Banten

Dedi Mulyadi Sidak Aqua Air Minum Bukan dari Pegunungan Asli, Danone Langsung Balas Ucapan Nyelekit KDM

Andi Syafriadi | 23 Oktober 2025, 07:51 WIB
Dedi Mulyadi Sidak Aqua Air Minum Bukan dari Pegunungan Asli, Danone Langsung Balas Ucapan Nyelekit KDM

AKURAT BANTEN - Baru-baru ini, perhatian publik tertuju pada produk air mineral kemasan AQUA setelah kunjungan inspeksi mendadak oleh Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat, ke salah satu pabrik AQUA di wilayah Subang.

Dalam tayangan yang diunggah ke kanal YouTube-nya, Dedi mengungkap bahwa sumber air yang digunakan oleh AQUA ternyata berasal dari sumur bor, bukan dari aliran mata air pegunungan seperti yang selama ini diiklankan.

Saat inspeksi, Dedi bertanya kepada petugas perusahaan mengenai asal air, ia mengira bahwa air tersebut berasal dari sungai atau aliran permukaan pegunungan.

“Air AQUA ini dari mana asalnya? Dari sungai,” ujarnya.

Baca Juga: JALAN BUTUT ITU HARAM!' Drama Viral Rieke Diah Pitaloka, Adukan Jalan Rusak Sukabumi ke Dedi Mulyadi, Ini Balasan Menohok 'Kang Dedi'

Petugas kemudian menjawab: “Airnya dari bawah tanah, Pak… dibor.” 

Respon itu memunculkan keheranan dan kritik dari Dedi, yang kemudian menyoroti potensi dampak lingkungan terkait pengambilan air tanah dalam seperti pergeseran tanah atau longsor.

“Kalau airnya diambil dari bawah terus, apa tidak berpengaruh pada pergeseran tanah?” tanya beliau.

Pernyataan ini melahirkan tuduhan bahwa AQUA “mengibuli” konsumen karena menggunakan klaim “air pegunungan murni” padahal realita menunjukkan penggunaan sumur bor dalam.

Baca Juga: Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor Jawa Barat Selesai, Dedi Mulyadi Geram Usai Terjadi Hal Ini

Menanggapi sorotan tersebut, perusahaan induk AQUA, Danone Indonesia, memberikan keterangan resmi.

Dalam klarifikasinya disebutkan bahwa:

Air yang digunakan berasal dari 19 sumber air pegunungan tersebar di seluruh Indonesia. 

Ke-19 sumber ini berada di lapisan akuifer dalam dengan kedalaman antara 60 hingga 140 meter, terlindungi secara alami oleh lapisan kedap air sehingga bebas dari kontaminasi aktivitas manusia.

Baca Juga: Surat Cinta Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi Ditolak! Alasan Kokom Bikin Ngakak ...

Proses pemilihan sumber air melibatkan 9 kriteria ilmiah, 5 tahapan evaluasi, dan riset selama minimal 1 tahun.

Kajian hidrogeologi dilakukan bersama institusi pendidikan seperti Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk memastikan bahwa pengambilan air tidak bersinggungan dengan air masyarakat sekitar.

Dengan demikian, perusahaan menegaskan bahwa klaim “air pegunungan murni” bukan sekadar slogan pemasaran melainkan berasal dari air bawah tanah yang memang bagian dari sistem hidrogeologi pegunungan.

Terminologi “air pegunungan”: Kunci dari polemik ini adalah bagaimana kita memaknai “air pegunungan”.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Malah Menghilang? Unisba Unpas Diserang Gas Air Mata oleh Polisi hingga Mahasiswa Lakukan Hal Ini

Bila definisi yang digunakan termasuk akuifer dalam yang berada di pegunungan atau kaki pegunungan, maka klaim perusahaan bisa masih relevan.

Namun jika konsumen mengartikan sebagai mata air permukaan yang muncul dari aliran sungai pegunungan, maka terjadi perbedaan harapan dan realitas.

Aspek lingkungan dan sosial: Pengambilan air tanah dalam tetap perlu pengawasan lingkungan karena potensi risiko seperti penurunan muka tanah atau gangguan ekosistem lokal.

Dedi Mulyadi dalam sidak-nya menekankan hal tersebut.

Baca Juga: Kementrian Haji dan Umrah Resmi Disahkan, Dedi Mulyadi Justru Singgung Tempat Ini, Apa Hubungannya?

Keterlibatan publik dan transparansi: Konsumen dan masyarakat sekitar pabrik sebaiknya memiliki akses terhadap data sumber air, izin pengambilan air, dan dampak lingkungan agar ada akuntabilitas dari perusahaan.

Peran pemerintah daerah: Pemerintah daerah, termasuk di provinsi seperti Banten, perlu memastikan bahwa perusahaan air minum kemasan yang beroperasi di wilayahnya mematuhi regulasi sumber daya air dan melakukan kontrol terhadap pemasaran dan klaim produk.

Meskipun sidaknya dilakukan di Jawa Barat, isu ini mempunyai relevansi untuk wilayah Banten dan provinsi lainnya.

Banyak konsumen lokal yang membeli produk AQUA dan percaya bahwa mereka meminum “air pegunungan murni”.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Ogah Cabut Larangan Study Tour: Fokus Pendidikan, Bukan Bebani Orang Tua

Temuan dan klarifikasi ini mengingatkan agar konsumen lebih kritis terhadap klaim produk dan bahwa pemerintah daerah ikut memegang peranan dalam pengawasan sumber air dan pemenuhan hak konsumen.

Inspeksi oleh Gubernur Dedi Mulyadi telah memunculkan pertanyaan penting terkait klaim produk air mineral terkenal AQUA.

Walaupun perusahaan melalui Danone Indonesia telah memberikan klarifikasi dengan data teknis bahwa air mereka berasal dari akuifer dalam yang secara hidrogeologi terkait pegunungan, tetap terdapat gap persepsi publik antara “air pegunungan” yang mereka pahami dan kenyataan teknis.

Untuk menjaga kepercayaan konsumen dan keberlanjutan lingkungan, kolaborasi antara perusahaan, pemerintah daerah dan masyarakat sangat diperlukan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.