ikut merasakan dampak positif ketika acara nobar berlangsung.
Karena itu, banyak pemerintah daerah dinilai memiliki peluang untuk menjadikan Piala Dunia sebagai penggerak ekonomi kerakyatan. Dengan pengelolaan yang baik, acara nobar bisa menjadi ruang promosi bagi produk lokal sekaligus mendorong aktivitas perdagangan masyarakat.
Piala Dunia 2026 Berpotensi Lebih Meriah
Peluang tersebut semakin besar karena Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah.
FIFA resmi menambah jumlah peserta dari 32 menjadi 48 negara. Selain itu, jumlah pertandingan meningkat dari 64 laga menjadi 104 pertandingan. Artinya, turnamen akan berlangsung lebih lama dan menghadirkan lebih banyak pertandingan yang bisa dinikmati penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Semakin banyak pertandingan berarti semakin banyak pula momen yang berpotensi menarik massa untuk berkumpul dalam kegiatan nobar. Kondisi ini tentu menjadi peluang ekonomi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Efek Berganda bagi UMKM
Salah satu alasan utama pemerintah mendorong kegiatan nobar adalah efek berganda atau multiplier effect yang ditimbulkannya.
Ketika masyarakat berkumpul untuk menyaksikan pertandingan, kebutuhan konsumsi otomatis meningkat. Penjual makanan, minuman, atribut sepak bola, hingga pelaku usaha kreatif lokal berkesempatan memperoleh tambahan pendapatan.
Pengalaman serupa pernah terlihat dalam berbagai agenda olahraga besar di Indonesia. Saat Timnas Indonesia berlaga di Piala Asia maupun Kualifikasi Piala Dunia, sejumlah lokasi nobar di berbagai kota dipadati masyarakat dan memberikan keuntungan bagi pelaku usaha di sekitar lokasi acara.
Bagi daerah, kondisi ini bisa menjadi peluang untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang bersifat inklusif karena melibatkan banyak pelaku usaha kecil.
Sepak Bola Sebagai Pemersatu
Selain aspek ekonomi, kegiatan nobar juga memiliki nilai sosial yang kuat.
Sepak bola dikenal sebagai olahraga yang mampu menyatukan berbagai kalangan. Dalam satu layar besar, masyarakat dari latar belakang berbeda dapat berkumpul, mendukung tim favorit, dan menikmati atmosfer pertandingan bersama.
Momentum tersebut bahkan bisa dimanfaatkan pemerintah daerah untuk menghidupkan ruang publik yang selama ini kurang aktif. Lapangan kota, taman publik, hingga area terbuka lainnya berpotensi menjadi pusat kegiatan masyarakat selama Piala Dunia berlangsung.
Peluang yang Sayang Dilewatkan
Dengan format baru yang menghadirkan 48 negara dan 104 pertandingan, Piala Dunia 2026 diprediksi menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah sepak bola. Antusiasme masyarakat dunia diperkirakan akan meningkat, termasuk di Indonesia yang memiliki basis penggemar sepak bola sangat besar.
Karena itu, ajakan Mendagri agar daerah menggelar nobar tidak hanya berkaitan dengan olahraga semata. Di balik layar raksasa dan sorak-sorai penonton, terdapat peluang ekonomi yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
Jika dikelola dengan baik, Piala Dunia 2026 bukan hanya menghadirkan gol-gol spektakuler dari lapangan hijau Amerika Utara. Turnamen itu juga dapat menjadi panggung bagi UMKM lokal untuk ikut mencetak kemenangan di daerah masing-masing.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










