Banten

Gonjang-ganjing Ijazah Jokowi Asli atau Tidak, Padahal UGM Sudah Keluarkan Pernyataan Penting Ini

Andi Syafriadi | 11 Juli 2025, 09:37 WIB
Gonjang-ganjing Ijazah Jokowi Asli atau Tidak, Padahal UGM Sudah Keluarkan Pernyataan Penting Ini

AKURAT BANTEN - Baru-baru ini, media sosial kembali digemparkan oleh pernyataan kontroversial dari Rismon Hasiholan Sianipar, mantan dosen Universitas Mataram, yang menyangsikan keaslian ijazah dan skripsi Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Rismon mengklaim bahwa penggunaan font Times New Roman pada sampul dan lembar pengesahan skripsi Jokowi tidak sesuai dengan teknologi yang tersedia di era 1980-an.

Baca Juga: Hasil Gelar Perkara Ijazah Jokowi Terbongkar! Rismon Sianipar Kecewa Hingga Lakukan Ini

Klaim sepihak ini sontak menimbulkan polemik publik.

Banyak warganet meragukan pernyataan Rismon, namun tidak sedikit juga yang terpengaruh dengan narasi yang dikemas seolah-olah berdasarkan analisis forensik digital.

Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Prof. Sigit Sunarta, mengecam keras pernyataan yang dianggap menyesatkan tersebut.

Ia menilai, sebagai akademisi, Rismon seharusnya menyampaikan informasi berdasarkan riset, bukan spekulasi.

“Kami menyesalkan penyebaran informasi tidak berdasar dari seorang dosen yang seharusnya memberi pencerahan,” ujar Sigit pada 21 Maret lalu.

Sigit menjelaskan bahwa pada masa itu, font serupa Times New Roman sudah digunakan di tempat percetakan di sekitar UGM, seperti Prima dan Sanur.

Bahkan, percetakan tersebut cukup umum digunakan oleh mahasiswa untuk mencetak sampul dan lembar pengesahan skripsi.

“Yang bersangkutan harusnya tahu soal itu, karena dia juga kuliah di UGM,” tegasnya.

Baca Juga: Ahli Forensik Bongkar Cara Cek Ijazah Jokowi Asli atau Palsu, Ada 3 Trik yang Bisa Dilakukan Roy Suryo di Rumah

Sigit juga meluruskan tuduhan soal nomor ijazah Jokowi yang dinilai tidak sesuai. Menurutnya, penomoran ijazah di Fakultas Kehutanan pada era 1980-an memang belum terstandarisasi secara universitas.

Setiap fakultas memiliki sistemnya masing-masing, dan nomor ijazah Jokowi sesuai dengan standar internal kala itu.

Ketua Senat Fakultas Kehutanan, San Afri Awang, turut menanggapi isu ini. Ia mengatakan bahwa tuduhan seperti ini mencederai institusi dan cenderung dibuat demi sensasi.

San Afri membenarkan bahwa banyak mahasiswa zaman itu sudah menggunakan percetakan untuk membuat cover skripsi, sementara isinya tetap diketik manual.

Baca Juga: Roy Suryo Mulai Takut? Keaslian Ijazah Jokowi Mulai Terungkap Usai Sang Pakar Telematika Mangkir

“Saya juga pakai Prima untuk cetak cover. Waktu itu komputer IBM PC sudah ada di sekitar kampus,” katanya.

Frono Jiwo, teman seangkatan Jokowi, membenarkan bahwa mereka kuliah dan lulus bersama di tahun 1985.

Ia bahkan membandingkan ijazahnya dengan milik Jokowi dan menyebutnya identik dalam format, kecuali nomor seri.

“Kalau soal skripsi, semua diketik pakai mesin ketik, dan sampul dicetak di percetakan. Itu hal biasa,” katanya.

Guru Besar Hukum Pidana UGM, Prof. Marcus Priyo Gunarto, menilai tuduhan pemalsuan terhadap Jokowi lemah secara hukum.

“Kalau dokumennya ada dan bisa dibuktikan keabsahannya lewat arsip universitas, maka tidak ada dasar hukum untuk menyebutnya palsu,” tegas Marcus.

Ia juga mengingatkan bahwa menyebarkan tuduhan tanpa bukti kuat dapat dianggap pencemaran nama baik dan bisa berujung ke ranah hukum.

Dengan sejumlah klarifikasi dari UGM dan saksi-saksi seangkatan, tuduhan terhadap Jokowi ini tampaknya lebih bernuansa politis dan spekulatif ketimbang akademis.

Baca Juga: Inilah Bukti Nyata Ijazah Jokowi Asli, Sosok Penting Ini Pernah Memegangnya, 'Orang Nyata'

Pihak kampus menegaskan kembali bahwa ijazah dan skripsi Jokowi adalah asli, dan ia memang lulusan sah dari Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1980.

***

 
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.