Banten

Bukan Soal Makanan, Ini Alasan Istana Tolak Mentah Usulan DPR Ganti MBG Jadi Uang Tunai!

Saeful Anwar | 22 September 2025, 10:48 WIB
Bukan Soal Makanan, Ini Alasan Istana Tolak Mentah Usulan DPR Ganti MBG Jadi Uang Tunai!

AKURAT BANTEN-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi oleh pemerintah telah menjadi topik hangat yang terus diperbincangkan publik.

Sejumlah kendala di lapangan, seperti masalah distribusi dan kualitas makanan, memicu perdebatan sengit.

Dari isu-isu tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun mengusulkan sebuah alternatif: mengganti skema MBG menjadi bantuan uang tunai.

Namun, usulan ini langsung mendapat tanggapan tegas dari Istana. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyebut bahwa saat ini pemerintah masih menganggap skema makanan siap saji sebagai pilihan terbaik.

Lantas, apa alasan utama Istana bersikukuh pada skema awal dan menolak usulan uang tunai?

Baca Juga: Darurat Agraria! Petani Turun Ke Jalan Tagih Asta Cita Hingga Nekat Cor Badan di Depan Istana, Ada Apa?

Argumen DPR

Usulan DPR untuk mengganti program MBG dengan uang tunai didasarkan pada argumen yang cukup kuat. Skema ini dianggap bisa memangkas birokrasi dan biaya distribusi yang rumit.

Dengan memberikan uang tunai langsung kepada orang tua atau wali murid, mereka bisa lebih fleksibel dalam memilih jenis makanan yang disukai anak, atau bahkan menggunakannya untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak.

Beberapa pihak juga berpendapat bahwa bantuan uang tunai akan mendorong perekonomian lokal karena orang tua dapat berbelanja di warung-warung atau pasar terdekat, bukan hanya bergantung pada satu penyedia katering besar.

Baca Juga: Indonesia Posisi Kedua! Ternyata Ini 10 Negara Paling 'Gila' Makan Mie Instan

Makanan Siap Saji Tetap Pilihan Terbaik

Meskipun usulan DPR terdengar logis, pemerintah melalui Mensesneg Prasetyo Hadi memiliki pandangan berbeda.

Ada beberapa alasan kuat mengapa Istana tetap mempertahankan skema makanan siap saji:

Kendali Gizi Terjamin. Alasan utama yang ditekankan oleh pemerintah adalah aspek kendali gizi.

Dengan skema makanan siap saji, pemerintah dapat memastikan bahwa setiap porsi yang diberikan memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan.

Jika diganti dengan uang tunai, tidak ada jaminan bahwa uang tersebut akan digunakan untuk membeli makanan bergizi, melainkan bisa jadi untuk kebutuhan lain yang kurang penting.

Ini berpotensi menyimpang dari tujuan utama program, yaitu memperbaiki nutrisi anak-anak.

Pemerataan Akses. Skema ini dirancang untuk memastikan bahwa seluruh anak sekolah mendapatkan akses yang sama terhadap makanan bergizi, terutama di daerah-daerah terpencil.

Mengandalkan uang tunai berisiko menciptakan ketidaksetaraan, di mana anak-anak dari keluarga miskin mungkin tidak mendapatkan manfaat optimal.

Baca Juga: Indonesia Hadapi Maraton Diplomasi, 200 Pertemuan Bilateral Digelar di Sidang Umum PBB

Meminimalisir Penyalahgunaan. Bantuan uang tunai memiliki risiko tinggi untuk disalahgunakan.

Tanpa pengawasan ketat, uang tersebut bisa saja tidak sampai ke tangan yang seharusnya, atau digunakan untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kesejahteraan anak.

Prasetyo Hadi menegaskan, konsep sekarang adalah yang terbaik karena fokus pada tujuan utama: memastikan anak-anak mendapatkan makanan yang bergizi dan sehat secara langsung.

Ia juga menambahkan bahwa pemerintah akan terus melakukan perbaikan agar program ini berjalan lebih efektif.

Prasetyo menilai, konsep ini sudah mempertimbangkan aspek pemerataan dan kendali gizi anak-anak sekolah.

“Kita terus perbaiki, karena tujuannya agar anak-anak tetap mendapatkan makanan bergizi dan sehat,” pungkasnya

Baca Juga: Tirta Kerta Raharja Umbar Janji, Warga Taman Kota Permai Masih Krisis Air

Masa Depan Program MBG

Perdebatan antara skema makanan siap saji dan uang tunai mencerminkan tantangan besar dalam implementasi kebijakan publik.

Di satu sisi, ada kebutuhan akan efisiensi dan fleksibilitas. Di sisi lain, ada urgensi untuk memastikan bahwa tujuan program, yaitu perbaikan gizi, benar-benar tercapai.

Meskipun pemerintah tetap pada pendiriannya, tidak menutup kemungkinan adanya modifikasi di masa depan. Pihak Istana sendiri menyatakan akan terus mengevaluasi dan memperbaiki pelaksanaan program ini (**) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman