Menyentuh Bung Karno di PBB: Prabowo Jadi Jembatan, Saat Indonesia Bikin Dunia Bangga, Beri Tamparan Keras untuk 'America First'

AKURAT BANTEN-Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini bagaikan panggung drama global yang menampilkan dua narasi yang kontras. Dari satu sisi, Presiden Indonesia Prabowo Subianto menawarkan sebuah visi yang penuh harapan, kerja sama, dan optimisme.
Di sisi lain, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyuarakan skeptisisme tajam dan kecurigaan terhadap tatanan dunia. Perbedaan sikap ini bukan sekadar retorika, melainkan cerminan dari dua arah yang kini dihadapi dunia.
Baca Juga: Jalan Lapang Erick Thohir: Kisah di Balik Restu FIFA untuk Posisi Menpora dan Ketum PSSI
Prabowo: Gema Bung Karno dan Semangat Multilateralisme
Pidato Prabowo Subianto di podium PBB seolah menghidupkan kembali semangat legendaris Bung Karno saat menyampaikan pidato "To Build the World Anew" pada tahun 1960.
Dengan tenang namun tegas, Prabowo mengingatkan dunia agar tidak kembali ke "hukum rimba," di mana yang kuat berbuat sekehendaknya.
Prabowo memilih untuk mendukung penuh PBB, menegaskan bahwa kerja sama multilateral adalah satu-satunya jalan menuju dunia yang adil.
Ia menyoroti penderitaan rakyat Palestina, menyerukan solidaritas global, dan mengajak negara-negara untuk bertindak nyata menghadapi krisis iklim. "Kami di Indonesia sudah merasakan dampak perubahan iklim.
Kami memilih bertindak sekarang, bukan sekadar slogan," tegasnya. Pesan ini bukan sekadar janji, tetapi sebuah ajakan untuk percaya bahwa masa depan dapat diselamatkan jika dunia bersatu.
Kehadiran Prabowo di forum ini, setelah lebih dari 10 tahun Presiden Indonesia tidak hadir secara fisik, menegaskan bahwa Indonesia kembali ke panggung diplomasi multilateral.
Seperti disampaikan oleh Dino Patti Djalal, penulis pidato mantan Presiden SBY, pidato Prabowo mengirimkan pesan penting: Indonesia bukan hanya penonton, melainkan penggerak moral yang siap berkontribusi nyata untuk perdamaian dunia.
Baca Juga: Jokowi 'Ancam' Prabowo? Analisis Tajam Said Didu Bongkar Sinyal Dua Periode, dan Respon Dingin PDIP
Trump: Kritik Tajam dan Politik "America First"
Hanya beberapa saat sebelum Prabowo, Donald Trump berada di podium yang sama dengan nada yang hampir berlawanan. Alih-alih membangun harapan, Trump justru melontarkan kritik tajam.
Ia menyebut PBB tidak relevan, tatanan global gagal melindungi kepentingan Amerika Serikat, dan bahkan meremehkan ancaman krisis iklim sebagai "histeria".
Nada Trump bukanlah ajakan untuk bekerja sama, melainkan seruan untuk memutus jarak dari dunia. Pesannya sangat jelas: "America First".
Sikap ini menimbulkan resonansi negatif, terutama bagi negara-negara yang tengah berjuang mencari solusi kolektif atas berbagai krisis, mulai dari konflik, kelaparan, hingga perubahan iklim.
Perbandingan ini menunjukkan perbedaan mendasar antara kedua pemimpin: Prabowo memilih menjadi jembatan, sementara Trump memilih menjadi tembok. Prabowo mengajak dunia membangun masa depan bersama, sementara Trump mempertanyakan nilai dari kerja sama itu sendiri.
Baca Juga: Ketua PPRNI Lebak Segera Panggil Manajemen RS Misi usai 70 Persen Karyawan Lakukan Demo
Peran Kunci Indonesia di Tengah Gejolak Global
Pidato Prabowo bukan hanya sekadar orasi, melainkan sebuah deklarasi posisi Indonesia di kancah global.
Ia tampil sebagai suara penting dari Global South yang fasih berbicara tentang keadilan dan perdamaian.
Hal ini diperkuat dengan kesediaan Indonesia, di bawah kepemimpinan Prabowo, untuk menyediakan pasukan penjaga perdamaian di Gaza, sebuah langkah konkret yang menunjukkan komitmen pada solusi perdamaian.
Saat dunia dihadapkan pada dua pilihan—harapan dari Jakarta atau sinisme dari Washington—Indonesia memilih untuk berdiri di sisi harapan.
Karena hanya dengan harapan, kita dapat menemukan energi untuk membangun dunia yang baru, adil, dan damai bagi semua.
Sebagai sebuah bangsa, kita patut berbangga. Indonesia, melalui pidato Presidennya, telah menunjukkan bahwa di tengah ketidakpastian, ada jalan lain yang bisa ditawarkan—jalan solidaritas dan optimisme.
Ini adalah momentum yang menegaskan kembali peran strategis Indonesia sebagai salah satu kekuatan moral di panggung global (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










