BRIN Ungkap Alasan Dataran Tinggi Dieng Cocok untuk 3 Kali Masa Tanam, Ini Penjelasannya

AKURAT BANTEN - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aris Pramudia, menyampaikan bahwa Dataran Tinggi Dieng memiliki iklim sedang dengan curah hujan yang tinggi serta berada pada ketinggian sekitar 1.200-1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Kondisi tersebut dinilai sangat mendukung pengembangan sektor pertanian, termasuk peluang melakukan budidaya hingga tiga kali masa tanam dalam setahun dengan komoditas sayuran maupun tanaman perkebunan khas dataran tinggi.
Pernyataan tersebut disampaikan Aris saat mempresentasikan materi mengenai karakteristik agroklimat dan potensi pertanian di kawasan Dieng-Cartenz dalam Webinar Series ORKM bertema “Urgensi Mempertahankan Salju Dieng-Cartenz sebagai Indikator Ekosistem & Lingkungan”, Kamis (9/7).
Menurut Aris, Dataran Tinggi Dieng berada di wilayah Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo.
Baca Juga: Fenomena Embun Upas Dieng Kembali Terjadi, Faktor Penyebabnya Terungkap
Kawasan ini memiliki bentang alam yang didominasi oleh area pertanian serta hutan yang masih cukup luas.
Di sisi lain, Cartenz berada di Papua Tengah, tepatnya di Pegunungan Jayawijaya yang berdekatan dengan Puncak Jaya.
Wilayah ini memiliki ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut dengan permukaan yang sebagian besar berupa batuan.
Aris menjelaskan bahwa pola curah hujan di Dataran Tinggi Dieng termasuk tipe monsunal, yakni memiliki perbedaan yang tegas antara musim penghujan dan musim kemarau.
Baca Juga: Reaktor Nuklir TRIGA 2000 Bandung Kembali Aktif, Begini Peran Strategisnya bagi Indonesia
Curah hujan tahunannya mencapai 3.644 mm dengan delapan bulan basah dan tiga bulan kering.
“Periode kering dengan intensitas kurang dari 50 mm per sepuluh hari terjadi selama 11 dasarian,” terang Aris.
Berbeda dengan Dieng, pola curah hujan di Cartenz bersifat multi-pattern karena mengalami fluktuasi antara kondisi basah dan kering lebih dari tiga kali dalam setahun.
Curah hujan tahunannya mencapai 2.762 mm, memiliki lebih dari sembilan bulan basah, serta tidak mengalami bulan kering.
“Tetapi dia mengalami periode kering dengan intensitas kurang dari 50 mm per sepuluh hari atau per dasarian, selama 20 hari atau dua dasarian,” tuturnya.
Lebih lanjut, Aris mengatakan bahwa potensi pertanian suatu wilayah dapat dianalisis menggunakan sejumlah metode, salah satunya melalui pendekatan klasifikasi iklim J.W. Junghuhn yang mengelompokkan wilayah berdasarkan ketinggian tempat dan suhu udara.
Klasifikasi Junghuhn membagi wilayah sesuai elevasi serta jenis tanaman yang sesuai untuk dibudidayakan.
Pada zona iklim panas dengan ketinggian 0-600 mdpl, komoditas yang cocok meliputi kelapa, karet, tebu, padi, jagung, tembakau, dan cokelat.
Sementara itu, zona iklim sedang pada ketinggian 600-1.500 mdpl sesuai untuk teh, stroberi, kol, sawi, dan selada.
Kemudian, zona iklim sejuk di ketinggian 1.600-2.000 mdpl mendukung pengembangan sayuran, hutan tanaman industri, kopi, teh, dan kina.
Adapun pada zona iklim dingin di atas 2.500 mdpl, hampir tidak ada tanaman budidaya yang mampu tumbuh, kecuali vegetasi seperti lumut dan paku.
Selain itu, Aris juga mengutip hasil penelitian terdahulu mengenai analisis potensi pertanian berdasarkan atlas klasifikasi sumber daya agroklimat.
Pada wilayah dengan suhu rata-rata 22,4-26 derajat Celsius, komoditas yang direkomendasikan meliputi tanaman sereal, kacang-kacangan, buah-buahan, serta tanaman perkebunan dataran rendah.
Sedangkan wilayah bersuhu rata-rata 18,1-22,4 derajat Celsius cocok untuk sereal, kacang-kacangan, karet, dan tanaman perkebunan dataran tinggi.
Sementara itu, daerah dengan suhu rata-rata 13-18,1 derajat Celsius memiliki potensi untuk pengembangan sayuran dataran tinggi, tanaman perkebunan dataran tinggi, dan tanaman asli.
Sedangkan wilayah dengan suhu rata-rata di bawah 13 derajat Celsius lebih sesuai untuk mempertahankan tanaman asli.
“Pada atlas, klasifikasi sumber daya agroklimat juga terdapat klasifikasi berdasar curah hujan tahunan, termasuk bulan kering dan bulan basahnya, untuk potensi budi daya pertanian dan pilihan atau variasi alternatif dari pola tanam,” tegasnya.
Berdasarkan berbagai parameter tersebut, Aris menegaskan bahwa Dataran Tinggi Dieng dengan iklim sedang, curah hujan tinggi, dan ketinggian 1.200-1.500 mdpl mempunyai peluang besar untuk menerapkan sistem budi daya pertanian hingga tiga kali tanam dalam setahun, terutama untuk komoditas sayuran serta tanaman perkebunan dataran tinggi.
Ia juga menjelaskan adanya pendekatan lain, yakni pewilayahan komoditas berbasis zona agroekologi yang mempertimbangkan kemiringan lereng serta jenis tanah sebagai dasar penentuan pemanfaatan lahan.
“Kalau lerengnya terjal di atas 40 persen, maka jangan ditanami, tetapi dibiarkan tumbuh vegetasi alami sebagai lahan konservasi. Jika lerengnya antara 16-40 persen, bisa untuk perkebunan,” terang Aris.
"Sementara itu, apabila kemiringan lereng berada pada kisaran 8–15 persen, lahan dapat dimanfaatkan untuk sistem wanatani atau agroforestri yang menggabungkan tanaman pertanian maupun perkebunan dengan pohon berkayu dalam satu kawasan. Sedangkan lahan dengan kemiringan kurang dari 8 persen atau relatif datar sangat sesuai dijadikan lahan pertanian kering maupun pertanian basah,” pungkasnya.
Pada akhir pemaparannya, Aris turut menjelaskan hasil kajiannya mengenai potensi pertanian yang dianalisis berdasarkan kebutuhan suhu optimal setiap tanaman, serta penilaian yang mempertimbangkan ordo dan tingkat kerapatan jaringan sungai.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”









