Tragedi Berdarah di Kelapa Gading: Adik Tewaskan Kakak, Ibu Histeris dan Trauma

Akurat Banten - Peristiwa tragis yang terjadi di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban, terutama sang ibu yang harus menghadapi kenyataan pahit atas kejadian yang melibatkan dua anak kandungnya sendiri.
Polres Metro Jakarta Utara bergerak cepat dengan memberikan pendampingan psikologis berupa trauma healing guna membantu kondisi mental sang ibu yang sempat mengalami guncangan hebat.
Kasat PPA Polres Metro Jakarta Utara, Kompol Ni Luh Sri Arsin, mengungkapkan bahwa kondisi ibu korban saat pertama kali ditemui masih sangat terpukul dan menunjukkan reaksi emosional yang tidak stabil.
“Sang ibu masih histeris dan kami berikan pemulihan trauma dengan hipnoterapi agar dapat menenangkan diri,” ujarnya.
Baca Juga: Sengatan Tawon Vespa Berujung Maut, Pria di Cilacap Tewas usai Niat Bersihkan Toren
Pendampingan tersebut dilakukan langsung di kediaman keluarga dengan melibatkan personel yang memiliki keahlian khusus dalam penanganan trauma psikologis.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kepedulian sekaligus upaya memastikan kondisi mental sang ibu tidak semakin memburuk akibat tekanan emosional yang berat.
Setelah mendapatkan penanganan awal, kondisi ibu korban dilaporkan mulai berangsur stabil meskipun masih dalam tahap pemulihan.
“Tadi kondisinya sudah cukup stabil dan kami juga ambil keterangan menyangkut peristiwa yang menimpa anaknya,” kata Sri.
Polisi menegaskan bahwa pendampingan tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan akan terus dilakukan secara berkala dengan menyesuaikan kondisi psikologis yang bersangkutan.
Upaya ini juga merupakan bagian dari arahan Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Erick Frendriz agar penanganan kasus tidak hanya fokus pada aspek hukum, tetapi juga kemanusiaan.
Sri menilai beban yang harus ditanggung sang ibu sangatlah berat, mengingat ia harus menerima kenyataan bahwa satu anaknya meninggal dunia, sementara anak lainnya terlibat sebagai pelaku.
Dalam keterangannya kepada polisi, sang ibu menegaskan bahwa ia tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang kepada kedua anaknya.
Baca Juga: Siapa Lindi Fitriyana? Perempuan yang Baru Dinikahi Virgoun, Ini Profil dan Biodatanya
Fakta lain yang terungkap menunjukkan bahwa korban MAR (22) diketahui sedang menempuh pendidikan di tiga tempat sekaligus, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit dibandingkan adiknya.
Di sisi lain, pelaku MAH (16) justru disebut mendapatkan perhatian lebih dari ibunya karena memiliki riwayat penyakit lambung yang memerlukan perhatian khusus.
“Ibu ini malah lebih sayang kepada pelaku karena dia mengalami penyakit lambung sehingga mendapatkan perhatian lebih,” ungkap Sri.
Namun demikian, hubungan komunikasi antara kedua saudara tersebut diketahui tidak berjalan dengan baik sejak lama.
Baca Juga: Aksi Nekat Pengemudi Ugal-ugalan di Jakarta Pusat Berakhir Diamankan Polisi
Sri menjelaskan bahwa interaksi antara kakak dan adik itu cenderung tidak langsung dan sering kali harus melalui perantara sang ibu.
“Jika si abang ingin bicara dengan adik, melalui ibunya, dan begitu sebaliknya,” jelasnya.
Sebelumnya, polisi telah mengungkap kronologi kejadian tragis tersebut yang terjadi pada Selasa sore.
Pelaku MAH (16) diduga melakukan aksi kekerasan terhadap kakaknya, MAR (22), menggunakan palu hingga menyebabkan korban mengalami luka serius.
Baca Juga: Aksi Nekat Pengemudi Ugal-ugalan di Jakarta Pusat Berakhir Diamankan Polisi
“Pelaku ini diduga berkali-kali memukul kepala korban dengan palu karena pelaku sangat emosi, sehingga korban tersungkur,” kata Sri.
Meski korban sempat masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan di lokasi kejadian, kondisinya terus menurun akibat luka parah yang dialami.
Setelah terjatuh, pelaku disebut masih melanjutkan aksinya dengan memukul kepala korban berulang kali hingga sekitar lima kali.
Korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Ajukan Pinjaman Rp2 Triliun Demi Selamatkan Proyek Infrastruktur Jawa Barat
“Namun, korban meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit,” terang Sri.
Polisi menduga tindakan nekat tersebut dipicu oleh konflik keluarga yang telah berlangsung cukup lama.
Rasa cemburu diduga menjadi salah satu faktor utama yang memicu emosi pelaku hingga berujung pada tindakan fatal.
Sri menyebutkan bahwa pelaku merasa kakaknya selalu mendapatkan perhatian lebih dari orang tua, terutama dalam hal pemenuhan keinginan.
“Apa yang diinginkan oleh kakaknya selalu dituruti oleh orang tuanya,” tambahnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa persoalan komunikasi dalam keluarga dapat berkembang menjadi konflik serius jika tidak segera diselesaikan dengan baik.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










