Banten

Peneliti Ungkap Rahasia Protein Tau yang Bikin Memori Bertahan Lebih Lama

Riski Endah Setyawati | 26 Mei 2026, 09:48 WIB
Peneliti Ungkap Rahasia Protein Tau yang Bikin Memori Bertahan Lebih Lama
Ilustrasi Otak (Istimewa)

AKURAT BANTEN - Penelitian terbaru membuka fakta menarik mengenai cara otak manusia menyimpan ingatan dalam waktu lama.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications, para ilmuwan menemukan bahwa protein tau memiliki fungsi penting untuk menjaga kestabilan memori agar tidak mudah memudar.

Selama ini, protein tau lebih sering dikaitkan dengan penyakit Alzheimer dan gangguan saraf lainnya.

Baca Juga: Link Pendaftaran Sekolah Maung 2026 Resmi Dibuka, Begini Cara Daftar dan Syarat Lengkapnya

Namun penelitian tersebut memperlihatkan sisi lain dari protein ini yang ternyata sangat dibutuhkan otak dalam proses mempertahankan ingatan.

Tim peneliti menjelaskan bahwa protein tau tidak berperan besar saat seseorang pertama kali belajar sesuatu atau ketika membentuk memori jangka pendek.

“Tanpa protein tau, memori tetap dapat terbentuk, namun menjadi lebih lemah dan tidak bertahan lama,” ujar Arne Ittner dari Universitas Flinders.

Baca Juga: Megawati Tegaskan Dukungan untuk Palestina Saat Bertemu Dubes Abdalfatah Alsattari di Menteng

Temuan itu memperlihatkan bahwa tau bekerja pada tahap berbeda dalam proses memori.

Protein tersebut lebih berperan dalam memperkuat serta menjaga ingatan agar tetap tersimpan dalam jangka panjang.

Para peneliti melakukan pengujian menggunakan model tikus untuk memahami bagaimana tau bekerja di dalam otak.

Baca Juga: Babak Akhir Kasus Ijazah Jokowi: Dr. Tifa dan Roy Suryo di Ujung Tanduk! Akankah Dipenjara?

Hasilnya menunjukkan bahwa protein tau membantu mengatur aktivitas “sel engram”.

Sel engram sendiri merupakan kelompok neuron khusus yang bertugas membentuk jejak fisik sebuah memori di otak.

Neuron-neuron itu dapat diibaratkan sebagai tempat penyimpanan pengalaman dan informasi yang pernah dialami seseorang.

Dalam proses tersebut, tau membantu menentukan neuron mana yang dipilih untuk menyimpan suatu ingatan.

Baca Juga: Link Pendaftaran Sekolah Maung 2026 Resmi Dibuka, Begini Cara Daftar dan Syarat Lengkapnya

Peran itu terjadi pada fase penting pengodean memori, yakni saat otak mulai merekam informasi baru.

Bukan hanya itu, protein tau juga diketahui mampu mengurangi aktivitas berlebihan di otak yang disebut sebagai “kebisingan” saraf.

Ketika aktivitas neuron terlalu ramai dan tidak terkendali, proses penyimpanan memori bisa menjadi kurang efektif.

Tau membantu menjaga agar hanya neuron tertentu saja yang aktif untuk menyimpan informasi.

Baca Juga: Megawati Tegaskan Dukungan untuk Palestina Saat Bertemu Dubes Abdalfatah Alsattari di Menteng

Dengan cara tersebut, memori yang terbentuk menjadi lebih jelas, lebih rapi, dan lebih stabil dalam jangka panjang.

Penelitian ini juga menemukan adanya proses kimia penting bernama fosforilasi tau.

Fosforilasi merupakan perubahan kimia halus yang membantu mengatur aktivitas protein tau di dalam otak.

Dalam kondisi normal, proses tersebut ternyata sangat dibutuhkan agar sistem memori dapat bekerja dengan baik.

Baca Juga: Link Pendaftaran Sekolah Maung 2026 Resmi Dibuka, Begini Cara Daftar dan Syarat Lengkapnya

Temuan ini cukup menarik karena fosforilasi tau selama ini dikenal sebagai salah satu tanda utama penyakit Alzheimer.

Akan tetapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa fosforilasi dalam kadar rendah dan terkontrol justru memiliki fungsi penting untuk menjaga kesehatan otak.

Para peneliti menilai masalah mulai muncul ketika proses fosforilasi terjadi secara abnormal dan tidak terkendali.

Bentuk tau yang berhubungan dengan penyakit diketahui dapat menghambat pembentukan memori baru.

Baca Juga: Megawati Tegaskan Dukungan untuk Palestina Saat Bertemu Dubes Abdalfatah Alsattari di Menteng

Tak hanya itu, kemampuan otak untuk memanggil kembali ingatan lama juga ikut terganggu.

Kondisi tersebut diduga menjadi salah satu penyebab utama hilangnya memori pada penderita demensia.

Penelitian ini memberikan sudut pandang baru bahwa gangguan ingatan bukan hanya disebabkan oleh hilangnya penyimpanan memori.

Masalahnya juga bisa muncul karena otak kesulitan mengatur dan memanggil kembali informasi yang sebenarnya masih tersimpan.

Temuan tersebut dinilai penting karena dapat membuka peluang baru dalam pengembangan terapi penyakit Alzheimer di masa depan.

Baca Juga: Link Pendaftaran Sekolah Maung 2026 Resmi Dibuka, Begini Cara Daftar dan Syarat Lengkapnya

Para ilmuwan berharap pemahaman lebih dalam mengenai protein tau dapat membantu menciptakan metode pengobatan yang lebih efektif.

Dengan semakin banyaknya penelitian tentang mekanisme memori di otak, peluang menemukan cara untuk memperlambat penurunan fungsi kognitif pun menjadi semakin besar.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.