Banten

PDIP Terkekeh soal Jokowi Injak Kepala Kerbau: Lambang Kami Banteng, Bukan Kerbau

Cristina Malonda | 29 Juni 2026, 14:01 WIB
PDIP Terkekeh soal Jokowi Injak Kepala Kerbau: Lambang Kami Banteng, Bukan Kerbau
PDIP Terkekeh soal Jokowi Injak Kepala Kerbau: Lambang Kami Banteng, Bukan Kerbau (foto: istimewa)

AKURAT BANTEN – Prosesi adat yang dijalani Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat berkunjung ke Lampung menjadi sorotan publik.

Salah satu rangkaian acara yang memperlihatkan Jokowi menginjak kepala kerbau dalam ritual adat viral di media sosial dan memicu beragam tanggapan, termasuk dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Dalam video yang beredar luas, Jokowi terlihat mengikuti prosesi adat dengan menginjak kepala kerbau yang telah diletakkan di atas karpet merah. Momen tersebut kemudian memunculkan berbagai spekulasi dan perbincangan di ruang publik.

Baca Juga: Hari Ini Roy Suryo Hadapi Polda Metro Jaya di Sidang Praperadilan, Gugatan Resmi Mulai Disidangkan

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira mengaku tidak mengetahui secara rinci makna prosesi adat tersebut. Menurutnya, ia tidak memiliki kapasitas untuk menafsirkan tradisi masyarakat Lampung, termasuk ritual yang melibatkan kepala kerbau.

Namun, Andreas menanggapi santai jika ada pihak yang mengaitkan prosesi tersebut dengan simbol Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Ia menegaskan bahwa lambang resmi PDIP bukanlah kerbau, melainkan banteng bermoncong putih.

"Kalau ada yang menafsirkan menginjak kepala kerbau sebagai simbol menghina PDI Perjuangan, itu keliru. Lambang PDI Perjuangan adalah banteng moncong putih, bukan kepala kerbau," ujarnya kepada wartawan.

Baca Juga: Said Didu Lempar Isu Mengejutkan, Prabowo Disebut Hanya Menjabat 2 Tahun, Lalu Digantikan Gibran?

Soroti Pemberian Gelar Adat kepada Jokowi

Selain menanggapi prosesi injak kepala kerbau, Andreas juga menyoroti pemberian gelar adat kepada Jokowi dalam kunjungan tersebut.

Menurutnya, seorang mantan presiden yang pernah menjadi simbol persatuan bangsa semestinya tidak lagi mengejar pengakuan dalam bentuk gelar adat di tingkat daerah.

Ia menilai figur yang pernah menduduki jabatan kepala negara seharusnya lebih identik dengan penghormatan berskala nasional maupun internasional dibandingkan seremoni yang bersifat lokal.

Baca Juga: Eko Kuntadhi Lempar Prediksi Mengejutkan, Pilpres 2029 Disebut Bisa Tak Digelar

Sebut Jokowi Masih "Main di Level Lokal"

Andreas bahkan melontarkan sindiran bahwa Jokowi seharusnya sudah berada pada level yang lebih tinggi setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden.

Ia berpendapat publik akan lebih mengapresiasi apabila Jokowi memperoleh penghargaan akademik atau pengakuan dari lembaga internasional.

Menurut Andreas, mantan kepala negara seharusnya tidak lagi berkutat pada aktivitas yang dinilainya bersifat lokal. Ia pun mempertanyakan tujuan Jokowi menerima berbagai penghormatan adat di daerah.

Pernyataan tersebut menambah panjang polemik yang muncul setelah prosesi adat Jokowi di Lampung viral di media sosial dan menjadi bahan perbincangan publik. ***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.