Banten

BONGKAR! Jurang Perbedaan Menu Makan Bergizi Gratis: Mewah ala Sukabumi vs Minimalis ala Depok!

Saeful Anwar | 15 Oktober 2025, 16:25 WIB
BONGKAR! Jurang Perbedaan Menu Makan Bergizi Gratis: Mewah ala Sukabumi vs Minimalis ala Depok!

 

AKURAT BANTEN-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjadi program unggulan yang paling dinantikan, namun implementasinya di lapangan kini menjadi sorotan tajam publik.

Perbincangan memanas, khususnya terkait variasi menu yang disajikan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Kontras yang mencolok—antara sajian 'restoran' yang menggugah selera di satu tempat dan menu 'minimalis' di tempat lain—mencuatkan pertanyaan kritis: Apakah standar kualitas gizi dan penyajian sudah merata?

 Baca Juga: Indonesia Dilanda Kemarau Ekstrem, Ini Ikhtiar Spiritual Umat Islam, Tata Cara Shalat Istisqa' Mohon Hujan Berkah

Hitungan Anggaran 10.000: Klaim Kecukupan Lauk Ayam!

Di tengah kehebohan perbandingan menu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, tampil untuk meredam kekhawatiran. Nanik memastikan bahwa alokasi anggaran Rp10.000 per porsi Program MBG sudah terhitung cukup untuk menghadirkan lauk utama seperti ayam hingga telur.

Bahkan, Nanik mengungkapkan bahwa hitungan ini berasal langsung dari pucuk pimpinan.

“Pak Prabowo sampai menghitung sendiri menu itu, dan beliau berkesimpulan dengan Rp 10.000 itu masih bisa pakai ayam dan telur,” ujar Nanik dalam Rapat Koordinasi Kejadian Menonjol BGN di Jakarta, pada Selasa, 14 Oktober 2025.

Pernyataan ini muncul persis di momen viralnya perbandingan menu MBG yang ramai dibahas di media sosial.

Sorotan ini menuntut pembuktian di lapangan: seberapa jauh janji 'ayam dan telur' bisa ditepati dengan anggaran yang ada?

 Baca Juga: GEGARA APBN! Atalia Praratya Diserbu Santri di Rumah Pribadi: Tuntut Pemecatan karena Dinilai 'MELUKAI' Hati Korban Bencana!

Kontras Visual yang Mengguncang: Sukabumi Tampil "All-Out," Depok Sederhana

Dilema kualitas menu MBG terekam jelas dari dua unggahan yang viral dan menjadi perbincangan warganet:

 

Sukabumi: Menu Penuh Warna dan Gizi Tinggi

Aroma masakan rumahan yang terjamin kualitasnya menyeruak dari dapur besar SPPG Cikaret di Desa Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi.

Foto-foto dari dapur ini menjadi role model yang menunjukkan potensi maksimal program MBG.

Dalam unggahan akun Instagram @folkative pada Sabtu, 11 Oktober 2025, diperlihatkan deretan menu harian MBG yang tersaji rapi, penuh warna, dan layaknya catering premium.

Tampak dalam sajian Sukabumi:

  • Nasi hangat.
  • Lauk Ayam Goreng yang utuh.
  • Telur Rebus.
  • Sayuran tumis (pelengkap serat).
  • Potongan Buah Segar.

Penyajian yang tertata apik dan dinilai tinggi gizinya ini membuat warganet ramai memuji upaya dapur Sukabumi yang dianggap berhasil menghadirkan standar ideal Program MBG sesuai harapan publik.

Depok: Menu Minimalis Hanya Kentang dan Pangsit

Sementara Sukabumi memamerkan sajian all-out, cerita berbeda datang dari Depok yang sempat memicu keheranan publik.

Hal ini terkuak dalam unggahan akun Instagram @depokfeed pada Senin, 6 Oktober 2025, yang menampilkan menu MBG di salah satu sekolah dasar negeri di Mampang.

Tampak dalam sajian Depok:

  • Potongan Kentang Rebus (sebagai sumber karbohidrat).
  • Wortel (sebagai sayuran).
  • Pangsit Goreng.
  • Saus saset.
  • Jeruk.

Baca Juga: 3 Miliar Pengguna! Instagram 'Gila-Gilaan' Tambah 1 Miliar Orang dalam 2 Tahun, Ini Dua Rahasia Meta Menjegal TikTok

Menu tersebut dinilai sangat minimalis dan tampak sederhana, dengan absennya lauk protein hewani yang menjadi fokus utama dalam klaim anggaran Rp10.000 (ayam atau telur).

Meski pihak terkait mengklaim kandungan gizi tetap terjaga, variasi menu yang kontras ini memicu pertanyaan kritis:

Mengapa disparitas kualitas ini bisa terjadi? Apakah efisiensi dan transparansi anggaran berjalan berbeda di setiap daerah?

Perbedaan kontras antara menu mewah ala Sukabumi dan menu minimalis di Depok menjadi PR besar bagi Badan Gizi Nasional.

Kualitas menu yang tidak merata ini berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap program yang seharusnya memastikan pemenuhan gizi anak-anak secara adil dan merata di seluruh Indonesia(**) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman