OPINI: Ikut Melayat Atas Kematian Demokrasi

AKURAT BANTEN - Dikutip dari pidato sambutan Surya Paloh pada hari ulang tahun partai Nasdem ke-12 di Jakarta (11/11/2023), Menariknya Surya Paloh mengucapkan pesan kebangsaan dari Bung Adam Malik dan juga filosofi kuno dalam kehidupan suku Jawa, ada pula pepatah yang menarik untuk mengingatkan semua orang termasuk pemimpin saat ini.
1. Pesan Bung Adam Malik:
"Dalam permainan ini cepat atau lambat semua orang harus pergi, penguasa akan hilir mudik berganti, politisi pun demikian, namun sosok negarawan akan tetap ada dan hidup bersama di tengah-tengah rakyatnya." (bung Adam Malik)
2. Pepatah yang menggabarkan bahwa manusia harus berhati-hati dalam bertindak karena tak ada gading yang tak retak artinya manusia pasti punya kesalahan:
"Bukan gading, Bukan pula benang yang di tinggalkan manusia melainkan nama baik."
3. Filosofi Suku Jawa Mikul duwur mendem jero:
"Mikul duwur adalah tindakan yang menjunjung tinggi kemuliaan orang lain agar dunia mengetahuinya. Sebaliknya, mendem jero menempatkan dan menanamkan dalam-dalam seluruh kejelekan atau aib dan segala kekurangan, tapi lebih baik semua itu ditutup tidak diungkapkan atau dibeberkan."
Baca Juga: Sensasi Minum Kopi Tahlil Khas Pekalongan, Nikmatnya Menghilangkan Penat Setelah Bekerja Seharian.
Ketiga Hal tersebut di atas menjadikan peringatan bagi seluruh masyarakat Indonesia yang sebentar lagi akan masuk dalam pesta demokrasi 2024, agar berhati-hati untuk memilih siapa yang pantas untuk memimpin negeri ini.
Menanggapi Beberapa ekspresi dari wajah politik dan partai yang akan beradu pada tiga lintasan kereta api dengan membawa gerbong koalisi masing-masing, mereka di pastikan akan menuju pada arah yang sama, Tapi pertanyaannya adalah setelah melewati finis, apa yang merka lakukan selama melaju dan kelicikan macam apa yang telah mereka perbuat untuk saling menghambat atau menyingkirkan lawan-lawannya?
Atinya pemenang belum tentu yang terbaik, demikian pula bahwa yang kalah bukanlah pecundang, disinilah kemampuan berpikir masyarakat awam dituntut untuk menilai dengan kecerdasan nuraninya secara personal.
Baca Juga: Napiter di Pulau Nusakambangan Ditempatkan di Lapas Super Maximum Security
Para pendiri bangsa di masa lalu, saat kelamnya perjalanan sebagai bangsa yang terjajah, telah meletakkan dasar pemikirannya supaya kelak Indonesia menjadi sebuah negara besar yang memiliki peran penting dalam kancah perpolitikan dunia.
Seperti Khairil Anwar dalam puisi perjuangan berjudul "Kerawang Bekasi" yang menjelaskan dengan tekanan pada beberapa kalimat "kenanglah Kami", artinya kita di ajak untuk menghargai pesan-pesan mereka sebagai pejuang supaya suatu saat ketika mereka telah menjadi tulang belulang berharap pada penguasa negeri ini tetap menjaga kehormatannya, tidak menjual diri atau melacurkan bangsanya pada kepentingan asing.
Selanjutnya terdapat pesan yang sangat tulus dari puisi ini, tiada lain hanya untuk generasi sekarang, bagaimana membalas budi para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raganya yang di tumpahkan untuk negeri ini:
"Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan" Artinya kitalah yang harusnya mewarisi perjuangan mereka bukan untuk kemaslahatan kelompok, Keluarga atau dengan kata lain mebentuk tahta dalam satu kelomok dinasti. Secara keseluruhan Penulis mengajak para pembaca untuk menyimak isi puisi secara utuh agar lebih memahami pesan-pesannya.
Baca Juga: Fatwa Baru MUI: Wajib Dukung Palestina, Haram Beli Produk Suatu Negara Yang Dukung Agresi Israel
Puisi Kerawang Bekasi
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Artikel ini hanyalah mengingatkan kembali agar kita tidak lupa ingatan, bagaimana pahlawan bangsa mempersembahkan kemuliaan tujuan agar arah bangsa ini berada di jalur yang benar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










