Pidato Ova Emilia Tuai Sorotan Usai Sebut Jokowi Alumni Fakultas Kehutanan UGM, Dinilai Tidak Cocok Jadi Rektor UGM

AKURAT BANTEN - Dies Natalis ke‑62 Fakultas Kehutanan UGM di Auditorium Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Jumat, 17 Oktober 2025, hadir sebagai tamu kehormatan mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) yang juga alumnus Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980.
Dalam sambutannya, Rektor UGM, Ova Emilia, menegaskan rasa bangga atas kehadiran Jokowi, dengan menyebut:
“Yang terhormat Presiden ke-7 RI Bapak Joko Widodo alumnus Fakultas Kehutanan angkatan 1980, kebanggaan Fakultas Kehutanan UGM.”
Namun, pernyataan dan gaya penyampaian tersebut kemudian menuai sorotan tajam dari pegiat media sosial, Tifauzia Tyassuma atau dikenal sebagai “Dokter Tifa”.
Baca Juga: Iwan Fals Ikut Pertanyakan Keaslian Ijazah Jokowi, Sang Musisi Legenda Ucap Hal Tak Terduga Ini
Ia mengkritik gaya Rektor sebagai “terlalu genit, terlalu ganjen, sama sekali tidak elegan, anggun, apalagi berwibawa”.
Dokter Tifa secara khusus menyoroti beberapa aspek:
Pilihan kata dan penyebutan gelar serta status Jokowi sebagai “alumnus” bukan “lulusan” UGM, yang menurutnya mengandung implikasi bahwa UGM “membuang badan”.
Gestur dan arah pandang saat pidato: “matanya tertuju kepada orang yang bahkan tidak tahu untuk apa dia hadir di acara ini, kecuali sebagai Stuntman yang lupa digambari tahi lalatnya”.
Karakter pidato yang menurutnya tidak mencerminkan kematangan kepemimpinan akademik: kurang elegan, kurang anggun, dan melemahkan kewibawaan institusi.
Meskipun kritik muncul, pihak kampus atau Rektor belum secara terbuka mengeluarkan klarifikasi atau tanggapan menyeluruh atas sorotan tersebut hingga saat ini (tidak ditemukan dalam laporan publik).
Kritik ini mencerminkan ketegangan antara ekspektasi terhadap sosok pemimpin akademik dan norma publik yang melihat pidato di hadapan tokoh nasional sebagai momentum yang sensitif dari sisi citra dan protokol.
Bagi UGM sebagai institusi pendidikan tinggi unggulan, sorotan semacam ini membawa risiko reputasi.
Baca Juga: Roy Suryo dan CS Klaim Kantongi Salinan Ijazah Jokowi dari KPU, Sebut Jadi Bukti Baru
Sebagai lembaga yang banyak terlibat dalam pengembangan bangsa, gaya dan cara penyampaian pimpinan bisa langsung dipahami sebagai cerminan budaya institusi termasuk dalam konteks etika, tata krama, dan simbolisme pengakuan terhadap alumni terkemuka.
Beberapa poin penting yang bisa dijadikan refleksi dari insiden ini antara lain:
1. Bahasa dan gelar: Penyebutan status akademik atau alumni tokoh publik punya dampak simbolik yang tidak kecil.
Ketidakkonsistenan atau pengalihan kata dapat memantik interpretasi publik.
Baca Juga: Roy Suryo dan CS Klaim Kantongi Salinan Ijazah Jokowi dari KPU, Sebut Jadi Bukti Baru
2. Gaya komunikasi pimpinan: Di era digital, gaya pidato termasuk gestur, pandangan, pilihan kata sangat mudah disorot dan diverifikasi lewat media sosial.
Kepemimpinan akademik dituntut tidak hanya kapabel secara administrasi, tetapi juga pandai menjaga citra dan wibawa.
3. Hubungan antara institusi dan alumnus penting: Ketika alumni senior hadir dalam acara kampus, penyambutan yang proporsional dan profesional penting untuk menjaga kehormatan kedua pihak institusi dan alumnus.
4. Transparansi dan tanggapan terhadap kritik: Bila muncul sorotan publik, institusi perlu cepat menanggapi baik melalui klarifikasi maupun perbaikan internal agar momentum reputasi tidak melebar menjadi isu yang lebih besar.
Sorotan terhadap gaya pidato Rektor UGM Ova Emilia di depan Presiden Jokowi memang mencuat sebagai kritik terhadap aspek performatif dan simbolik dalam kepemimpinan akademik.
Melalui pernyataan Dokter Tifa, tersiar pesan bahwa bukan hanya isi pidato yang penting, tetapi bagaimana cara penyampaian yang mampu mencerminkan elegansi, wibawa, dan profesionalisme menjadi sorotan publik.
Bagi UGM, Banten, dan institusi-institusi lain, insiden ini menjadi pengingat bahwa setiap momen formal terutama yang melibatkan tokoh nasional bukan semata seremoni, melainkan panggung reputasi dan kredibilitas.
Semoga ke depan setiap penyampaian publik oleh pimpinan akademik lebih terukur, lebih matang, dan mampu mempertahankan kehormatan institusi serta memberikan inspirasi.
Baca Juga: Abraham Samad Jadi Tersangka Usai Bahas Ijazah Jokowi? Siap Lakukan Ini Jika Terjadi
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










