Terungkap! Motif Miris 2 Bocah SMP Bunuh Waria Pemilik Salon di Pesawaran: Hanya Gara-Gara Uang Rp40 Ribu

AKURAT BANTEN-Sebuah kasus pembunuhan yang menggemparkan Kabupaten Pesawaran, Lampung, akhirnya menemukan titik terang.
Dua pelajar SMP berinisial DA (15) dan RO (14) ditangkap polisi setelah menghabisi nyawa seorang pemilik salon yang dikenal sebagai waria, Dainuro (41).
Motif di balik tindakan keji ini ternyata berakar dari dendam karena bayaran kencan yang tak sesuai harapan.
Kasatreskrim Polres Pesawaran, Iptu Pande Putu Yoga Mahendra, mengungkapkan bahwa pembunuhan ini sudah direncanakan dengan matang.
Baca Juga: Tragedi Kematian Mahasiswa Amikom, Kompolnas Turun Tangan Awasi Penyelidikan Polda DIY
Pelaku DA, yang disebut sebagai otak dari aksi ini, mengajak RO untuk melancarkan aksinya. Mereka memanfaatkan momen kencan untuk memancing korban agar lengah.
DA menghubungi korban dan datang ke salon untuk berkencan. Saat korban lengah, DA mengirimkan pesan WhatsApp dengan kode khusus kepada RO.
Tak lama kemudian, RO datang dan langsung menindih korban, sementara DA menusuk korban berulang kali hingga tewas.
Motif Ekonomi yang Berujung Tragedi
Menurut keterangan polisi, motif utama di balik pembunuhan ini adalah dendam. Pelaku mengaku kesal karena korban selalu membayar mereka dengan nominal yang jauh di bawah ekspektasi.
DA hanya diberi uang Rp 40.000 hingga Rp 60.000, sementara RO bahkan tidak dibayar sama sekali. Padahal, mereka mendengar kabar bahwa korban biasa memberi uang hingga Rp 100.000.
Kekecewaan ini, ditambah dengan adanya informasi yang berbeda, memicu emosi kedua remaja tersebut.
Mereka merasa diperlakukan tidak adil, yang akhirnya mendorong mereka untuk merencanakan pembunuhan tragis ini.
Baca Juga: Mensos Ingatkan Sekolah Rakyat Jadi Ruang Aman: Anak Harus Merasa Dicintai, Bukan Ditampung
Karena kedua pelaku masih berstatus anak di bawah umur, Polres Pesawaran telah berkoordinasi dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) untuk penanganan kasus ini.
Proses hukum terhadap anak-anak memiliki aturan khusus yang berbeda dari orang dewasa.
Penyelidikan masih terus didalami, dan polisi mengumpulkan bukti-bukti tambahan untuk melengkapi berkas perkara.
Kasus ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang betapa rapuhnya batas antara emosi, dendam, dan tindakan kriminal.
Terlebih lagi, kasus ini melibatkan anak-anak di bawah umur, yang menunjukkan kompleksitas masalah sosial(**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026







