GEBRAKAN SAKTI! Menkeu Purbaya 'Bersihkan' Oknum Pajak dan Bea Cukai: Dari WA Khusus Aduan hingga Pecat Massal

AKURAT BANTEN– Kepercayaan publik terhadap institusi vital negara, khususnya otoritas perpajakan dan bea cukai, tengah diuji.
Merespons tantangan tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, kini tampil sebagai garda terdepan dengan meluncurkan serangkaian kebijakan dan tindakan lapangan yang tegas dan tanpa kompromi demi menertibkan oknum-oknum nakal di Tanah Air.
Setelah serangkaian sidak mendadak ke berbagai sektor otoritas keuangan—mulai dari perbankan, perpajakan, hingga bea cukai—Menkeu Purbaya menyadari bahwa pemulihan kepercayaan hanya bisa diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan sekadar janji.
Saat ditemui di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (13/10/2025), Purbaya bahkan menyoroti betapa sulitnya mendapatkan laporan keuangan yang jujur. "Laporan tuh susah. Kadang-kadang betul, kadang-kadang salah," ungkapnya.
Untuk memangkas birokrasi dan memastikan laporannya sampai, Purbaya melontarkan solusi yang mengejutkan: membuka saluran langsung ke menteri.
Lantas, apa saja gebrakan konkret yang dilakukan Menkeu Purbaya untuk 'membersihkan' oknum dan mengembalikan integritas lembaga? Berikut ulasan selengkapnya:
Baca Juga: Tragedi Fajar di Tol Cipularang KM 77: Daytrans Hantam Truk, 1 Tewas dan 9 Luka!
1. WA Khusus Aduan: Membuka 'Jalur Langsung' ke Menkeu
Menkeu Purbaya resmi memperkenalkan sebuah terobosan komunikasi: Grup WhatsApp Khusus Aduan Masyarakat. Ini adalah cara tercepat masyarakat melaporkan dugaan pelanggaran yang dilakukan oknum Pajak dan Bea Cukai.
Ide ini muncul karena Purbaya banyak menerima keluhan soal sulitnya melapor langsung ke pimpinan. Dengan saluran WA ini, Purbaya menegaskan akses terbuka antara publik dengan dirinya.
"Untuk Bea Cukai dan Pajak, dua nomor handphone, nomor WA terpisah mungkin. Mungkin besok akan saya launch itu," janji Purbaya.
Langkah ini diharapkan dapat mempercepat tindak lanjut kasus pelanggaran, sekaligus menjadikan masyarakat sebagai mata dan telinga kementerian dalam menegakkan aturan.
2. TAK ADA AMPUN! Sinyal Keras untuk Petugas Pajak Nakal
Integritas lembaga adalah harga mati. Menkeu Purbaya mengirimkan sinyal super keras kepada seluruh jajaran Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dengan mendukung penuh pembersihan internal.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, telah mengambil tindakan ekstrem: memecat 26 pegawai yang terbukti menerima uang di luar haknya terhitung sejak Mei 2025.
Purbaya tidak ragu mengomentari tindakan tegas tersebut. "Ya dipecat. Jadi mungkin dia menemukan orang-orang yang menerima uang, yang enggak bisa diampuni lagi, ya dipecat, ya biar aja," tegasnya.
Pesan Purbaya jelas: "Pesannya adalah ke teman-teman pajak yang lain sekarang bukan saatnya main-main lagi." Ketegasan ini merupakan bagian krusial untuk menjaga kepercayaan wajib pajak yang selama ini rentan tercoreng.
Baca Juga: HUT Kabupaten Tangerang Diwarnai Aksi Protes
3. Sidak Tiba-Tiba & Satgas Pemburu Barang Ilegal
Ketegasan Menkeu Purbaya tak hanya di belakang meja. Gebrakan ketiga adalah aksi langsung ke lapangan melalui sidak mendadak.
Beberapa lokasi strategis yang disambangi termasuk Pelabuhan Tanjung Priok dan wilayah Kudus, Jawa Tengah. Tujuannya tunggal: memastikan seluruh petugas Bea Cukai menjalankan prosedur sesuai aturan, terutama dalam pengawasan barang impor dan barang kena cukai.
Peringatan keras juga dilayangkan kepada Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Djaka Budhi Utama, agar tidak memberi ruang sedikit pun bagi importir ilegal.
"Pak Dirjen yang kayak gini-gini gak boleh lepas ya. Kalau orangnya berkeliaran, besok dia impor ilegal lagi," tegas Purbaya di Kudus.
Sebagai tindak lanjut, Kementerian Keuangan bersama Bea Cukai telah membentuk Satuan Tugas Pemberantasan Barang Ilegal dan Barang Kena Cukai Ilegal, yang mulai aktif sejak Juli 2025, menandakan komitmen serius dalam memberantas praktik culas di lapangan.
Melalui tiga gebrakan utama ini—saluran aduan langsung, pemecatan oknum tanpa ampun, dan pengawasan lapangan ketat—Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan bahwa perubahan integritas di otoritas keuangan bukanlah sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang sedang berjalan.
Mampukah langkah-langkah drastis ini mengembalikan citra positif lembaga dan meningkatkan kepatuhan? Waktu yang akan menjawab (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










