Proyek Ambisius PSEL Tangsel: Megah di Kertas, Realistis di Lapangan? WALHI Peringatkan Potensi Jebakan Finansial!

AKURAT BANTEN– Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) di Tangerang Selatan kembali menjadi sorotan.
Proyek yang digadang-gadang mampu mengolah 1.100 ton sampah per hari ini memang terdengar menjanjikan.
Namun, di balik ambisinya, muncul keraguan serius dari berbagai pihak, salah satunya Wahana Lingkungan Hidup (Walhi).
Baca Juga: AWAS KETIPU! Diskon Listrik 50 Persen Kembali, Hanya Golongan Ini yang Nikmati Potongan Harga!
Manajer Kampanye Tata Ruang dan Infrastruktur Walhi, Dwi Sawung, terang-terangan menilai proyek PSEL Tangsel tidak realistis.
Kekhawatiran Sawung berpangkal pada dua isu krusial: kemampuan finansial APBD Tangsel dan potensi pembengkakan biaya akibat sampah yang tidak terpilah.
Mungkinkah APBD Tangsel Menanggung Beban Jumbo Proyek PSEL?
Sawung menyoroti bahwa biaya pengolahan sampah per ton di seluruh dunia rata-rata di atas Rp 500 ribu.
Baca Juga: Kabar Duka Selimuti Kristina: Ayahanda Tercinta Berpulang di Usia 85 Tahun
Angka terendah pun, kata dia, sekitar $36 per ton. Angka ini jelas bukan main-main.
"Kami lihat APBD-nya saja lah, sanggup enggak sih dia membiayai itu?" kata Sawung, hari Senin (26/5/2025).
Ia menambahkan bahwa PSEL di Solo bisa berjalan karena adanya bantuan dari pemerintah pusat.
Ini mengisyaratkan bahwa tanpa dukungan serupa, beban finansial PSEL Tangsel bisa jadi terlalu berat untuk APBD kota.
Baca Juga: Lepas Pampers Tanpa Drama, 3 Trik Efektif Ajari Anak Buang Air di Toilet
Yang menarik, Sawung menegaskan bahwa penjualan listrik dari PSEL hanya bisa dianggap sebagai bonus, bukan sumber pendapatan utama atau pengurang biaya yang signifikan.
"Jadi kalau mengharapkan dari sana menjual listrik dan jadi keuntungan yang bisa digunakan mengurangi biaya itu tidak realistis," tegasnya.
Artinya, keuntungan dari penjualan listrik tidak akan cukup untuk menutupi biaya operasional pengolahan sampah yang membengkak.
Baca Juga: Investor Asing Masuk IKN, Konsorsium AS-Korsel Siap Bangun Puluhan Rusun Lewat Skema KPBU
Ancaman Sampah Tak Terpilah: Resep Ampuh untuk Biaya yang Meledak?
Persoalan lain yang disoroti Walhi adalah kondisi sampah yang tidak terpilah. Menurut Sawung, PSEL sangat bergantung pada pasokan sampah yang sudah terpilah dengan baik.
Ironisnya, kondisi di lapangan seringkali jauh panggang dari api.
"Apalagi kalau kita tumpukannya tercampur, segala macam ada sebetulnya membuat menjadi mahal dan susah juga," ungkap Sawung.
Baca Juga: TPUA Tolak Hasil Uji Ijazah Jokowi, Desak Gelar Perkara Ulang Secara Transparan
Sampah yang tercampur memerlukan proses sortir tambahan, yang tentu saja akan menambah biaya dan membutuhkan kapasitas ekstra.
Bayangkan saja, jika sampah 1.100 ton per hari yang masuk ke PSEL tidak terpilah, ini berarti ada biaya tambahan besar untuk proses penyortiran sebelum masuk ke mesin.
Proses ini tidak hanya mahal, tapi juga memiliki batas kapasitas. Jika volume sampah tak terpilah terlalu besar, operasional PSEL bisa terhambat, bahkan menimbulkan masalah baru.
Baca Juga: Danantara Dapat 4 Investor China, RI Kian Dilirik Jadi Markas Baru Industri EV
Ambisi Pemkot Tangsel: Olah 1.100 Ton Sampah, Bisakah Terwujud Tanpa Jadi Beban?
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, menjelaskan bahwa PSEL ini akan dibangun di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Proyek ini ditargetkan mampu mengolah 1.100 ton sampah per hari, yang terdiri dari 1.000 ton sampah baru dan 100 ton sampah lama.
Target ambisius ini tentu patut diapresiasi, mengingat masalah sampah adalah momok besar bagi kota-kota besar.
Baca Juga: Puan Desak Pemerintah Tindak Tegas Ormas Preman: Jangan Ragu, Bubarin Aja!
Namun, penilaian kritis dari Walhi ini patut menjadi pertimbangan serius. Apakah Pemkot Tangsel sudah memiliki skema pembiayaan yang matang dan strategi penanganan sampah terpilah yang efektif agar proyek PSEL
ini tidak menjadi "gajah putih" yang membebani APBD dan masyarakat?
Masa depan pengelolaan sampah di Tangerang Selatan kini berada di persimpangan jalan.
Antara harapan akan solusi revolusioner atau potensi masalah finansial yang baru. (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










